MANADOPOST.ID- Perombakan besar di jajaran pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pasca mundurnya tiga figur di puncak kepemimpinan memicu perhatian publik dan pelaku pasar.
Ketua Dewan Komisioner OJK yang sebelumnya dijabat Mahendra Siregar kini resmi digantikan oleh Friderica Widyasari Dewi, yang ditunjuk sebagai Ketua sekaligus Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK.
Pergantian ini terjadi di tengah tekanan pasar modal, termasuk anjloknya sejumlah harga saham, sehingga memunculkan beragam spekulasi.
Sebagian pihak menilai dinamika ini sarat muatan politik, sementara yang lain memandang pengunduran diri pejabat OJK dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai bentuk tanggung jawab moral atas gejolak pasar.
Menanggapi situasi ini, Ekonom Sulut Prof. Joy Tulung, PhD, menegaskan, perubahan kepemimpinan di lembaga otoritas keuangan memang memiliki implikasi langsung terhadap persepsi pasar, namun tidak serta-merta mencerminkan masalah struktural pada perekonomian.
“Pergantian pimpinan di OJK dan BEI adalah peristiwa penting yang secara alamiah memengaruhi psikologi pelaku pasar. Pasar modal sangat sensitif terhadap isu kepastian kebijakan, stabilitas kelembagaan, dan kredibilitas regulator,” ujar Tulung, yang juga Ketua ISEI Manado
Menurutnya, respons awal investor yang cenderung berhati-hati, bahkan memicu volatilitas atau pelemahan indeks disebabkan oleh faktor ketidakpastian jangka pendek, bukan perubahan fundamental ekonomi maupun kinerja emiten.
“Ini lebih bersifat psikologis. Bukan karena fundamental perusahaan tiba-tiba memburuk, melainkan karena pasar sedang menyesuaikan diri dengan perubahan otoritas,” jelasnya.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi ini optimis penunjukan Friderica Widyasari Dewi justru mengirimkan sinyal positif terkait kesinambungan kebijakan.
Sebagai figur internal yang lama berkecimpung dalam perumusan dan implementasi pengawasan sektor jasa keuangan, Friderica dinilai memahami arah dan tantangan OJK secara mendalam.
“Dari sisi pasar, ini penting. Artinya, arah kebijakan ke depan cenderung berkelanjutan, bukan perubahan drastis. Kontinuitas regulasi adalah faktor kunci untuk meredam ketidakpastian,” katanya.
Ia memperkirakan kepemimpinan baru OJK akan menitikberatkan pada penguatan stabilitas sistem keuangan, tata kelola, serta perlindungan investor, terutama investor ritel. Fokus ini dinilai krusial di tengah kondisi global yang masih dibayangi suku bunga tinggi, ketidakpastian ekonomi dunia, dan dinamika geopolitik.
Dalam jangka menengah, ia melihat kebijakan yang menekankan kredibilitas regulator justru dapat memperkuat fondasi pasar modal nasional, meskipun pasar belum tentu langsung bereaksi positif dalam jangka pendek.
“Dampaknya ke harga saham tidak merata. Emiten dengan fundamental kuat dan tata kelola baik relatif lebih tahan terhadap guncangan sentimen,” ujarnya.
Sebaliknya, saham-saham yang selama ini digerakkan oleh spekulasi jangka pendek dan likuiditas sempit berpotensi lebih tertekan jika OJK dan BEI memperketat pengawasan serta meningkatkan kualitas perdagangan.
Ke depan, pasar disebut akan mencermati langkah konkret OJK dan BEI, terutama dalam menjaga likuiditas, meningkatkan kualitas emiten, serta memperbaiki mekanisme perdagangan agar lebih mencerminkan kondisi fundamental.
“Kunci utamanya adalah komunikasi kebijakan yang jelas dan konsisten. Jika itu dilakukan, kepercayaan investor bisa pulih,” tegasnya.
Lanjutnya, pergantian pejabat di OJK dan BEI tidak dapat dipandang sebagai sinyal negatif secara struktural.
"Volatilitas jangka pendek mungkin tak terhindarkan, tetapi dalam jangka menengah hingga panjang, arah kebijakan yang fokus pada stabilitas, tata kelola, dan perlindungan investor justru berpotensi memperkuat pasar modal Indonesia secara lebih sehat dan berkelanjutan," kuncinya.
Editor : Ayurahmi Rais