MANADOPOST.ID– Nama PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) mendadak ramai diperbincangkan di pasar modal setelah muncul kabar rencana masuknya Nagita Slavina Mariana Tengker sebagai pemegang saham pengendali baru.
Perempuan berdarah Kawanua itu disebut tengah melakukan negosiasi pengambilalihan saham emiten sektor industri percetakan tersebut.
Informasi tersebut terungkap melalui keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (12/2).
Manajemen VISI menyebut telah menerima pemberitahuan resmi terkait proses negosiasi yang dilakukan calon pengendali baru dengan pemegang saham penjual.
“Pada 11 Februari 2026, perseroan menerima surat pemberitahuan atas pengumuman negosiasi yang dilakukan oleh Nagita Slavina sebagai calon pengendali baru,” ujar Direktur Utama VISI dalam keterbukaan informasi tersebut.
Kabar ini membuat perhatian publik dan investor tertuju pada profil serta kondisi keuangan perusahaan yang bergerak di bidang distribusi flex banner, tinta, display, dan PVC board tersebut.
VISI merupakan perusahaan yang berdiri di Surabaya sejak 2007 dan dikenal sebagai salah satu distributor material media visual di Indonesia.
Perusahaan ini kemudian melakukan transformasi dengan nama PT Satu Visi Putra pada 2018, seiring penguatan strategi bisnis untuk menjawab kebutuhan industri media visual yang terus berkembang. Dalam perjalanannya, VISI telah mendaftarkan sejumlah merek dagang seperti MagiSign, AIFlex, dan ProFlex.
Untuk mendukung ekspansi operasional, pada 2021 perusahaan mengakuisisi lima unit gudang serta menambah 10 armada truk logistik. Langkah ekspansi tersebut berlanjut hingga VISI resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 27 Februari 2024 dengan kode saham VISI.
Saat penawaran umum perdana (IPO), saham VISI ditawarkan pada harga Rp120 per lembar dengan total saham dilepas sebanyak 3,075 miliar lembar. Dari aksi korporasi tersebut, perusahaan membukukan dana segar sekitar Rp71,14 miliar.
Berdasarkan data kepemilikan saham di BEI, mayoritas saham VISI saat ini masih dikuasai oleh Direktur Utama David Dwiputra sebesar 71,54 persen atau sekitar 2,2 miliar lembar saham.
Sementara Direktur Farrel Yonathan menggenggam 6,51 persen saham, dan Komisaris Robert Putra Sampurna memiliki 1,95 persen.
Dalam laporan realisasi penggunaan dana hasil IPO per 31 Desember 2025, VISI mencatat Rp68,30 miliar digunakan untuk kebutuhan modal kerja dan pembayaran kepada pemasok. Sebesar Rp1,83 miliar dialokasikan untuk pembelian armada truk, serta sekitar Rp1 miliar lainnya direncanakan untuk pengadaan armada tambahan pada kuartal II.
Di sisi lain, saham VISI saat ini berada dalam papan pemantauan khusus atau Full Call Auction (FCA). Pada perdagangan terakhir, saham VISI melemah hingga menyentuh auto reject bawah (ARB) sebesar 9,89 persen di level Rp820 per saham.
BEI memasukkan VISI ke papan FCA lantaran saham tersebut sempat mengalami penghentian sementara perdagangan lebih dari satu hari bursa. Sepanjang Januari 2026, perdagangan saham VISI disuspensi dua kali, yakni pada 21 dan 23 Januari, akibat lonjakan harga secara kumulatif.
Dari sisi kinerja keuangan, BEI mencatat total aset VISI per 30 September 2025 meningkat tipis 0,54 persen atau sekitar Rp1,56 miliar dibandingkan posisi akhir Desember 2024. Manajemen menjelaskan kenaikan tersebut ditopang oleh bertambahnya saldo kas, persediaan, serta progres pembangunan gudang baru di Gresik.
Namun, total liabilitas perusahaan juga mengalami kenaikan sebesar 2,06 persen atau sekitar Rp2,18 miliar. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya utang bank dan utang pajak, meski di sisi lain terjadi penurunan utang dagang dan utang lainnya.
Dari sisi pendapatan, VISI mencatat penurunan signifikan hingga Rp70,25 miliar atau 21,95 persen per September 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan terjadi pada penjualan produk banner, tinta, dan display. Sementara produk PVC board masih mencatatkan kenaikan terbatas sekitar Rp1,34 miliar.
L
Penurunan penjualan tercatat di sejumlah wilayah utama seperti Jawa Timur, Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, serta area luar Pulau Jawa.
Satu-satunya wilayah yang mencatatkan pertumbuhan adalah Jawa Tengah, seiring strategi perusahaan memperluas pangsa pasar di area baru guna meningkatkan daya saing.
Editor : Ayurahmi Rais