Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Industrialisasi Diyakini akan Bawa Ekonomi Sulut Makin Tangguh

Ayurahmi Rais • Kamis, 6 November 2025 | 09:55 WIB

 

Grafik lapangan usaha pendorong ekonomi sulut
Grafik lapangan usaha pendorong ekonomi sulut

MANADOPOST.ID— Perekonomian Sulawesi Utara (Sulut) mencatatkan kinerja impresif pada Triwulan III tahun 2025. 

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut melaporkan pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 5,39 persen (year on year/y-on-y). Angka ini menunjukkan penguatan fundamental ekonomi daerah di tengah dinamika global.

​Kepala BPS Aidil Adha, menegaskan bahwa capaian ini mencerminkan aktivitas ekonomi masyarakat yang semakin membaik dan meningkat di berbagai sektor utama. Aidil menyebut tren perbaikan ini terus berlanjut sejak tahun 2023.

​ia memaparkan, dari sisi lapangan usaha, sektor Industri Pengolahan tampil sebagai penopang utama dengan laju pertumbuhan tertinggi mencapai 12,41 persen (y-on-y). Sektor ini menunjukkan pemulihan kuat seiring peningkatan produksi dan permintaan barang olahan di daerah.

Menganalisis data BPS, Ekonom Sulut, Joy Tulung Ph.D. menilai pertumbuhan ekonomi 5,39 persen ini lebih dari sekadar kenaikan moderat. Menurutnya, capaian ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam sumber pertumbuhan ekonomi daerah.

​"Lapangan usaha Industri Pengolahan menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar, berkontribusi 1,25 persen terhadap total kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi ini," ungkap Joy. Ia menegaskan bahwa fakta ini menandai fase baru dalam struktur ekonomi Sulut.

​"Ini adalah sinyal kuat bahwa Sulut semakin dekat dengan industrialisasi, sebab struktur ekonomi kita mulai bergeser dari yang sebelumnya sangat bertumpu pada perdagangan dan pariwisata, kini memiliki tulang punggung baru, yaitu industri," tambahnya. 

​Lebih lanjut, Tulung menyoroti beberapa data pendukung yang menunjukkan pertumbuhan kali ini adalah pertumbuhan yang semakin berkualitas, didukung oleh aktivitas riil di sektor produksi.

​Pertama, pengadaan Air Mencerminkan Urbanisasi dan Industri: Sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang, juga mencatat pertumbuhan tinggi. Menurutnya, kenaikan pada sektor ini bukan semata-mata soal peningkatan permintaan air bersih rumah tangga, tetapi merupakan indikator menguatnya kegiatan ekonomi urban.

"Ketika pabrik, kawasan pergudangan, dan pusat logistik tumbuh, kebutuhan air industri dan pengelolaan limbah otomatis meningkat. Kenaikannya mencerminkan adanya proses industrialisasi yang lebih serius," jelasnya.

​lalu, Hilirisasi Mengangkat Ekspor. BPS mencatat ekspor luar negeri tumbuh sangat signifikan, yakni 46,24 persen (y-on-y). Pendorong utamanya adalah produk minyak dan lemak hewan/nabati, termasuk turunan kelapa yang menjadi komoditas unggulan Sulut. Neraca perdagangan Sulut bahkan mencatat surplus US$ 299,27 juta, meningkat 88 persen dibanding tahun sebelumnya.

"Data ini memperkuat narasi bahwa hilirisasi komoditas lokal mulai memberi hasil nyata, bukan lagi sekadar wacana," sebut Ketua ISEI Manado tersebut. 

​Kemudian ada konsumsi Listrik Industri. Sebagai penanda aktivitas produksi yang stabil, penjualan listrik untuk sektor industri tercatat tumbuh 14,84 persen (y-on-y). "Ini adalah indikator yang jarang diperhatikan, tetapi justru menjadi 'denyut nadi' paling jelas dari aktivitas pabrik, mesin, dan lini produksi yang beroperasi lebih panjang dan stabil," katanya. 

​Dengan mengandalkan aktivitas industri dan ekspor yang membawa nilai tambah, pertumbuhan ekonomi 5,39 persen kali ini memiliki fundamental yang lebih kokoh.

​"Bila tren ini terus dijaga, seperti melalui penguatan bahan baku kelapa dan perikanan, pengembangan KEK Bitung sebagai pusat hilirisasi, dan peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal, Sulawesi Utara berpeluang naik kelas menjadi pusat industri pengolahan berbasis komoditas unggulan di kawasan timur Indonesia," yakinnya. 

​ia pun menegaskan pada titik inilah masa depan ekonomi Sulut dipertaruhkan. Pertanyaannya bukan lagi mampukah Sulut tumbuh, tetapi mampukah kita mempertahankan dan mengelola pertumbuhan yang telah lebih berkualitas ini menjadi kekuatan ekonomi jangka panjang?"

​"Tingginya kinerja industri dan ekspor ini diharapkan dapat memacu optimisme kolektif masyarakat dan mendorong dukungan penuh terhadap agenda industrialisasi daerah," tukasnya.

Editor : Ayurahmi Rais