Forum ini digelar oleh Preferred by Nature bersama Sustainable Rice Platform (SRP), Rikolto, dan International Rice Research Institute (IRRI). Tujuannya jelas yakni mempercepat perubahan cara kita menanam padi lebih ramah lingkungan, lebih sejahtera bagi petani, dan lebih siap menghadapi tantangan iklim.
Mungkin tak banyak yang menyadari, tetapi menurut laporan World Resources Institute, budidaya beras menghasilkan sekitar 1,0 gigaton CO₂e emisi gas rumah kaca setiap tahun. Penyebabnya beragam mulai dari teknik pengairan yang boros hingga penggunaan agrokimia yang berlebihan.
Karena beras adalah makanan pokok bagi lebih dari separuh populasi dunia, memperbaiki cara produksi berarti memperbaiki masa depan.
“Low Carbon Rice. High Global Impact" merupakan tema besar ISRF 2025. Pesan yang dibawa sederhana namun kuat untuk menurunkan emisi dari sektor beras bukan hanya soal lingkungan, tapi juga ketahanan pangan, pendapatan petani, hingga peluang bisnis baru.
Acara dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, DR (HC) Zulkifli Hasan, Duta Besar Uni Eropa Denis Chaibi, dan Executive Director Preferred by Nature, Peter Feilberg.
Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa Indonesia sedang berbenah besar-besaran dalam 1–5 tahun ke depan mulai dari benih unggul, mekanisasi, hingga teknologi terbaru, bertujuan untuk pangan yang cukup, bergizi, dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat.
Uni Eropa mendukung langkah tersebut melalui program SWITCHAsia yang mendorong praktik pertanian lebih hijau dan memperkuat rantai nilai beras di kawasan.
Panggung Kolaborasi Global
ISRF 2025 dihadiri pakar, pembuat kebijakan, petani, penggilingan, peneliti, hingga lembaga donor internasional. Nama-nama besar seperti Dr. Yvonne Pinto (IRRI), Jens Soth (SRP), Ajit Radakrishnan (World Bank), hingga Beau Damen (FAO) ikut berbagi wawasan.
Diskusinya beragam, mulai dari bagaimana beras bisa jadi motor besar mitigasi iklim, strategi memperluas pasar produk berkelanjutan, peran teknologi digital bagi petani, hingga bagaimana kebijakan pangan nasional bisa lebih pro-lingkungan.
Peter Feilberg menegaskan bahwa dunia sudah punya ilmu dan datanya. Yang dibutuhkan sekarang adalah menjembatani sains, kebijakan, dan praktik di lapangan agar perubahan terjadi nyata.
Indonesia Jadi Laboratorium Beras Rendah Karbon
Selama empat tahun terakhir, Indonesia menjadi pusat uji coba Proyek Low Carbon Rice. Program ini berjalan di lima kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan hasil awal yang cukup menjanjikan:
• 67 penggilingan padi beralih dari diesel ke listrik
• 2.650 petani terlibat, membudidayakan padi berkelanjutan di 1.037 hektar lahan
• Beras berkelanjutan mulai masuk pasar domestik—terhubung ke restoran dan pembeli institusional
• Pembentukan SRP National Working Group sebagai dasar kebijakan
• Pedoman SRP Indonesia mulai dikembangkan untuk membantu standarisasi praktik ramah iklim
Ketua Umum PERPADI, Sutarto Alimoeso, mengatakan bahwa penggilingan yang beralih ke listrik berhasil menurunkan biaya operasional hingga 40% dan menekan emisi sekitar 15%. Ini bukti bahwa praktik ramah lingkungan juga menguntungkan secara bisnis.
Langkah Awal Menuju Masa Depan Beras yang Lebih Bersih
ISRF 2025 bukan hanya forum diskusi, tetapi menjadi titik temu semua pihak yang peduli pada masa depan pangan: pemerintah, petani, peneliti, dan industri. Di sinilah inovasi, pembiayaan hijau, dan kebijakan keberlanjutan dipertemukan.
Dengan peran besar Indonesia sebagai produsen beras dunia, forum ini menegaskan posisi strategis Indonesia dalam memimpin transformasi pertanian global menuju sistem yang lebih tangguh, rendah karbon, dan berpihak pada petani.
ISRF 2025 menutup hari pertama dengan satu pesan kuat: perjalanan menuju pangan berkelanjutan dimulai di sawah, tetapi dampaknya akan dirasakan seluruh dunia.(ame)
Editor : Amelia Beatrix