Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Berkenalan dengan Allan Christo Titah, Sosok di Balik Racikan Kopi Tomoro Coffee

Foggen Bolung • Selasa, 5 November 2024 | 12:27 WIB

 

Allan Christo Titah
Allan Christo Titah

MANADOPOST.ID—Didapuk sebagai Research and Development (R&D) Manager di Tomoro Coffee, Allan Christo Titah kini menjadi salah satu “otak” sukses di balik brand kopi yang menggurita di seluruh Indonesia. Sebagai salah satu jaringan kopi terbesar di Indonesia yang sudah membuka lebih dari 600 gerai dan menargetkan 800 hingga 1.000 cabang pada akhir tahun 2024, Tomoro Coffee juga telah berekspansi ke Tiongkok, Singapura, dan Filipina. Allan sendiri adalah peracik varian-varian kopi yang dijual di seluruh gerai Tomoro Coffee, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Saat berbincang dengan Manado Post, putra Kawanua ini bercerita bagaimana ia hijrah ke Jakarta dari Manado sejak lulus SMA dan kini berkarier di industri kopi hingga diberi tanggung jawab sebagai R&D Manager Tomoro Coffee. “Waktu itu, setelah lulus dari SMA Lokon tahun 2012, saya melanjutkan kuliah di Universitas Pelita Harapan (UPH) jurusan Hospitality Management,” cerita Allan.

Di UPH, lanjutnya, ia mempelajari industri pelayanan dan penyediaan akomodasi, termasuk perhotelan, food and beverage (F&B), bar, dan lainnya. “Saat itu saya merasa cocok di dunia F&B. Akhirnya saya menekuni dunia tersebut, bahkan mengambil magang di sektor F&B, tepatnya di Intercontinental Hotel Bali sebagai bartender,” ujar Allan.

Pria kelahiran 26 Juni, 29 tahun yang lalu ini, melanjutkan bahwa proses magang selama sekitar enam bulan ini membuatnya memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan di dunia F&B. “Setelah kembali ke kampus, dengan pengalaman di hotel, saya memutuskan mendalami dunia F&B, namun lebih tertarik pada kopi. Menurut saya, kopi adalah minuman yang disukai banyak orang hingga usia lanjut,” ujarnya.

Kecintaannya pada kopi akhirnya mendorong Allan untuk menekuninya lebih dalam. Salah satunya adalah belajar membuat kopi dengan bimbingan seniornya di kampus. “Waktu itu, sekitar tahun 2014, saya meminta senior saya, yang kebetulan asisten dosen, untuk mengajari cara membuat kopi yang baik. Kampus memiliki mesin kopi untuk praktikum, jadi saya belajar dari situ,” ujarnya.

Saat itu, menurut Allan, dunia kopi belum sebesar sekarang. “Setelah belajar dasar-dasar membuat kopi, saya memberanikan diri melamar kerja paruh waktu di salah satu kedai kopi di Jakarta pada tahun 2015, saat semester akhir kuliah,” ungkapnya.

Di sana, Allan semakin mendalami dan mencintai industri kopi yang mulai berkembang. Bahkan, untuk tugas akhirnya, Allan mengambil topik tentang kopi. “Saya melatih siswa-siswa dari salah satu SMK di Jakarta. Saat itu bekerja sama dengan sekolah kopi untuk mengajarkan pembuatan kopi secara manual brew,” jelasnya.

Sejak itu, Allan semakin mencintai dunia kopi. Namun, karena industri kopi yang baru berkembang, ia sempat kesulitan berkarier di bidang yang dicintainya. Apalagi, statusnya sebagai lulusan baru membuatnya sulit bersaing dengan profesional berpengalaman di dunia F&B.

Namun, takdir mempertemukannya dengan industri impiannya. “Awalnya saya melamar di UPH sebagai staf pemasaran. Kebetulan UPH satu grup dengan Maxx Coffee, dan saya ditawarkan bekerja di Maxx Coffee. Saya langsung menerimanya karena ingin berada di dunia F&B, khususnya kopi,” ujar Allan.

Allan akhirnya memulai kariernya di industri kopi di Maxx Coffee, salah satu jaringan kedai kopi nasional di bawah Lippo Group. “Saya memulai sebagai admin bagian pelatihan. Kemudian, saya dipercaya sebagai pelatih. Saya di Maxx Coffee sekitar lima tahun sebelum pindah ke Flash Coffee, dan akhirnya bergabung dengan Tomoro Coffee sebagai R&D Manager,” jelasnya.

Allan bergabung dengan Tomoro Coffee sejak tahun 2020, bahkan sebelum brand ini diluncurkan. Di sini, Allan dipercaya melakukan riset, meracik, dan memutuskan varian kopi yang akan dijual di seluruh gerai Tomoro Coffee. “Saya bertanggung jawab melakukan riset dan mengembangkan varian-varian menu di Tomoro Coffee. Saat ini, saya bersama tim telah merilis lebih dari 100 menu di Tomoro Coffee, baik di Indonesia maupun di cabang luar negeri seperti Singapura dan Filipina,” jelasnya.

Sebagai orang yang berperan dalam riset varian yang akan dijual, Allan menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari harga produksi, ketersediaan bahan, hingga cita rasa yang sesuai dengan selera penikmat kopi Indonesia, semuanya harus dipertimbangkan. “Tanggung jawab yang diberikan bukan hanya menciptakan rasa atau varian kopi, tetapi juga memastikan kualitas kopi yang premium, namun dengan harga terjangkau,” jelas Allan.

Dia pun memastikan, kehadiran jaringan kedai kopi seperti Tomoro Coffee tidak akan mematikan kedai kopi lokal di daerah. “Dengan adanya jaringan kedai kopi seperti Tomoro, kami berharap ini akan menggairahkan minat penikmat kopi di Indonesia, termasuk di daerah. Semakin banyak orang yang menikmati kopi berkualitas tinggi dengan harga terjangkau, maka akan berefek pula ke kedai-kedai kopi lokal, bisa saling menghidupkan,” pungkas Allan sembari berharap industri kopi akan terus berkembang, baik jaringan kopi nasional maupun kedai kopi lokal. (*)

Editor : Foggen Bolung
#kopi #industri kopi #Coffee Chain #Tomoro Coffee #Indonesia