Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Jelang Lebaran, Masyarakat Diimbau Waspada Modus Penipuan Belanja Online

Amelia Beatrix • Senin, 16 Maret 2026 | 14:36 WIB

Photo
Photo
MANADOPOST.ID - Menjelang Lebaran, aktivitas belanja masyarakat meningkat tajam, baik secara daring maupun luring. Di tengah lonjakan transaksi tersebut, risiko penipuan digital juga ikut meningkat dengan berbagai modus yang semakin beragam. Menyikapi kondisi ini, Blibli mengajak masyarakat untuk lebih waspada dengan membiasakan diri melakukan JEDA sejenak sebelum bereaksi terhadap informasi atau tawaran yang diterima.

Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan hingga November 2025 terdapat 64.933 laporan penipuan transaksi belanja online dengan total kerugian mencapai Rp1,14 triliun. Angka tersebut menjadikan penipuan belanja sebagai modus yang paling banyak dilaporkan masyarakat, dengan teknik yang beragam mulai dari social engineering, baiting dan fear of missing out (FOMO), hingga phishing.

Head of Public Relations Blibli, Nazrya Octora mengatakan situasi menjelang Lebaran yang serba cepat sering membuat masyarakat lengah dalam menyaring informasi. “Situasi dan informasi yang serba cepat utamanya jelang Lebaran sering kali membuat kita lengah. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk mulai mempraktikkan JEDA sebelum bereaksi. Dengan berhenti sejenak, kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk memvalidasi setiap informasi yang diterima,” ujarnya.

Secara umum, penipuan yang marak terjadi menjelang periode belanja Lebaran dapat dikenali melalui beberapa pola. Pertama adalah manipulasi psikologis (social engineering), di mana pelaku berpura-pura menjadi pihak tepercaya seperti kurir paket, petugas bank, atau layanan pelanggan untuk meminta data pribadi, termasuk kode OTP dan kata sandi.

Kedua adalah umpan keuntungan instan (baiting dan FOMO). Pelaku biasanya menawarkan promo yang terdengar terlalu menarik, seperti diskon besar dalam waktu sangat terbatas atau tawaran pekerjaan daring dengan iming-iming komisi cepat, namun pada akhirnya meminta korban melakukan transfer dana.

Ketiga adalah pencurian identitas digital (phishing) melalui tautan palsu yang menyerupai situs resmi. Tautan ini kerap digunakan untuk mencuri informasi login atau data kartu pembayaran korban.

Blibli menekankan pentingnya kebiasaan sederhana JEDA, yaitu Jangan reaktif, Evaluasi informasi, Double-check, dan Ambil keputusan dengan tenang. Dengan memberi waktu sejenak untuk memeriksa kebenaran informasi, masyarakat diharapkan dapat menghindari risiko penipuan sekaligus menjalani aktivitas menjelang Lebaran dengan lebih aman dan terkendali.(ame)

Editor : Amelia Beatrix
#blibli #jeda #Scam #belanja online #Penipuan