Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Lulusan SMK dan Sarjana banyak Nganggur, Saatnya Bangun Kekuatan Ekonomi Lewat Pekerja Migran

Ayurahmi Rais • Senin, 10 November 2025 | 19:04 WIB

 

Photo
Photo

 

MANADOPOST.ID– Sulawesi Utara (Sulut) harus segera memformulasikan strategi baru dalam penyerapan tenaga kerja. Meskipun jumlah penduduk usia produktif terus bertambah pesat sebuah potensi yang disebut Bonus Demografi. Namun faktanya, mencari pekerjaan yang layak kian sulit, khususnya bagi kelompok lulusan sekolah kejuruan.

​Mengutip data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) alami kenaikan jadi 5,99 persen setara dengan 85,37 ribu orang. Padahal jumlah angkatan kerja mencapai 1,42 juta orang. (selengkapnya lihat grafis,red). 

​Kondisi ini menjadi lebih mengkhawatirkan karena masalah pengangguran ternyata paling tinggi berada di jenjang pendidikan SMK, disusul oleh perguruan tinggi. Sementara setiap tahun sekolah dan juga universitas mencetak ribuan lulusan baru. Melihat kondisi ini, sinergi seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah, akademisi, dan dunia usaha, menjadi sangat mendesak.

Ekonom Universitas Negeri Manado (Unima) Dr Robert Winerungan menilai dari data yang dibeberkan BPS terlihat jelas bahwa jumlah pencari kerja terus naik, namun lembaga maupun instansi yang menerima tenaga kerja sangat sedikit.

Ia tak menampik, lapangan kerja dalam negeri termasuk di Sulut saat ini sangat sedikit. Sehingga ia mendorong pemerintah menyiapkan wadah atau lembaga pelatihan bagi tenaga kerja ke luar negeri. "Penerimaan tenaga kerja resmi di luar negeri itu banyak. Namun kita itu masih kurang lembaga pelatihan. Kebanyakan orang-orang yang berangkat kerja di luar negeri itu pakai biaya sendiri. Harusnya pemerintah biayai dan siapkan lembaga resminya," katanya.   

Di sisi lain, Staf Khusus Kementrian Pelayanan Pekerja Migran Indonesia menekankan, Sulut perlu membangun ekosistem pentahelix—yakni kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan media—untuk bersama-sama menyiapkan generasi muda agar siap bersaing di pasar tenaga kerja global. “Jika semua unsur ini bergerak bersama, Sulut bukan hanya akan menekan angka pengangguran, tetapi juga bisa menjadi contoh nasional dalam mencetak pekerja migran terampil dan berkarakter,” ujar Ilham.

Sulut memiliki modal besar untuk mewujudkannya. Kehadiran Unsrat, Unima, Politeknik Negeri Manado, Poltekkes, serta berbagai SMK dan perguruan tinggi swasta bisa menjadi fondasi kuat membangun sistem pelatihan terintegrasi.

Dengan sinergi yang tepat, para lulusan SMA, SMK, dan perguruan tinggi di Sulut tidak hanya siap bekerja, tetapi juga berdaya saing tinggi untuk mengisi peluang kerja di Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara maju lainnya.

Lebih jauh lagi, pengiriman tenaga kerja Sulut ke negara-negara maju akan memberikan dampak ekonomi strategis bagi daerah. Para pekerja migran yang dikirim akan menjadi agen transfer teknologi dan pengetahuan, membawa pulang keahlian dan etos kerja dari Jepang serta Korea Selatan.

Baca Juga: Pulau Bunaken Kini Menghadapi Tantangan Nyata

Selain itu, mereka juga akan menjadi pahlawan devisa. Dana remitansi yang dikirim para pekerja migran akan menambah pemasukan daerah dan mendorong PDRB per kapita Sulut meningkat. Daya beli masyarakat pun akan naik, menciptakan efek domino terhadap kesejahteraan ekonomi lokal.

Jika ini berjalan konsisten, visi “Sulut Maju dan Sejahtera” bukan hanya slogan, tapi kenyataan. Angka pengangguran di Sulut akan turun drastis, diikuti penurunan angka kemiskinan dan kriminalitas. Masyarakat akan lebih makmur, stabilitas sosial meningkat, dan kesejahteraan menjadi nyata.

Semua manfaat ini akan bermuara pada terwujudnya Sulut maju dan sejahtera berkelanjutan, sejalan dengan visi-misi Gubernur Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay, serta selaras dengan visi nasional Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, menuju Indonesia Maju.

Baca Juga: Bupati Joune Ganda Sambangi BPJN Sulut Bahas Peningkatan Jalan Di Minahasa Utara

senada, Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia. BP3MI Sulut, Syachrul Afriyadi, mengemukakan bahwa program Pekerja Migran Indonesia dapat menjadi salah satu solusi strategis untuk menekan angka pengangguran. 

Syachrul menjelaskan Kementerian Tenaga Kerja setiap tahunnya memberikan kuota puluhan ribu bagi masyarakat Sulut. Setiap calon PMI dibekali pelatihan intensif agar mampu bekerja secara profesional di luar negeri, khususnya negara-negara maju seperti Jepang dan beberapa negara Asia lainnya.

" Dengan demikian, penguatan program pelatihan vokasi di Sulut tidak hanya harus selaras dengan industri lokal, tetapi juga harus terintegrasi dengan standar internasional untuk memanfaatkan potensi pasar kerja luar negeri," kuncinya. 

GRAFIS ILUS.

Angka Pengangguran Berdasarkan Jenjang Pendidikan di Sulawesi Utara per Agustus 2025

*Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT):
​SMK: 12,28 persen
​Perguruan Tinggi: 7,73 persen
​SMA: 7,26 persen
​SMP: 2,81 persen
​SD ke bawah: 1,90 persen
​*Data Ketenagakerjaan Sulut Lainnya (Agustus 2025):
​TPT Rata-rata Sulut: 5,99 persen
​Total Angkatan Kerja: 1,42 juta orang
​Total Jumlah Pengangguran: 85,37 ribu orang

Sumber: BPS Sulut, Diolah Manado Post, Senin (10/11/2025).

 

Editor : Ayurahmi Rais