Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sorotan Ekonomi Baru: Investasi AI, Utang Publik Global, dan Tantangan Ekspor Nasional

Jasinta Bolang • Senin, 17 November 2025 | 12:52 WIB

Photo
Photo

MANADOPOST.ID – Ekonomi Indonesia semakin menarik perhatian karena rencana peta jalan AI nasional yang kini dikembangkan. Pemerintah menyiapkan strategi nasional pertama untuk kecerdasan buatan (AI) agar menarik investasi asing.

Peta jalan AI ini bukan sekadar soal teknologi, tapi juga bagian dari strategi pembangunan jangka panjang industri semikonduktor dan komputasi klaster nasional.

Dengan fokus ke bidang kesehatan dan pertanian, roadmap AI diharapkan bisa membuka peluang kerja dan memperkuat daya saing Indonesia di kancah global.

Di tengah semangat teknologi, kabar lain datang dari sisi fiskal global: Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa utang publik dunia akan menanjak ke level hampir 100 % terhadap PDB global.

Peningkatan utang dunia ini dipicu oleh perang dagang, ketidakpastian kebijakan, dan kebutuhan negara untuk membayar beban utang serta pembiayaan sosial dan pertahanan.

Menurut laporan IMF, defisit fiskal global rata-rata bisa mencapai 5,1 persen dari GDP di 2025, yang menambah tekanan terhadap anggaran pemerintah banyak negara.

Baca Juga: Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh di Tengah Tekanan Global

Sementara itu, Bank Indonesia menyusun lima area kebijakan utama untuk menjaga stabilitas makro tahun 2025.

Lima area tersebut antara lain penguatan stabilitas ekonomi, mendorong permintaan dalam negeri, meningkatkan produktivitas, memperdalam sektor keuangan, dan mempercepat digitalisasi sistem pembayaran.

BI juga berencana menjaga inflasi Indonesia dalam rentang sasaran 2,5 ± 1 persen melalui sinergi kebijakan moneter, makroprudensial, dan program nasional pengendalian inflasi pangan (GNPIP).

Selain itu, Bank Indonesia juga menargetkan pertumbuhan kredit 11–13 persen di 2025, sebagai bagian dari dorongan likuiditas dan investasi domestik.

Tahun ini, BKPM mencatat realisasi investasi Indonesia di kuartal I melonjak 15,9 persen dibanding tahun lalu — ini sinyal kuat bahwa investor masih percaya pada prospek bisnis di dalam negeri.

Investasi ini juga tercermin dalam penciptaan lapangan kerja: kuartal I 2025, serapan tenaga kerja langsung mencapai sekitar 594 ribu orang.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, proyeksi Bank Indonesia untuk 2025 direvisi menjadi lebih rendah, yakni antara 4,7% hingga 5,5%.

Revisi ini terkait dengan meningkatnya risiko eksternal, terutama dari kebijakan tarif negara lain yang bisa menekan ekspor Indonesia.

IMF juga sempat menurunkan proyeksi ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen untuk tahun 2025 karena tekanan global.

Namun belakangan IMF merevisi lagi proyeksi menjadi 4,9 persen setelah melihat dukungan kebijakan fiskal dan reformasi di Indonesia.

Kemenkeu punya pandangan lebih optimistis: ia menilai ekonomi RI bisa tumbuh 5,2 persen, karena pemerintah memang sedang melakukan stimulus dan reformasi struktural.

Menurut Bank Dunia, kekuatan ekonomi Indonesia adanya di sektor perumahan — lewat program rumah rakyat — serta efisiensi produktivitas.

Tapi, meski ada potensi, risiko juga nyata: Bank Dunia menunjukkan bahwa tantangan seperti ketidakpastian perdagangan dan fluktuasi harga komoditas bisa mengganggu.

Di level global, OECD dalam Interim Economic Outlook menyebut risiko fragmentasi perdagangan semakin besar dan bisa memperlambat pertumbuhan dunia.

OECD juga memproyeksikan pertumbuhan global akan turun menjadi 3,1 persen tahun ini karena hambatan kebijakan dan ketidakpastian geopolitik.

Dengan semua faktor tersebut — dari investasi AI sampai risiko utang global — Indonesia harus pintar menjaga keseimbangan antara peluang dan ancaman.

Jika berhasil, kombinasi teknologi, investasi, dan kebijakan stabil bisa membawa ekonomi nasional ke jalur pertumbuhan jangka panjang yang lebih kuat.

(ra)

Editor : Jasinta Bolang
#Investasi #Ekonomi #AI #bisnis #hutang global