MANADOPOST.ID - Danantara Indonesia menyampaikan bahwa proyek pembangkit listrik dari pengolahan sampah (PSEL) menarik minat luas dari sektor swasta.
Sekitar 200 perusahaan, baik dalam maupun luar negeri, telah menyatakan ketertarikan untuk ikut serta dalam proyek ini.
Proyek ini dirancang sebagai bagian dari strategi nasional untuk memanfaatkan limbah perkotaan sebagai sumber energi bersih.
Inisiatif ini juga sekaligus sebagai langkah pengurangan sampah di kota-kota besar dan mendukung transisi energi.
Dalam rencana tersebut, Danantara menargetkan pembangunan di 33 titik proyek PSEL dengan nilai investasi besar.
Beberapa kota yang menjadi target awal antara lain Tangerang, Bekasi, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Bali, dan Makassar.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyebut bahwa meski sudah banyak perusahaan mendaftar, proses seleksi akan dilakukan secara terbuka agar mitra terbaik yang dipilih.
Dia juga menegaskan bahwa jika pun tidak ditemukan investor yang ideal, proyek tetap akan jalan karena komitmen negara sudah ada.
Sektor pengolahan sampah menjadi energi dianggap penting karena Indonesia memiliki tantangan besar terkait volume sampah perkotaan serta kebutuhan tambahan pembangkit listrik.
Dengan mengolah sampah menjadi listrik, maka dua persoalan — lingkungan dan energi — bisa diatasi bersamaan.
Nilai investasi tiap proyek diperkirakan mencapai US$150–200 juta atau sekitar Rp2,5–3,3 triliun per titik proyek.
Biaya ini meliputi pengadaan teknologi, pembangunan fasilitas, operasi serta integrasi ke jaringan listrik.
Dalam hal regulasi, proyek ini didukung oleh kebijakan pemerintah seperti penghapusan tarif pembuangan sampah (tipping fee) di beberapa lokasi sebagai upaya mendorong minat investor.
Langkah ini membuat proyek menjadi lebih menarik dari sisi bisnis dan juga menguntungkan dari sisi lingkungan.
Manfaat yang diharapkan dari proyek PSEL ini meliputi:
-
Pengurangan volume sampah yang masuk TPA dan lingkungan kota yang lebih bersih.
-
Penambahan kapasitas pembangkit listrik dari sumber non-fosil.
-
Pembukaan lapangan kerja baru di sektor pengolahan limbah, teknologi energi bersih dan infrastruktur.
-
Penguatan posisi Indonesia dalam upaya transisi energi dan target net-zero emissions.
Meski banyak potensi, ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi:
-
Ketersediaan dan kontinuitas pasokan limbah yang bisa diolah dengan kapasitas besar.
-
Pemilihan teknologi yang sesuai untuk kondisi Indonesia (ukuran kota, jenis limbah, logistik).
-
Urusan regulasi dan perizinan di tingkat daerah yang kadang berbeda dan bisa memperlambat proses.
-
Kejelasan model bisnis dan kontrak dengan pembeli listrik seperti PLN (Persero) agar proyek bisa berjalan secara komersial.
Pelaku industri harus mempersiapkan diri dengan kapasitas teknis, keuangan dan manajemen risiko yang matang agar bisa bersaing pada proses tender yang disampaikan oleh Danantara.
Terlebih karena sudah banyak perusahaan yang mendaftar — artinya kompetisi cukup ketat.
Bagi pemerintah, keberhasilan proyek ini bisa menjadi bukti konkret bahwa pembangunan infrastruktur hijau bisa dijalankan dengan skema kemitraan publik-swasta dan bukan hanya mengandalkan anggaran negara.
Ini juga bisa menjadi model untuk proyek energi bersih lainnya di masa depan.
Dari sisi masyarakat, proyek ini diharapkan membawa manfaat nyata: kota yang lebih bersih, listrik yang berasal dari sumber baru, dan peningkatan kualitas hidup—jika semuanya berjalan sesuai rencana.
Namun, kejelasan waktu pelaksanaan, lokasi proyek dan keterlibatan masyarakat setempat tetap menjadi poin penting.
Secara keseluruhan, pernyataan Danantara bahwa sekitar 200 perusahaan tertarik menunjukkan bahwa sektor energi bersih dan pengolahan limbah semakin dilirik oleh pelaku bisnis.
Tapi langkah dari minat menuju realisasi adalah tantangan nyata—bukan sekadar angka pendaftaran.
Kunci keberhasilan akan terletak pada penyelesaian detail-praktek: lelang, kontrak, teknologi, operasional dan monitoring yang baik.
Jika semua aspek ini ditangani dengan baik, proyek pembangkit listrik dari sampah bisa membuka era baru bagi energi terbarukan di Indonesia.