Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Cuaca Ekstrem Ganggu Aktivitas Sentra Food Truck, Omset Menurun, Operasional Terbatas

Ayurahmi Rais • Selasa, 13 Januari 2026 | 19:15 WIB

 

 

Salah satu food truck yang ada di kawasan Malalayang Beach Walk.
Salah satu food truck yang ada di kawasan Malalayang Beach Walk.

 

MANADOPOST.ID — Hujan ekstrem yang melanda Kota Manado sejak sepekan terakhir berdampak langsung pada denyut ekonomi pelaku usaha mikro, khususnya pedagang food truck yang beroperasi di ruang terbuka.

Sejumlah sentra kuliner seperti kawasan Megamas, Skyhall Bahu, Flamboyan Street Food, hingga Malalayang Beach Walk (MBW) I dan II mengalami penurunan aktivitas jual beli akibat cuaca yang tak bersahabat.

Curah hujan tinggi yang kerap disertai angin kencang memaksa para pelaku usaha mengurangi jam operasional, bahkan menutup lapak sementara demi menghindari kerugian. Kondisi ini menjadi pukulan tersendiri bagi pedagang yang mengandalkan keramaian sore hingga malam hari.

Kristin, salah satu barista food truck Brill yang beroperasi di MBW II mengungkapkan, dalam kondisi normal ia biasa berjualan mulai pukul 16.00 hingga 23.00 WITA. Namun sejak awal tahun, hujan hampir turun setiap hari sehingga ia baru bisa membuka lapak sekitar pukul 17.00 WITA, itupun jika hujan mereda.

“Kalau hujan belum berhenti, kami terpaksa menunggu. Tutupnya juga lebih cepat karena semua serba outdoor,” ujarnya.

Dampak cuaca ekstrem tersebut terasa signifikan pada pendapatan harian. Ia mengaku, omset yang biasanya bisa mencapai Rp1 juta per hari kini turun drastis hingga di bawah Rp500 ribu. Bahkan dalam sepekan terakhir, lapaknya hanya buka pada tanggal 5, 6, 8, dan 9 Januari 2026.

“Tanggal 6 itu hujan lebat dan angin dari pagi sampai malam, jadi lebih baik tutup saja daripada rugi,” tambahnya.

Selain cuaca, persoalan infrastruktur turut memperberat beban pedagang. Kondisi drainase di kawasan MBW II dinilai belum memadai.

Saat hujan deras, genangan air kerap muncul di sekitar area berjualan sehingga menghambat aktivitas pedagang dan menyulitkan pengunjung untuk bergerak.

“Kalau hujan ekstrem, air menggenang dan sangat menyulitkan kami dan pelanggan. Kami sering harus menyerok air lalu membuangnya ke jalan atau ke selokan yang tertutup batu besar,” keluh salah satu pelaku usaha lainnya.

Masalah penerangan juga menjadi keluhan serius. Lampu-lampu tiang di sekitar area berjualan kerap mati, memperparah situasi saat hujan dan malam hari.

Bahkan pada Minggu (12/1/2026), sempat terjadi ledakan pada kotak listrik yang menyebabkan seluruh lampu di ujung kawasan MBW II padam total.

“Gangguan seperti ini jelas mempersulit aktivitas berjualan. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah maupun pengelola kawasan, terutama untuk perbaikan drainase dan penerangan,” harapnya.

Dampak hujan ekstrem ini tidak hanya dirasakan pedagang, tetapi juga pengunjung. Pantauan Manado Post, Kawasan MBW yang biasanya dipadati ribuan warga untuk menikmati kopi sore sambil menyaksikan panorama matahari terbenam kini jauh lebih sepi.

"Biasanya kan duduk sambil liat laut. Tapi karena ini masih musim hujan, pilih tempat nongkrong yang tertutup dulu," sungkat Valen, salah satu pengunjung. 

Editor : Ayurahmi Rais