MANADOPOST.ID – Industri financial technology (fintech) diproyeksikan menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. Selain meningkatkan inklusi keuangan nasional, fintech berperan penting dalam penciptaan lapangan kerja, penguatan ekonomi daerah melalui UMKM, serta menarik minat investor asing.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, layanan keuangan digital seperti permodalan, investasi mikro, dan pembayaran digital menyumbang 80,5 persen terhadap tingkat inklusi keuangan nasional. Capaian ini menegaskan peran strategis fintech dalam memperluas akses keuangan, khususnya di wilayah perdesaan.
Sejalan dengan tren tersebut, Amartha sebagai perusahaan fintech yang telah 16 tahun melayani UMKM akar rumput mencatatkan pertumbuhan yang solid. Sejak berdiri pada 2010, Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp37 triliun modal kerja kepada lebih dari 3,7 juta UMKM di lebih dari 50.000 desa. Sepanjang 2025 saja, nilai penyaluran mencapai Rp13,2 triliun.
Pertumbuhan ini ditopang oleh pemahaman mendalam Amartha terhadap kebutuhan masyarakat perdesaan serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menjaga kualitas portofolio pembiayaan.
Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, menyampaikan bahwa pada 2025 Amartha semakin memperkuat posisinya sebagai penyedia layanan keuangan digital yang terintegrasi bagi UMKM dan masyarakat desa.
“Produk Amartha didesain berdasarkan pemahaman menyeluruh terhadap kebutuhan dan tantangan UMKM akar rumput. Hal ini diiringi dengan penguatan tata kelola dan mitigasi risiko. Kombinasi pemahaman pasar, produk relevan, governansi yang kuat, serta kemitraan global menjadi fondasi pertumbuhan berkelanjutan Amartha,” ujarnya.
Amartha juga telah mengantongi izin dompet digital dari Bank Indonesia yang melengkapi ekosistem layanan keuangan dalam aplikasi AmarthaFin. Melalui satu aplikasi, pengguna dapat mengakses investasi mikro, pembayaran digital, jaringan AmarthaLink, hingga pengajuan pinjaman modal kerja secara cepat dan mudah.
Untuk menjangkau masyarakat yang belum terlayani layanan keuangan digital, Amartha mengembangkan program AmarthaLink. Program ini memungkinkan pengguna AmarthaFin menjadi agen pembayaran digital di komunitasnya. Hingga akhir 2025, lebih dari 50.000 pengguna telah bergabung sebagai bagian dari perluasan infrastruktur layanan digital di perdesaan.
Dalam kegiatan media gathering bertajuk “Digital untuk Desa, Potensi Fintech Dorong Ekonomi”, Komisaris Utama Amartha, Rudiantara, menyoroti potensi fintech dalam menarik investasi internasional.
“Model bisnis yang jelas, fokus pada perempuan pengusaha mikro, manajemen risiko yang baik, serta penerapan tata kelola setara perusahaan publik menghasilkan kinerja fundamental yang solid. Hal ini meningkatkan kepercayaan lebih dari 30 investor nasional dan internasional sekaligus mendorong pergerakan ekonomi di akar rumput,” jelasnya.
Secara industri, fintech Indonesia masih menarik bagi investor global. Aliran investasi asing ke sektor fintech tercatat mencapai US$549 juta pada 2024, mencerminkan fondasi industri yang kuat di tengah dinamika pendanaan global.
Kontribusi fintech juga terlihat pada penciptaan lapangan kerja. Di tingkat desa, UMKM mitra Amartha telah membuka lebih dari 110.000 lapangan kerja. Sementara itu, 65 persen perusahaan fintech nasional menyatakan rencana penambahan karyawan tetap, menunjukkan optimisme industri terhadap prospek ke depan.
Roadmap Fintech 2026
Memasuki 2026, fintech diperkirakan akan memainkan peran yang lebih besar dalam mendorong ekonomi nasional maupun daerah. Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, menilai perlambatan kredit UMKM dari perbankan membuka peluang pembiayaan alternatif melalui pinjaman daring.
“Penyaluran kredit UMKM dari perbankan mengalami kontraksi secara tahunan, sementara kebutuhan modal masih tinggi. Kondisi ini membuat pinjaman daring tetap tumbuh pada 2025 dan berlanjut di 2026,” ujarnya.
Menurut Huda, kehadiran pinjaman daring juga memperkuat inklusi keuangan desa melalui peningkatan kebutuhan agen bank dan layanan pembayaran digital, sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Meski peluang terbuka lebar, ekspansi fintech tetap perlu dibarengi mitigasi risiko, mulai dari gejolak geopolitik global, potensi fraud, hingga literasi keuangan digital masyarakat yang masih perlu ditingkatkan.
Pada 2026, Amartha menegaskan komitmennya untuk terus menjangkau jutaan UMKM akar rumput dan mendorong pertumbuhan inklusif. “Kami ingin membangun komunitas desa yang tangguh, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kualitas hidup jutaan keluarga,” tutup Andi Taufan.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Amartha akan kembali menggelar Asia Grassroots Forum (AGF) 2026 pada Mei mendatang. Mengusung tema “Enabling Growth, Elevating Financial Health”, forum internasional ini akan mempertemukan investor global, pembuat kebijakan, dan sektor swasta untuk mendorong kualitas kesehatan finansial masyarakat akar rumput.(ame)
Editor : Amelia Beatrix