Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Purbaya – Danantara Matangkan Rencana ke China Bahas Utang Whoosh

Jasinta Bolang • Kamis, 4 Desember 2025 | 09:30 WIB
Photo
Photo

MANADOPOST - Purbaya Yudhi Sadewa dan CEO Danantara, Rosan Roeslani, menggelar pertemuan hari ini untuk membicarakan utang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung alias Whoosh.

Dalam pertemuan itu, Purbaya menyampaikan bahwa keikutsertaannya dalam negosiasi ke China akan bersyarat — dia ingin skema dan lawan negosiasi jelas dulu sebelum berangkat.

Rosan mengakui bahwa ada banyak permintaan dan opsi dalam pembahasan, termasuk restrukturisasi utang dan susunan delegasi ke China.

Pemerintah melalui Kemenkeu dan Danantara sepakat membentuk tim teknis gabungan untuk merancang proposal restrukturisasi yang “matang” sebelum negosiasi.

Menurut Rosan, proposal itu akan mencakup aspek keuangan, pembiayaan, serta peran siapa saja — supaya ketika ke China nanti diskusinya efektif.

Purbaya menekankan bahwa dalam kunjungan ke China, ia harus tahu dengan jelas siapa pihak mitra negosiasi: apakah bank pemberi pinjaman, regulator, atau lembaga keuangan China.

Jika pihak mitra tidak jelas, menurut Purbaya, keberangkatan tidak akan dilakukan — penting untuk menghindari negosiasi setengah-setengah.

Meski rencana ke China disebut kemungkinan besar terlaksana pada bulan Desember 2025, kedua pihak belum menetapkan tanggal pasti.

Rencana ini muncul di tengah keprihatinan bahwa utang Whoosh sangat besar dan pembayarannya harus diatur ulang agar tidak membebani APBN secara langsung.

Proyek Whoosh, yang dibiayai sebagian besar oleh pinjaman luar negeri, menghadapi tekanan besar dari mahalnya pelunasan dan operasional.

Baca Juga: BI Sulut Panen Cabai di Langowan, Upaya Tekan Inflasi Daerah

Dengan restrukturisasi, diharapkan beban cicilan bisa disesuaikan agar proyek bisa tetap berjalan tanpa menimbulkan krisis fiskal.

Danantara berharap bahwa restrukturisasi ini bisa membuat proyek lebih sustainable — baik dari sisi keuangan maupun operasional.

Namun Purbaya menekankan bahwa segala keputusan harus berdasarkan kajian matang dan transparan, agar tidak ada beban tak terduga bagi negara.

Bagi publik, kabar ini melegakan karena menunjukkan bahwa pemerintah dan pihak terkait menyadari risiko dan berusaha mencari solusi bersama.

Tapi ada juga kekhawatiran: apakah restrukturisasi berarti tambahan beban utang di masa depan, atau ada skema pembayaran dengan bunga baru?

Pemerintah dan Danantara menjamin bahwa setiap langkah akan dijelaskan transparan — partisipasi publik dan pengawasan juga akan dijamin.

Negosiasi di China nanti bukan hanya soal utang, tetapi juga potensi restrukturisasi, penyesuaian tenor, dan bentuk pembayaran utang yang disetujui bersama.

Jika skema berhasil, proyek Whoosh bisa mendapat kelonggaran waktu pembayaran — memberi ruang bagi proyek berjalan sambil menunggu arus kas stabil.

Sebaliknya, jika negosiasi gagal, proyek bisa menghadapi resiko serius: beban utang besar dan kemungkinan restrukturisasi internal perusahaan.

Secara keseluruhan, rencana Purbaya ikut negosiasi ke China dengan syarat jelas menunjukkan bahwa pemerintah ingin bertanggung jawab — bukan sekadar diam — dalam menyelesaikan utang besar proyek strategis.

(ra)

Editor : Jasinta Bolang
#NegosiasiChina #UtangProyek #WHOOSH #PurbayaYudhiSadjewa #Danantara