Pendidikan di Kota Bitung Memasuki Fase AI, Dinas Kominfo Latih Guru Buat Konten Pembelajaran

Franky Sumaraw • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 20:27 WIB
Kepala Dinas Kominfo Kota Bitung Altin Tumengkol membawakan materi pelatihan pemanfaatan AI.(Dok Istimewa)
Kepala Dinas Kominfo Kota Bitung Altin Tumengkol membawakan materi pelatihan pemanfaatan AI.(Dok Istimewa)

MANADOPOST.ID–Pendidikan di Kota Bitung kini memasuki fase baru. Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, mulai diarahkan untuk mendukung proses pembelajaran di sekolah, sekaligus memperkuat langkah Kota Bitung menuju smart city.

Bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, penerapan AI tersebut mulai diterjemahkan dalam bentuk pelatihan bagi para guru.

Mereka didorong untuk mampu membuat konten pendidikan berbasis digital, yang nantinya dapat menjadi media pendukung dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Bitung Altin Tumengkol SIP MSi mengatakan, pihaknya mendapat kepercayaan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bitung untuk menjadi narasumber dalam kegiatan pengembangan konten AI.

“Dinas Kominfo diminta jadi narasumber oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bitung untuk pengembangan konten AI.

Pelatihan tersebut sudah dilaksanakan beberapa hari lalu yang diikuti oleh guru-guru SD se-Kota Bitung,” jelas Altin, Senin (14/9/2026).

Tidak berhenti pada jenjang SD, program tersebut akan dilanjutkan kepada guru-guru SMP.

Altin menyebut, pelatihan untuk guru SMP direncanakan berlangsung pekan depan.

Dengan demikian, pengenalan dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dalam pendidikan, mulai diperluas secara bertahap pada berbagai jenjang pendidikan di Kota Bitung.

Menurut Altin, pemanfaatan AI dalam pendidikan tidak dimaksudkan untuk menggantikan guru.

Justru, teknologi ditempatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat proses belajar mengajar.

Peran guru tetap menjadi bagian penting. AI digunakan untuk membantu guru mengembangkan materi dan konten pembelajaran yang lebih menarik, sehingga peserta didik memiliki cara lain untuk memahami pelajaran yang diberikan di sekolah.

“Guru-guru dilatih membuat konten-konten pendidikan guna mempermudah peserta didik menerima mata pelajaran di sekolah. Tentunya dengan tidak mengesampingkan cara belajar siswa aktif,” ujarnya.

Konsep pembelajaran berbasis konten digital ini juga memberi keuntungan lain.

Materi yang dibuat guru dapat didokumentasikan dan dimanfaatkan kembali oleh siswa ketika berada di luar sekolah.

Artinya, proses belajar tidak harus berhenti ketika bel sekolah berbunyi. Siswa dapat kembali mempelajari materi yang telah diberikan melalui dokumentasi digital, termasuk ketika berada di rumah.

Dalam konteks tersebut, orang tua juga memiliki ruang lebih besar untuk mendampingi proses belajar anak.

Konten pendidikan yang tersedia secara digital, dapat menjadi bahan bagi orang tua untuk membantu anak memahami kembali pelajaran yang diperoleh di sekolah.

Pendekatan ini sekaligus membuka kemungkinan terciptanya ekosistem belajar yang lebih luas.

Lingkungan keluarga dan masyarakat dapat ikut mengambil bagian dalam mendukung proses pendidikan, tanpa menghilangkan peran sekolah sebagai ruang utama pembelajaran.

Altin menekankan, transformasi digital di sektor pendidikan tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah.

Dibutuhkan kolaborasi antara guru, orang tua, masyarakat dan seluruh stakeholder pendidikan.

“Upaya ini tentunya perlu dukungan stakeholder pendidikan, orang tua dan tokoh masyarakat atas kebijakan yang dilakukan Pemkot Bitung,” katanya.(fys)

Editor : Franky Sumaraw
pelatihan Kota Bitung Altin Tumengkol Smart City AI