Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Soal Naik Turun Harga Bapok, Ini Penjelasan Kepala BI Sulut

Kenjiro Tanos • Jumat, 24 Juni 2022 | 01:30 WIB
Tim gugus tugas covid-19 Kotamobagu memberikan keterangan kepada media.
Tim gugus tugas covid-19 Kotamobagu memberikan keterangan kepada media.
MANADOPOST.ID – Sempat menyentuh angka Rp100 ribu per kilogam (kg) akhirnya harga cabai di Sulawesi Utara (Sulut) alami penurunan. Dari data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut harga modus cabai sekarang berada di angka Rp80 ribu per kg. Namun beberapa bahan pangan pokok (bapok) lainnya masih fluktuatif. Menanggapi hal tersebut, Kepala Bank Indonesia (BI) Sulut Arbonas Hutabarat menjelaskan, barito (bawang rica tomat) merupakan komoditas yang masuk kategori volatile food. Sehingga pergerakan harganya natural. Dia menyebutkan ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Antara lain, faktor musiman, meningkatnya permintaan menjelang HBKN, bencana dan permasalahan lain yang terjadi pada masing-masing daerah. Dia pun menilai, dibandingkan tahun 2020, kenaikan harga barito tahun ini masih normal. Arbonas pun merinci beberapa penyebab meningkatnya volatilitas harga barito. Dimana faktor utamanya adalah kenaikan harga pupuk yang terjadi sejak 2021 sampai 2022. Selain pupuk,  Arbonas memaparkan faktor lainnya yakni Fenomena Cuaca (La Nina). Hingga semester dua tahun ini, fenomena La Nina masih menguat. “Tingginya curah hujan juga menjadi faktor yang menyebabkan gagal panen di sejumlah sentra produksi hortikultura. Pada Januari hingga Februari hasil pantauan indeks BMKG menunjukkan bahwa La Nina sudah berkurang intensitasnya menuju intensitas lemah (indeks sekitar -0.9 hingga -0.8). Namun pada bulan Maret-April, indeks La Nina menguat kembali dan indeks berkisar -1 . 1 (intensitas sedang),” paparnya. Di samping iłu, ia melanjutkan, fenomena La Nina yang menguat menjelang periode pergantian musim hujan ke musim kemarau tahun 2022 berdampak pada mundurnya musim kemarau di Indonesia. “Dimana ini berpotensi menyebabkan bergesernya siklus tanam dan panen komoditas hortikultura,” paparnya. Sementara faktor ketiga adalah peningkatan permintaan menjelang Idul Adha. "Untuk antisipasi kenaikan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota akan senantiasa melakukan pemantauan rutin terhadap harga dan pasokan, dengan tetap mempertimbangkan fenomena yang terjadi secara nasional,” kuncinya. (ayurahmi) Editor : Kenjiro Tanos
#Harga Cabai #Arbonas Hutabarat #Harga Bapok #bank indonesia