Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Senin Sampai Sabtu Anak di Daerah 3T akan Dapat MBG, Akankah Efektif?

Ayurahmi Rais • Minggu, 29 Maret 2026 | 17:59 WIB

 

Petugas menata menu makanan yang akan didistribusikan pada program makan bergizi gratis (MBG) di salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)
Petugas menata menu makanan yang akan didistribusikan pada program makan bergizi gratis (MBG) di salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)

 

MANADOPOST.ID – Di tengah tantangan pemenuhan gizi yang masih membayangi anak-anak di wilayah terpencil, pemerintah mengambil langkah strategis. 

Tak lagi terbatas pada hari sekolah, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini diperluas hingga enam hari dalam sepekan bagi anak-anak di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), khususnya yang berisiko tinggi mengalami stunting.

Kebijakan ini menjadi angin segar bagi banyak keluarga di wilayah rentan. Hari Sabtu yang sebelumnya tanpa distribusi, kini dimanfaatkan untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan asupan gizi yang cukup, meski tidak berada di bangku sekolah.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menjelaskan, penambahan hari distribusi ini merupakan bagian dari penguatan program MBG yang telah dibahas dalam rapat koordinasi tingkat tinggi bersama Presiden Prabowo Subianto.

“Pemberian MBG di hari Sabtu untuk daerah dengan risiko stunting tinggi merupakan langkah strategis agar anak-anak tetap memperoleh gizi yang cukup setiap hari,” ujarnya. 

Secara umum, penyaluran MBG tetap mengikuti hari sekolah, yakni lima hari dalam seminggu.

Namun, pemerintah memberikan perlakuan khusus bagi wilayah 3T dan daerah dengan prevalensi stunting tinggi, sehingga distribusi tetap berjalan di luar hari sekolah.

Penentuan wilayah penerima kebijakan ini tidak dilakukan sembarangan. Pemerintah mengacu pada data terukur, salah satunya hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 dari Kementerian Kesehatan.

Data tersebut memetakan daerah-daerah dengan tingkat risiko stunting tinggi yang perlu mendapatkan perhatian lebih.

Dadan menegaskan, pihaknya akan berkolaborasi dengan dinas pendidikan dan kesehatan di daerah untuk memastikan akurasi data, mulai dari jumlah sekolah, siswa, hingga tingkat stunting di masing-masing wilayah.

Sejumlah daerah di Indonesia bagian timur, serta beberapa wilayah di Sumatera dan Papua, menjadi prioritas dalam program ini. Kawasan-kawasan tersebut masih menghadapi tantangan serius dalam pemenuhan gizi anak.

Menurut Dadan, ketepatan data menjadi kunci utama keberhasilan program ini. Sebab, MBG bukan sekadar bantuan makanan, tetapi menyangkut masa depan generasi muda.

“Integritas data sangat penting. Kami tidak ingin ada anak yang tertinggal dalam pemenuhan gizinya,” tegasnya.

Melalui perluasan distribusi ini, pemerintah berharap semakin banyak anak di wilayah rentan yang terjangkau program MBG.

 

Editor : Ayurahmi Rais