MANADOPOST.ID — Amartha resmi meluncurkan Amartha Prosper, solusi investasi berbasis dampak (impact investment) yang dirancang untuk menghubungkan dana investor dengan pertumbuhan UMKM perempuan ultra mikro di wilayah perdesaan Indonesia. Peluncuran dilakukan dalam media briefing bertajuk “Peluncuran Amartha Prosper, Alternatif Investasi Dukung UMKM Perempuan di Perdesaan” di Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Langkah ini sejalan dengan meningkatnya inklusi keuangan nasional yang telah mencapai 80,5 persen pada 2025 berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Capaian tersebut didorong oleh peran fintech yang semakin mampu menjangkau sektor UMKM akar rumput melalui layanan keuangan digital. Dalam konteks ini, Amartha Prosper hadir sebagai instrumen investasi yang tidak hanya menawarkan imbal hasil, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi yang nyata.
Chief Funding Officer Amartha, Julie Fauzie, menyatakan bahwa peluncuran Amartha Prosper merupakan strategi jangka panjang untuk memperluas akses investasi berbasis dampak yang terukur dan bertanggung jawab. Menurutnya, produk ini menjadi alternatif investasi pendapatan tetap yang relevan bagi investor modern sekaligus memperkuat sektor UMKM produktif di Indonesia.
Melalui skema Amartha Prosper Grassroots Growth Series (GGS), investor dapat menyalurkan dana ke ribuan UMKM mitra Amartha yang tersebar di berbagai wilayah dan sektor usaha. Model ini memungkinkan diversifikasi portofolio dengan tingkat risiko yang lebih terkelola.
Amartha Prosper menawarkan empat profil investasi dengan potensi imbal hasil hingga 14 persen, yakni Balanced-Flex, Balanced, Progressive, dan Dynamic. Masing-masing profil memiliki karakteristik risiko dan potensi keuntungan yang berbeda, serta dapat diakses langsung melalui aplikasi digital Amartha.
Sejak berdiri pada 2010, Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp37 triliun modal usaha kepada lebih dari 3,7 juta perempuan pelaku UMKM di lebih dari 50 ribu desa. Pada 2024, mitra UMKM Amartha juga tercatat menciptakan lebih dari 110.000 lapangan kerja baru, menunjukkan kontribusi nyata terhadap ekonomi lokal dan nasional.
Dampak program ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha seperti Ibu Kamila, pemilik usaha nasi kuning dan soto banjar dari Kalimantan Selatan. Ia mengaku sebelumnya kerap menolak pesanan karena keterbatasan modal, namun setelah menerima pendanaan dari Amartha Prosper, produksinya menjadi lebih stabil dan pendapatannya meningkat.
Tren investasi berbasis dampak semakin menguat, sejalan dengan laporan Global Impact Investing Network (GIIN) 2025 yang menunjukkan bahwa 31 persen investor berencana meningkatkan investasi berdampak di Asia Tenggara dalam lima tahun ke depan. Certified Financial Planner Melvin Mumpuni menilai bahwa investor kini semakin mempertimbangkan transparansi, manajemen risiko, dan dampak sosial dalam keputusan investasi mereka.
Sebagai bagian dari upaya memperluas dampak di tingkat komunitas, Amartha juga menggelar program “Cerita Rasa by Amartha Prosper”, kompetisi memasak yang diikuti lebih dari 1.000 ibu mitra Amartha dari berbagai wilayah di Indonesia. Program ini tidak hanya mendorong kreativitas usaha kuliner, tetapi juga memperkuat peran perempuan desa dalam menjaga keberlanjutan ekonomi keluarga dan pangan lokal.
Julie Fauzie menutup dengan optimisme bahwa Amartha Prosper akan menjadi jembatan antara investor dan pertumbuhan ekonomi komunitas yang berkelanjutan, dengan tata kelola yang kuat dan fokus pada pemberdayaan UMKM perdesaan.(ame)
Editor : Amelia Beatrix