MANADOPOST.ID — Vanili asal Sulawesi Utara (Sulut) kini menghiasi pasar Eropa. Bahkan permintaan terus meningkat jelang akhir tahun.
Ketua Eksportir Muda Sulut Alan Palar menyebut, pengiriman vanili ke luar negeri dilakukan secara rutin setiap bulan dengan volume rata-rata 10 hingga 20 kilogram.
“Menjelang akhir tahun, permintaan bisa mencapai 150 sampai 200 kilogram per bulan. Sebagian besar dikirim ke pasar Eropa" sebutnya.
Menurut Alan, vanili memiliki pasar tersendiri karena penjualannya langsung ke pengguna akhir atau end user. “Permintaan memang tidak besar, tapi stabil dan bernilai tinggi,” katanya.
Sebagai seorang eksportir, ia mengaku sebagian vanili yang diekspor berasal dari supplier tetap, sementara sebagian lainnya merupakan hasil produksi sendiri.
"Harga beli biasanya Rp4 juta. Tapi kalau diekspor bisa sampai Rp6 juta," bebernya.
Sementara itu, Elevo Kaunang Pengumpul Vanili yang ditemui di Pasar Karombasan mengatakan tren ekspor yang meningkat turut berdampak pada petani lokal. Ia membeber, saat ini harga Vanili lokal berkisar Rp800 sampai Rp900. Tapi kalau ekspor bisa Rp3 juta per Kg.
“Sekarang pembeli dari luar negeri mulai datang langsung mencari vanili kering. Ini kesempatan bagi petani untuk naik kelas,” katanya.
Elevo menilai kualitas vanili asal Sulut cukup diminati karena aroma dan kadar vanilinnya tinggi.
Namun ia menilai masih banyak petani yang belum memahami standar mutu ekspor. “Kalau petani bisa memperbaiki proses pengeringan dan pengemasan, harga jualnya bisa lebih tinggi lagi,” yakinnya.
Diketahui, Vanili merupakan satu dari beberapa jenis komoditi andalan Sulut. Meski fluktuatif, namun Vanili tetap memiliki harga jual yang tinggi.
Editor : Ayurahmi Rais