Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Lewat Listrik, PLN Modernisasi Petani Garam di Jeneponto

Ayurahmi Rais • Senin, 8 Desember 2025 | 14:43 WIB
Photo
Photo

MANADOPOST.ID – PT PLN (Persero) Unit Induk Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (UIP3B) Sulawesi meresmikan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pelita Garam, sebuah inisiatif strategis yang menghadirkan elektrifikasi sebagai penggerak utama modernisasi usaha garam rakyat di Kabupaten Jeneponto.

Melalui penyediaan energi listrik untuk mengoperasikan mesin pengering dan mesin penghalus garam, program ini mampu meningkatkan efisiensi produksi, kualitas hasil panen, dan daya saing komoditas garam lokal. Pelita Garam merupakan bagian dari rangkaian peresmian tiga program TJSL PLN yang dipusatkan di Desa Gunung Silanu.

Peresmian ini dihadiri oleh Bupati Jeneponto, H. Paris Yasir, bersama jajaran Forkopimda Jeneponto, serta manajemen PLN UIP3B Sulawesi yang diwakili oleh Senior Manager Keuangan, Komunikasi dan Umum, Hary Subagyo, mewakili GM PLN UIP3B Sulawesi, Fermi Trafianto, beserta jajaran Manajemen PLN UIP3B Sulawesi. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menjadi simbol kuatnya sinergi dalam modernisasi sektor garam rakyat melalui pemanfaatan energi listrik.

Dalam sambutannya, Bupati Jeneponto menyampaikan apresiasinya terhadap kontribusi PLN. “Pelita Garam benar-benar menjawab kebutuhan petani kami. Elektrifikasi memungkinkan penggunaan mesin pengering dan penghalus garam sehingga proses produksi lebih efisien dan kualitas produk semakin meningkat. Pemerintah daerah sangat mengapresiasi langkah PLN dan berharap program ini terus berkelanjutan,” ujarnya.

Elektrifikasi melalui Pelita Garam terbukti memberikan solusi atas berbagai kendala yang selama ini membatasi produktivitas petani garam, khususnya dalam proses pengeringan yang bergantung penuh pada cuaca. Sebelum program, petani membutuhkan waktu 2–3 hari untuk mengeringkan ± 50–70 kg garam.

Setelah elektrifikasi, mesin pengering bertenaga listrik mampu mengeringkan 50 kg garam hanya dalam 6–8 jam, menjadikan proses ini jauh lebih cepat, stabil, dan tidak lagi dipengaruhi cuaca buruk.

Pada proses penghalusan garam, peningkatan produktivitas juga sangat signifikan. Sebelum adanya mesin, petani hanya dapat menghasilkan 20–25 kg garam halus per hari secara manual dengan kualitas yang tidak seragam.

Setelah dukungan elektrifikasi, mesin penghalus garam mampu memproses 50–60 kg garam per jam, menghasilkan produk yang jauh lebih higienis, seragam, dan bernilai tambah tinggi. Hal ini tidak hanya meningkatkan volume produksi, tetapi juga membuka akses ke segmen pasar premium dan retail modern.

Dengan peningkatan kecepatan dan volume produksi tersebut, Program Pelita Garam memberikan manfaat langsung kepada sekitar 40 petani garam, dengan potensi peningkatan produktivitas keseluruhan mencapai 20–30%. Transformasi ini menjadi pondasi penguatan daya saing garam lokal Jeneponto di pasar yang lebih luas.

Sebagai dukungan menyeluruh, PLN juga membangun gudang penampungan garam seluas 4 × 15 meter, menyediakan mesin pengering dan mesin penghalus garam, serta memberikan pendampingan legalitas halal dan BPOM agar produk garam memenuhi standar distribusi modern. Selain itu, PLN turut menyusun branding produk untuk memperkuat identitas garam Jeneponto di pasar regional maupun nasional.

GM PLN UIP3B Sulawesi, Fermi Trafianto, menegaskan komitmen PLN dalam mendukung transformasi ekonomi masyarakat pesisir. “Lewat Pelita Garam, PLN ingin memastikan bahwa listrik benar-benar menjadi katalis peningkatan kesejahteraan.

Dukungan mesin pengering, mesin penghalus, fasilitas penyimpanan, dan pendampingan legalitas serta branding merupakan bentuk nyata modernisasi usaha garam rakyat. PLN UIP3B Sulawesi akan terus bersinergi dengan pemerintah daerah agar program ini memberikan manfaat berkelanjutan,” jelasnya.

Modernisasi melalui elektrifikasi ini membuka peluang diversifikasi produk seperti garam halus premium, garam konsumsi bernilai tambah, hingga garam kemasan industri. Dengan fasilitas penyimpanan yang lebih memadai, kualitas produk dapat dipertahankan lebih lama sebelum masuk ke rantai distribusi, sehingga harga jual tetap stabil dan kompetitif.

Pelita Garam diharapkan menjadi model transformasi usaha garam rakyat yang dapat direplikasi di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Dengan sinergi antara PLN, pemerintah daerah, dan kelompok petani, program ini diyakini mampu memperkuat ekonomi lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Editor : Ayurahmi Rais