Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Jaringan Internet Sulit, BRILink Tetap Eksis, Marsye Bogar Hadirkan Layanan Perbankan di Pulau Makalehi

Tanya Rompas • Selasa, 6 Juni 2023 | 10:21 WIB

Tampak depan kios milik Marsye Bogar, salah satu Agen BRILink asal Pulau  Makalehi Timur, Kecamatan Siau Barat. Foto diambil, Kamis (1/6) pekan lalu.
Tampak depan kios milik Marsye Bogar, salah satu Agen BRILink asal Pulau Makalehi Timur, Kecamatan Siau Barat. Foto diambil, Kamis (1/6) pekan lalu.
MANADOPOST.ID- Sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2017, pulau yang dihuni 1.287 jiwa ini masuk dalam kategori Pulau Terluar. Secara geografis, Makalehi berbatasan langsung dengan Filipina.

Kamis (1/6) lalu, Manado Post berkesempatan mengunjungi pulau mungil nan indah itu. Rasa capek usai mengarungi lautan terbayar setelah tiba di dermaga. Bukan karena angin laut sepoi-sepoi. Atau hamparan pohon kelapa dengan nyiur yang melambai. Tapi karena keramahan warga lokal. "Selamate Na Humpa (selamat datang)," sapa Marsye Bogar dengan bahasa dan logat khas Sitaro.

Kesan pertamanya terasa tulus dan hangat. Dengan raut wajah yang dipenuhi senyuman, dia mempersilahkan masuk ke dalam rumahnya. Marsye sendiri merupakan salah satu Agen BRILink dan juga pemilik Kios Kirei Kirana. Konsistensinya dalam menjaga kepercayaan, membuat dirinya mampu menghadirkan layanan perbankan di pulau terpencil yang bahkan tidak memiliki jaringan internet yang memadai tersebut.

"Bagaimana perjalanannya? Apakah ombaknya aman?" tanya Marsye. Perjalanan dari Kota Manado menuju Pulau Makalehi memang cukup panjang dan menantang. Berangkat malam hari dari Pelabuhan Manado menggunakan Kapal Malam, dengan waktu tempuh sekira 6 jam. Sampai di ibu kota Sitaro pada pagi hari. Perjalanan ke Pulau Makalehi dilanjutkan lagi menggunakan Kapal Feri pada pukul 16.00 WITA dengan waktu tempuh satu setengah jam.

Bagi yang baru pertama tiba di Pulau Makalehi jangan heran jika suasananya sunyi. Apalagi jika sudah sore menjelang malam hari. Tak banyak kendaraan yang menghiasi jalanan. Hanya terlihat beberapa warga yang berjalan kaki sambil membawa tangkapan ikan dan juga hasil kebun.

"Pulau Makalehi ini terbagi tiga. Ada Makalehi Induk, Makalehi Utara, dan Makalehi Timur. Semua warga di tiga pulau ini melakukan transaksi di Kios BRILink saya," ungkap Marsye lagi.

BRILink miliknya terletak di Pulau Makalehi Timur, Kecamatan Siau Barat (Sibar). Perbincangan mengenai awal menjadi agen BRILink pun dimulai. Kala itu, dirinya bersama suami mendatangi Kantor BRI di Kelurahan Ondong, Kecamatan Sibar pada tahun 2020 lalu. Maksud kedatangan tersebut untuk melakukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR). "Saat itu niat saya hanya mau mengajukan pinjaman KUR,"kenang Alumni PGSD UKIT Angkatan 2008 tersebut.

Namun, melihat potensi yang ada, pihak BRI sekaligus menawarkannya menjadi agen BRILink. Alasannya, di Pulau Makalehi, akses perbankan untuk masuk begitu sulit. Keraguan sempat terbesit dalam benak Marsye usai mendapat tawaran itu. Namun dia akhirnya mengiayakan karena melihat potensinya ada. "Saya dan suami memberanikan diri menjadi Agen BRILink. Dengan modal yang diberikan BRI melalui KUR sebesar Rp45 juta, " sebutnya.

Perempuan berusia 30 tahun itu bercerita, bantuan dari BRI bukan baru pertama kali ia rasakan. Dulu saat kedua orang tuanya memiliki warung, BRI sudah memberikan support melalui pinjaman KUR. "Menjadi Agen BRILink memberikan banyak manfaat. Tidak hanya untuk saya dan keluarga tapi untuk orang lain. Karena layanannya tidak hanya terbatas pada tarik dan tranfer uang. Bisa juga bayar tagihan listrik, tagihan air, hingga pembayaran iuran BPJS," akunya.

Marsye sendiri sehari-harinya bertugas sebagai Guru P3K SD Negeri Makalehi Timur. Sembari mengajar, dia tetap fokus menjalankan tugasnya sebagai Agen BRILink. Meski tak menampik, tiga tahun menjadi Agen BRILink, ada banyak tantangan yang dihadapi. Khususnya soal jaringan internet yang belum stabil. Namun semangatnya tak pupus.

Saat jaringan internet mengalami gangguan, dia rela pergi menuju Jalan Lingkar menggunakan sepeda motor agar proses transaksi tetap bisa dilakukan. "Kadang tengah malam ada warga datang minta tolong untuk transfer uang. Jika jaringan mati, saya akan pergi ke Jalan Lingkar untuk cari sinyal. Karena di Jalan Lingkar ada pantulan sinyal dari Pulau Siau," ceritanya.

Kandati demikian, akses menuju Jalan Lingkar butuh keberanian. Karena jauh dari pemukiman warga. Sekelilingnya hanya terdapat hutan yang rimbun dan pantai. "Makanya saya selalu minta ditemani suami. Ini sudah sering saya lakukan," jelas Marsye.

Ia selalu teringat soal niat awal. Baginya menjadi agen BRILink tidak hanya mengejar keuntungan pribadi namun membantu warga tiga pulau untuk bertransaksi. Baik tarik uang atau transfer. Terlebih saat ada warga yang sangat membutuhkan.

Tiga tahun jadi Agen BRILink, membuatnya
bisa memetakan latar belakang kategori konsumen yang melakukan transaksi di Pulau Makalehi. Mulai dari Pegawai Negeri Sipil (PNS), perangkat desa, warga yang memiliki pinjaman KUR, bahkan orang tua yang mempunyai anak yang sedang kuliah atau bersekolah di luar Pulau Makalehi bahkan luar daerah.

Meski, dari sisi transaksi belum sebanyak yang ada di wilayah lain. Sehari di kios BRILink miliknya ada lima sampai enam orang yang melakukan transaksi. Jika rame bisa sampai belasan orang. Omset per bulan belum banyak tapi jutaan. "Karena jumlah penduduk juga sedikit. Tapi saya sudah sangat bersyukur. Karena jadi Agen BRILink bisa bantu perekonomian keluarga," tuturnya.

Di akhir perbincangan, dia menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada pihak BRI
yang telah memberikan kesempatan bagi pengusaha kecil seperti dirinya untuk menjadi bagian dari Agen BRILink. "Diberikan kesempatan jadi bagian dari Agen BRILink membuat saya bersyukur. Karena bisa bantu orang banyak sembari dapat penghasilan tambahan. Terima kasih untuk BRI, " tukasnya.

Tak hanya Marsye. Keberadaan Agen BRILink ini juga disyukuri Siman Bogar selaku Kapitalau (kepala desa) Makalehi Timur. Dia mengakui, dulu sebelum ada agen BRILink mau tranfer atau tarik uang itu sangat sulit. Harus nyebrang pulau pakai kapal feri. Bisa juga pakai perahu tapi risikonya besar. Sementara layanan Kapal Feri hanya tiga kali dalam seminggu. "Kalau sudah butuh, tapi kapalnya belum ada, terpaksa harus bersabar. Namun, setelah ada Agen BRILink kami warga Makalehi Timur bisa merasakan layanan perbankan tanpa datang ke bank langsung," syukurnya.

Lantas seperti apa perkembangan jumlah Agen BRILink di Wilayah Sulut? Wakil Pimpinan Mikro BRI Regional Office Manado Reinhard Marpaung memaparkan, sampai 30 April 2023, total Agen BRILink di Sulut mencapai 8.486. Rinciannya, EDC 2.232 dan Mobile 6.254. "Sedangkan untuk transaksinya mencapai 2.403.811 dan sales volume-nya mencapai Rp2.052.364," paparnya.

Dia memastikan, untuk proses penambahan agen tidak ada patokan. Dalam artian, selama disatu wilayah peluang transaksinya besar dan jumlah agennya sedikit maka bisa diajukan kuota penambahannya. "Semua tergantung kebutuhan di lapangan. Jika jumlah agen di satu wilayah sudah cukup untuk meng-cover kebutuhan, maka tidak ada lagi penambahan. Yang pasti esensi dari Agen BRILink ini bisa memudahkan layanan hingga ke daerah pelosok yang sulit dijangkau," kuncinya. (*)

Editor : Tanya Rompas
#BRILink #Pulau Makalehi