MANADOPOST.ID - Hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali mencuri perhatian dunia.
Presiden AS Donald Trump memutuskan memangkas tarif impor barang China menjadi rata-rata 47 persen.
Langkah ini diumumkan setelah Trump bertemu Presiden China Xi Jinping di Washington, DC.
Keduanya membahas kerja sama ekonomi dan stabilitas hubungan perdagangan kedua negara.
Tarif impor adalah biaya tambahan yang dikenakan pada barang yang masuk ke suatu negara.
Sebelumnya, tarif impor China mencapai sekitar 60 persen saat perang dagang memanas.
Menurut CNN Indonesia, pemangkasan tarif ini disebut sebagai “langkah awal” memperbaiki hubungan AS–China.
Trump menilai kerja sama ekonomi harus saling menguntungkan, bukan merugikan salah satu pihak.
Namun, tarif 47 persen tetap tergolong tinggi dalam perdagangan internasional.
China adalah salah satu negara eksportir terbesar ke AS, terutama di sektor elektronik dan teknologi.
Dengan tarif ini, harga barang impor dari China di AS masih bisa lebih mahal bagi konsumen.
Baca Juga: Beli Tiket USS 2025 via BRImo, Dapat Cashback dan Hadiah Menarik
Trump menyebut pemangkasan dilakukan bertahap sambil menilai komitmen China dalam hubungan dagang.
Pertemuan dua pemimpin dunia ini dianggap penting bagi pasar global.
AS dan China merupakan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, sehingga keputusan mereka bisa memengaruhi ekonomi banyak negara.
Trump juga berharap China makin terbuka untuk investasi dan perdagangan yang adil.
Di sisi lain, beberapa pihak di AS masih khawatir soal keamanan teknologi dan persaingan industri China.
Hubungan antara AS dan China beberapa tahun terakhir memang penuh ketegangan.
Pemangkasan tarif ini dianggap sebagai harapan baru untuk stabilitas ekonomi dunia.
Para pelaku pasar menyambut positif langkah diplomasi dagang ini.
Meski begitu, pelaku ekonomi masih menunggu negosiasi tahap berikutnya yang lebih detail.
Ekonom menilai hasil jangka panjang masih bergantung pada bagaimana kedua negara menjalankan kesepakatan ini.
Keputusan ini bisa memberi dampak pada rantai pasok global, termasuk negara di Asia Tenggara.
Perkembangan hubungan dagang AS–China diprediksi akan tetap menjadi sorotan internasional ke depan.
Editor : Jasinta Bolang