MANADOPOST.ID–Kemarau panjang mulai memberi tekanan serius terhadap salah satu sumber air penting bagi pelayanan masyarakat Kota Bitung.
Debit air di sumber mata air Danowudu mengalami penurunan cukup drastis, bahkan disebut mencapai sekitar 60 persen dibandingkan kondisi sebelumnya.
Di tengah kondisi tersebut, jajaran Perumda Air Minum Duasudara Kota Bitung tidak hanya melakukan pemantauan dan langkah teknis, tetapi juga memanjatkan doa bersama di lokasi sumber mata air Danowudu, Selasa (6/10/2026).
Doa dipimpin langsung Direktur Perumda Air Minum Duasudara, Alfred Salindeho SE MM, yang diawali dengan bernyanyi sebuah lagu berjudul Bersyukur Kepada Tuhan.
Bagi jajaran Perumda, doa menjadi bagian dari refleksi di tengah kondisi alam yang berada di luar kendali manusia.
Direktur Alfred mengatakan, air merupakan anugerah sekaligus milik Tuhan.
Karena itu, ketika kemarau panjang berdampak terhadap ketersediaan air, manusia tetap harus melakukan berbagai upaya teknis, namun tidak melupakan doa.
“Karena kita tahu bahwa air adalah milik Tuhan. Jadi dalam kondisi kemarau saat ini, tentu sebagai umat yang percaya kita wajib memanjatkan doa,” ujarnya.
Ia mengatakan, kondisi mata air Danowudu saat ini memang menjadi perhatian serius Perumda Air Minum Duasudara.
Berdasarkan pemantauan terbaru, debit air di sumber tersebut mengalami penurunan hingga sekitar 60 persen akibat fenomena alam El Nino.
Penurunan itu terlihat dari kondisi ketinggian air. Jika sebelumnya berada di kisaran 35 sentimeter, kini berdasarkan pemantauan terbaru hanya tersisa sekitar 17 sentimeter.
Kondisi tersebut secara langsung berpengaruh terhadap sistem pelayanan air bersih kepada masyarakat.
Mata air Danowudu merupakan salah satu sumber penting dalam sistem pelayanan Perumda Air Minum Duasudara dan menopang kebutuhan sekitar 5.000 pelanggan.
Dengan debit yang terus menurun, tekanan air di sejumlah wilayah pelayanan berpotensi ikut melemah.
Bahkan, apabila kondisi sumber terus menurun, gangguan suplai air dapat dirasakan pelanggan di wilayah tertentu.
Direktur Alfred meminta masyarakat memahami kondisi tersebut. Ia menjelaskan, apabila tekanan air di rumah pelanggan menjadi lebih kecil dari biasanya, hal itu berkaitan erat dengan kondisi alam akibat kemarau panjang.
“Jadi jika tekanan air menjadi pelan, itu akibat kondisi alam karena kemarau panjang,” ujarnya.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat, terutama pelanggan yang mendapatkan suplai dari sumber Danowudu, untuk menghemat penggunaan air selama kemarau masih berlangsung.
Menurutnya, penghematan air merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan bersama untuk menjaga ketersediaan air yang tersisa.
Di sisi lain, Perumda Air Minum Duasudara tetap melakukan berbagai langkah teknis untuk menjaga pelayanan kepada pelanggan.
Direktur Alfred menegaskan, jajaran Perumda akan terus berusaha semaksimal mungkin menghadapi kondisi tersebut. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kemampuan manusia memiliki batas.
“Kita sebagai manusia hanya bisa berharap. Semua hak dan otoritas ada pada Yang Maha Kuasa,” ungkapnya.
Karena itu, doa bersama di sumber mata air Danowudu bukan dimaksudkan menggantikan upaya teknis, melainkan menjadi bagian dari ikhtiar dan refleksi jajaran Perumda dalam menghadapi situasi yang dipengaruhi kondisi alam.
Perumda juga menyiapkan langkah antisipasi apabila penurunan debit semakin berdampak terhadap pelayanan masyarakat.
Salah satunya dengan menyiapkan mobil tangki air untuk membantu pelanggan yang mengalami gangguan pasokan air bersih.
“Kami juga akan menyiapkan mobil tangki air bagi masyarakat yang mengalami gangguan pasokan air,” katanya.
Kondisi Danowudu menjadi pengingat bahwa ketersediaan air sangat bergantung pada kondisi alam.
Bagi Perumda Air Minum Duasudara, langkah menghadapi kondisi tersebut berjalan dalam dua sisi, yakni ikhtiar teknis untuk menjaga pelayanan dan doa sebagai bentuk pengakuan bahwa air merupakan anugerah Tuhan.
Sementara bagi masyarakat, penghematan penggunaan air menjadi salah satu bentuk dukungan paling nyata agar sumber yang tersisa dapat dimanfaatkan secara optimal hingga kondisi kembali normal.(fys)
Editor : Franky Sumaraw