Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Curah Hujan Tinggi, Mendag Waspadai Cabai Makin Mahal Jelang Nataru

Jasinta Bolang • Sabtu, 22 November 2025 | 09:36 WIB
Photo
Photo

MANADOPOST.ID - Menteri Perdagangan memperingatkan bahwa curah hujan yang tinggi sedang mengancam produksi cabai di berbagai daerah.

Beban produksi cabai bisa makin berat karena banjir dan genangan air dapat merusak tanaman cabai.

Tanaman yang terlalu banyak terkena air justru rentan busuk dan gagal panen, sehingga pasokan menipis.

Dengan pasokan yang menipis, harga cabai diprediksi dapat melonjak tajam menjelang musim Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Harga komoditas cabai sangat sensitif terhadap gangguan cuaca karena petani banyak menggunakan lahan terbuka.

Mendag mengimbau para pelaku usaha dan petani segera melakukan antisipasi agar lonjakan harga bisa ditekan.

Pemerintah juga diminta untuk memantau secara aktif kondisi lapangan agar tidak terjadi spekulasi harga.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah mempercepat impor cabai atau bahan pengganti jika produksi dalam negeri anjlok.

Baca Juga: Pupuk Indonesia Masuk Fortune SEA 500 dan Raih Banyak Penghargaan Bergengsi

Impor ini menjadi salah satu opsi agar kebutuhan konsumen tetap terpenuhi di akhir tahun.

Namun impor juga harus hati-hati agar tidak merugikan petani domestik yang sedang mengalami tekanan.

Petani lokal butuh dukungan berupa benih tahan cuaca, pelatihan pengendalian banjir, dan sistem irigasi yang lebih baik.

Selain itu, rantai pasok perlu diperkuat agar cabai yang diproduksi cepat sampai ke pasar sebelum rusak.

Pemerintah bersama asosiasi petani juga mempertimbangkan subsidi atau stimulus untuk petani yang terdampak.

Langkah ini diharapkan agar petani tetap dapat menanam cabai meskipun kondisi cuaca sulit.

Bagi konsumen, lonjakan harga cabai bisa berarti pengeluaran rumah tangga menjadi lebih besar.

Cabai merupakan salah satu bumbu utama dalam masakan sehari-hari di Indonesia, sehingga kenaikan harga terasa langsung.

Di sisi perdagangan, pengecer dan pedagang harus menyiapkan stok yang cukup dan memperhitungkan potensi kenaikan.

Industri makanan juga perlu merumuskan strategi jika harga bahan baku naik secara mendadak.

Investor di sektor agribisnis mencermati kondisi ini karena potensi margin produsen cabai bisa melebar jika pasokan terbatas.

Namun mereka juga mencermati risiko politis dan sosial dari kenaikan harga pangan di masa liburan.

Secara keseluruhan, pemerintah menegaskan bahwa ketersediaan cabai tetap menjadi prioritas agar rakyat tetap bisa menikmati makanan dengan harga wajar.

Jika langkah antisipasi berjalan baik, lonjakan harga bisa dikendalikan dan bencana pangan minimal terjadi.

Editor : Jasinta Bolang
#CurahHujan #EkonomiBisnis #Cabai #nataru #HargaPangan