MANADOPOST.ID- Perekonomian Sulawesi Utara (Sulut) mencatatkan pertumbuhan 5,9 persen pada triwulan IV 2025. Secara angka, data ini menunjukkan ekonomi daerah masih bergerak positif.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, Agus Sudibyo menjelaskan, capaian ini didukung oleh pertumbuhan seluruh lapangan usaha.
Meskipun sedikit mengalami pergeseran, di mana sektor-sektor berbasis konsumsi, jasa, dan mobilitas masyarakat bergerak lebih cepat dibandingkan sektor primer.
Mantan Kepala BPS Jambi ini memaparkan, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menjadi penopang utama ekonomi Sulut tetap tumbuh, tapi tidak sekuat sektor-sektor lain.
Artinya, ekonomi daerah ini tidak lagi bergantung pada sektor primer, tetapi mulai ditopang oleh aktivitas hilir, distribusi, dan jasa pendukung.
Di sisi lain, ia menekankan pertumbuhan sektor jasa dan konsumsi perlu dibaca sebagai peluang sekaligus tantangan.
Peluang karena menunjukkan ekonomi yang dinamis, namun tantangan karena pertumbuhan yang terlalu bergantung pada peredaran uang dan momentum musiman berpotensi melemah jika tidak diimbangi dengan penguatan produksi dan nilai tambah.
Sehingga, lanjutnya, berdasarkan struktur yang terlihat, Agus menyebut penguatan sektor-sektor produktif menjadi kunci menjaga pertumbuhan ekonomi Sulut tetap berkelanjutan.
" Sektor pertanian dan perikanan, misalnya, tidak cukup hanya bertumpu pada produksi primer, tetapi perlu didorong ke arah pengolahan, pemasaran, dan integrasi dengan sektor pariwisata dan perdagangan," tegasnya saat menyampaikan rilis, Kamis (5/2).
Selain itu, pertumbuhan aktivitas logistik dan transportasi menunjukkan peluang besar bagi Sulut untuk mengembangkan diri sebagai pusat distribusi dan hub ekonomi kawasan. Dengan posisi geografis yang strategis, peningkatan efisiensi logistik, infrastruktur pendukung, dan layanan usaha dapat memperkuat daya saing ekonomi daerah.
Agus juga melihat potensi besar pada sektor pariwisata yang terintegrasi dengan ekonomi lokal. Pertumbuhan jasa akomodasi dan makan minum menunjukkan meningkatnya aktivitas wisata, namun dampaknya akan lebih kuat jika mampu menarik keterlibatan pelaku UMKM, petani, dan nelayan sebagai bagian dari rantai pasok pariwisata.
Sehingga inovasi kebijakan dan pengembangan sektor menjadi penting agar pertumbuhan tidak terpusat, tetapi menyebar ke lebih banyak lapisan ekonomi masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Karo Ekonomi Pemprov Sulut Reza Dotulong menilai untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di atas lima persen ke depan memerlukan pendekatan yang lebih terarah.
Ia menyampaikan pemerintah mendorong penguatan agroindustri, agromarketing, dan agroproduksi sebagai upaya meningkatkan nilai tambah sektor unggulan daerah.
Tak hanya itu, pemerintah juga memperkuat pembangunan infrastruktur dasar seperti drainase dan irigasi, peningkatan sarana dan prasarana budidaya, serta optimalisasi UMKM agar mampu terhubung dengan rantai ekonomi yang lebih luas. Di sektor jasa, pengembangan pariwisata cerdas dan sentra layanan publik prima diarahkan untuk menekan biaya ekonomi dan meningkatkan efisiensi usaha.
Ia menambahkan pemerintah mencermati struktur ekspor Sulut yang masih didominasi produk tertentu. "Dari data BPS 75 persen ekspor kita ini didominasi produk olahan kelapa sawit. Padahal Sulut tidak punya sawit. Karena itu, kita fokus pada hilirisasi industri perkebunan, pertanian, dan perikanan menjadi agar aktivitas ekspor benar-benar menghasilkan nilai tambah yang dinikmati di daerah," ucapnya yakin.
Seluruh langkah tersebut, lanjut Reza, tetap diselaraskan dengan upaya menjaga kualitas lingkungan hidup, kawasan permukiman, serta mendukung agenda perubahan iklim dan pengembangan energi terbarukan.
Ia pun optimistis, dengan struktur ekonomi yang terus bergerak dan peluang yang terbuka, tantangan Sulut ke depan bukan hanya menjaga laju pertumbuhan, tetapi memastikan sumber pertumbuhan tersebut semakin kuat, inovatif, dan berkelanjutan.
Daftar 17 Lapangan Usaha yang Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Sulut Triwulan IV 2025.
1. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
Kontribusi PDRB: 19,75 persen
Pertumbuhan YoY: 3,08 persen
2. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
Kontribusi PDRB: 13,94 persen
Pertumbuhan YoY: 6,27 persen
3. Transportasi dan Pergudangan
Kontribusi PDRB: 12,50 persen
Pertumbuhan YoY: 12,46 persen
4. Konstruksi
Kontribusi PDRB: 10,92 persen
Pertumbuhan YoY: 1,41 persen
5. Industri Pengolahan
Kontribusi PDRB: 10,90 persen
Pertumbuhan YoY: 8,98 persen
6. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib
Kontribusi PDRB: 5,97 persen
Pertumbuhan YoY: 4,53 persen
7. Pertambangan dan Penggalian
Kontribusi PDRB: 5,02 persen
Pertumbuhan YoY: 3,96 persen
8. Informasi dan Komunikasi
Kontribusi PDRB: 3,90 persen
Pertumbuhan YoY: 6,84 persen
9. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial
Kontribusi PDRB: 3,82 persen
Pertumbuhan YoY: 2,42 persen
10. Jasa Keuangan dan Asuransi
Kontribusi PDRB: 3,29 persen
Pertumbuhan YoY: 9,80 persen
11. Real Estat
Kontribusi PDRB: 3,04 persen
Pertumbuhan YoY: 6,95 persen
12. Jasa Pendidikan
Kontribusi PDRB: 2,86 persen
Pertumbuhan YoY: 6,35 persen
13. Jasa Lainnya
Kontribusi PDRB: 1,93 persen
Pertumbuhan YoY: 8,62 persen
14. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum
Kontribusi PDRB: 1,90 persen
Pertumbuhan YoY: 20,67 persen
15. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang
Kontribusi PDRB: 0,09 persen
Pertumbuhan YoY: 6,91 persen
16. Pengadaan Listrik dan Gas
Kontribusi PDRB: 0,09 persen
Pertumbuhan YoY: 3,32 persen
17. Jasa Perusahaan
Kontribusi PDRB: 0,09 persen
Pertumbuhan YoY: 9,06 persen
Sumber: BPS Diolah Manado Post, Kamis (5/2/2026).
Editor : Ayurahmi Rais