Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

2026, Optimis Ekonomi Tetap Tumbuh 5 Hingga 6 Persen

Ayurahmi Rais • Senin, 5 Januari 2026 | 18:59 WIB

 

 

Photo
Photo

 

MANADOPOST.ID—Meskipun kondisi ekonomi nasional dan global belum sepenuhnya pulih, namun kinerja perekonomian Sulawesi Utara (Sulut) diproyeksikan akan tetap solid dan terjaga di tahun 2026. 

Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara mencatat pertumbuhan ekonomi Sulut hingga triwulan III 2025 mencapai 5,5. Kepala BPS Sulut, Aidil Adha, menjelaskan, kinerja ekonomi pada triwulan III 2025 ditopang oleh sejumlah sektor utama. Industri pengolahan tercatat sebagai sumber pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar dengan kontribusi sekitar 1,25 persen.

“Selain industri pengolahan, pertumbuhan ekonomi Sulut juga didorong oleh sektor pertanian, transportasi dan pergudangan, perdagangan, serta beberapa lapangan usaha lainnya,” sebutnya.

Optimisme soal PE juga dipaparkan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Manado. Yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Sulut 2026 ada di kisaran 5,45-5,65 persen. Ketua ISEI Cabang Manado Joy Tulung Phd menyoroti, pertumbuhan ekonomi sering kali diperlakukan seperti target lomba lari: siapa paling cepat, dia dianggap paling berhasil.

Padahal, ekonomi daerah bukan soal siapa berani menyebut angka tertinggi, melainkan siapa paling jujur membaca kapasitasnya. Dalam konteks Sulut 2026, menempatkan proyeksi pertumbuhan pada kisaran 5,45-5,65 persen bukanlah sikap pesimistis, melainkan bentuk kehati-hatian yang berakal. 

Angka tersebut mencerminkan kekuatan riil ekonomi Sulawesi Utara yaitu konsumsi rumah tangga yang relatif stabil, pariwisata yang terus pulih, serta belanja pemerintah yang tetap menjadi penopang utama. Namun, pada saat yang sama, belum terlihat lompatan struktural yang cukup besar untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ke level 6–7 persen secara berkelanjutan. "Optimisme tentu penting, tetapi ekonomi tidak tumbuh karena harapan; ia tumbuh karena investasi, produktivitas, dan kapasitas," tekannya.

Lebih jauh, keberlanjutan menjadi kunci, pertumbuhan yang sehat harus mampu bertahan tanpa terus-menerus disuntik oleh stimulus fiskal, tidak memicu tekanan inflasi berlebihan, serta tidak mengorbankan stabilitas lingkungan dan fiskal di masa depan. Di sinilah kehati-hatian menjadi kebajikan ekonomi.

"Dengan kerangka berpikir ini, pertumbuhan 5,45-5,65 persen yang stabil, inklusif, dan tahan guncangan justru lebih bernilai dibandingkan pertumbuhan tinggi yang sesaat. Bagi ISEI, ekonomi daerah yang baik bukan yang berlari paling kencang, melainkan yang mampu berjalan jauh tanpa tersandung," tukasnya.

Di sisi lain, ketahanan ekonomi Sulut juga tercermin secara historis. Pada masa pandemi Covid-19, perekonomian Sulut sempat mengalami kontraksi -0,99 persen pada 2020.

Namun hanya dalam satu tahun, ekonomi daerah ini mampu bangkit dengan pertumbuhan 4,16 persen pada 2021, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 3,70 persen pada periode yang sama. Sejak saat itu, pertumbuhan ekonomi Sulut terus terjaga di kisaran lima persen (selengkapnya lihat grafis, red).

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sulut dibawah kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus dan Wagub Victor Mailangkay menegaskan arah kebijakan pembangunan yang difokuskan pada penguatan ekonomi daerah. Dalam Rapat Paripurna KUA-PPAS APBD Tahun Anggaran 2026, YSK menekankan pentingnya fokus belanja daerah pada program yang memberikan dampak langsung terhadap perekonomian.

“Berdasarkan arah pembangunan ini, seluruh perangkat daerah harus tetap fokus pada kegiatan yang berdampak langsung pada peningkatan perekonomian daerah,” tekannya.

Pemerintah menargetkan sejumlah indikator ekonomi makro pada 2026, mulai dari peningkatan pertumbuhan ekonomi, inflasi yang tetap terkendali, penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), hingga rasio gini yang tetap terjaga.

Gubernur YSK menegaskan bahwa pencapaian target pembangunan tersebut membutuhkan kerja sama seluruh pemangku kepentingan. “Mewujudkan prioritas pembangunan dan mencapai target ekonomi makro adalah tanggung jawab kita bersama. Kita harus mengupayakannya secara serius dan berkesinambungan,” tegasnya.

Dengan fondasi ekonomi yang relatif solid dan sinergi lintas sektor, perekonomian Sulawesi Utara diperkirakan tetap tumbuh hingga 2026, meskipun dinamika ekonomi nasional dan global masih menghadirkan tantangan. 

Pertumbuhan Ekonomi Sulut Selang Tahun 2020 Hingga Triwulan III-2025. 

*Tahun 2020: -0,99 (Masa Covid-19)

*Tahun 2021: 4,16 

*Tahun 2022: 5,42

*Tahun 2023: 5,48

*Tahun 2024: 5,39

*Triwulan III-2025: 5,5 

Sumber: BPS Sulut, Diolah Manado Post, Minggu (4/1/2026).

 

 

 

 

 

Editor : Ayurahmi Rais