10 JADI "ANGKA KERAMAT" KOTA BITUNG? (Sepenggal kisah yang tak pernah diekspose)

Franky Sumaraw • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:55 WIB
Mendagri Rudini setelah melantik SH Sarundajang sebagai Plt Walikotamadya Bitung, di lapangan Kantor Walikota Bitung 10-10-1990.(Dok Leonardo Axsel Galatang)
Mendagri Rudini setelah melantik SH Sarundajang sebagai Plt Walikotamadya Bitung, di lapangan Kantor Walikota Bitung 10-10-1990.(Dok Leonardo Axsel Galatang)

Catatan: Leonardo Axsel Galatang

MANADOPOST.ID–HARI ini, 10-10- 2026 Kota Bitung menapaki usia 36 Tahun. Diresmikan Tanggal 10-10-1990, pukul 10 Wita oleh Menteri Dalam Negeri RI: Jenderal TNI (Purn) Rudini. 

Prosesi "baptisan" Kota Administratif (Kotif) menjadi Kotamadya (Kodya) Daerah Tingkat II yang otonom berlangsung di lapangan Kantor Walikota.

Pada saat dan tempat yang sama Walikota Kotif Bitung Drs Sinyo Harry Sarundajang juga dilantik sebagai Plt Walikota Kotamadya sementara menunggu pelantikan DPRD untuk memilih Walikota definitif. 

Saya bersyukur karena diminta Sekretaris Kotif Drs Ramoy Markus Luntungan untuk "memasukkan" materi kebudayaan pada pidato pertama SH Sarundajang sebagai Plt Walikotamadya Bitung. 

(Mungkin) dalam sejarah Pemerintahan Dalam Negeri di era itu, baru Sarundajang Walikota/Bupati yang dilantik oleh Mendagri. Biasanya Walikota/Bupati dilantik Gubernur atas nama Mendagri. 

"Saya yakin, Bitung akan menjadi kota industri terkemuka di Sulawesi Utara, bahkan Indonesia Timur," tegas Rudini yang sempat saya wawancarai secara eksklusif di Rumah Jabatan Walikota, usai upacara di lapangan. 

"REPOTNYA JAM 10"

Dalam prosesi persiapan pengesahan Kotif Bitung menjadi Kotamadya Dati II ada hal sempat membuat panitia dan tentu saja protokoler Pemkontif maupun Protokoler Pemprov, yakni memastikan Mendagri Rudini tiba di lapangan kantor Walikota sebelum jam 10 Wita, agar penekanan tombol serine tepat jam 10, seperti skenario yang diinginkan Sarundajang. 

Tentu saja, ini bukan perkara sepele, karena mengatur jadwal seorang Menteri, apalagi dengan "feodalisme" keprotokoleran Orde Baru, adalah sesuatu yang muskil.

Namun, berkat "kepiawaian" loby Sarundajang ditopang "kedekatan" Gubernur Sulut Mayjen TNI (Purn) Cornelis John Rantung dengan Rudini skenario "jam 10" bisa dijalankan. 

Pukul 09.35 Wita, Rudini didampingi CJ Rantung dan Muspida (sekarang Forkopimda) tiba di lapangan kantor Walikota, disambut tarian Kabasaran dan Musik Bambu. 

Tepat pukul 10 Rudini menekan tombol serine, tanda Kotif Bitung resmi "berganti kult" menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II yang otonom, terpisah dari Kabupaten Minahasa. 

WALIKOTA DEFINITIF

Tiga hari setelah Kotamadya diresmikan, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tingkat II Bitung dilantik.

Terdiri dari 4 Fraksi: F-Karya (Golkar), F-PPP, F-PDI (belum "perjuangan"), dan F-ABRI. Sementara Letkol AR Rosdy didaulat sebagai Ketua DPRD pertama. 

Esoknya, para legislator yang baru dilantik itu, langsung menggelar sidang paripurna perdana dengan agenda: Pemilihan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. Dan, seperti yang sudah "diskenariokan", SH Sarundajang terpilih dengan suara "super mayoritas" hehe.. 

Sepekan kemudian terjadi perubahan besar-besaran pada nomenklatur SKPD. Sebutlah "label" Suku Dinas Pendidikan di era Kotif, misalnya, berganti menjadi Dinas Pendidikan, dst.

Sekretaris Kotif yang sebelumnya diemban Drs RM Luntungan digantikan Brammy Musu SH sebagai Sekretaris Daerah Kotamadya perdana 

Kembali ke angka 10. Seperti tercatat dalam lembaran sejarah, Kota Bitung lahir dari "rahim" Distrik (Kecamatan) Kauditan, Kabupaten Minahasa, dan berkembang terus hingga mencapai status Kota Administratif pertama di Indonesi pada 10 April 1975.

Yang "paling melekat" dengan angka 10 adalah Walikota SH Sarundajang.

Dilantik mengantikan Walikota Drs KL Senduk pada 10 Januar 1986, mengantarkan Kotif Bitung ke gerbang Kodya Bitung pada 10 Oktober 1990, dan mengundurkan diri (karena "ditarik" ke pusat menjadi Irjen Departemen Dalam Negeri) pada 10 April 2000.

Sepertinya, angka "sempurna" (10), menjadi angka "keramat" di kota multietnis ini, sebagaimana dalam dunia sepak bola, 10 selalu dianggap nomor "magis" karena senantiasa disematkan kepada pemain bintang. 

"Perihal angka 10 ini, juga mengundang komentar dari Walikota Kotamadya Manado (kala) itu: Ir NH Eman, "Jago ngana pe bos, Xel (maksudnya Sarundajang)," usai pelantikan Sarundajang. 

Momen bersejarah itu juga disaksikan oleh Bupati dan Walikota Se-Sulut yang terdiri dari 7 Daerah termasuk Kabupaten dan Kotamadya Gorontalo sebelum Gorontalo menjadi provinsi. 

Semoga "angka 10" menjadi "hoki" buat nakhoda kota untuk membawa Bitung menuju bandar kesejahteraan warganya. 

DIRGAHAYU KOTAKU

NB: Perihal "kekeramatan" angka 10 ini pernah saya garap dalam bentuk "semi drama" dan dipentaskan oleh Sanggar Tangkasi di BPU, sehari sebelum pelepasan Sarundajang dari Kantor DPRD dengan Ketua Jantje Takasihaeng (FPDIP), Wakil Ketua Robert K Lahindo SH (FPKP), Iskandar Harun S.Sos (FPPP), dan Eman Suherman (FTNI/Polri). 

Pada pementasan yang dihadiri langsung oleh Sarundajang dan Ibu Deitje Sarundajang-Tambuwun, Pimpinan/Anggota DPRD, Muspida, dan seluruh pimpinan SKPD sempat menciptakan suasana yang mengharu biru.

Beberapa kali terlihat Ibu Dei, sapaan Ibu Sarundajang-Tambuwun menyeka airmata. Pun begitu dengan istri para para pejabat.

Sementara Sarundajang sendiri terlihat 3 kali menatap langit-langit BPU, dengan mata sedikit berkaca-kaca. 

"Terima kasih, Xel. Ibu deng Bapak esok somo pigi. Minta maaf kalau Bapak deng Ibu ada bekeng salah selama ini," tutur Ibu Dei, sebelum naik mobil di teras Kantor Walikota, malam itu. 

"Xel, ngana jaga dan bina terus anak-anak Sanggar Tangkasi," imbuh Sarundajang dari dalam mobil seraya melambaikan tangan.(***)

Editor : Franky Sumaraw
angka keramat Catatan Kota Bitung Sinyo Harry Sarundajang Leonardo Axsel Galatang