Sasa dan IPB Dorong Hilirisasi Kelapa, Perkuat Kesejahteraan Petani

Amelia Beatrix • Dipublikasikan Jumat, 10 April 2026 | 02:00 WIB
Perwakilan Sasa dan Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam FGD multipihak untuk penguatan rantai pasok dan kemitraan berkelanjutan industri kelapa di Indonesia.
Perwakilan Sasa dan Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam FGD untuk penguatan rantai pasok dan kemitraan berkelanjutan industri kelapa di Indonesia.

MANADOPOST.ID - PT Sasa Inti bersama Institut Pertanian Bogor menggagas kolaborasi strategis untuk memperkuat masa depan industri kelapa nasional melalui hilirisasi dan kemitraan petani. Inisiatif ini diwujudkan lewat forum diskusi multipihak yang digelar di Bogor pada 7 April 2026.

Forum tersebut menyoroti pentingnya penguatan rantai pasok kelapa yang berkelanjutan dan inklusif, di tengah meningkatnya kebutuhan industri terhadap bahan baku. Kelapa, yang menjadi komoditas vital bagi sektor pangan, juga merupakan sumber penghidupan utama bagi ribuan petani, khususnya di wilayah sentra seperti Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.

Melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan akademisi, pemerintah, industri, petani, dan pemangku kepentingan lainnya, Sasa dan IPB mendorong terciptanya sistem kemitraan yang lebih adil dan produktif. Fokus utama mencakup peningkatan kualitas panen, stabilitas harga, serta kepastian serapan hasil petani.

Chief Manufacturing Officer Sasa, Snowerdi Sumardi, menegaskan bahwa kelapa tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Oleh karena itu, penguatan rantai pasok harus mampu menjawab tantangan industri sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Sejak 2024, Sasa telah menjalankan program pemberdayaan petani di Minahasa Selatan, mencakup edukasi agronomi modern dan pendampingan berkelanjutan. Perusahaan juga mengoperasikan fasilitas pengolahan kelapa yang memanfaatkan hasil panen lokal, sehingga mempercepat proses hilirisasi dan membuka akses pasar yang lebih luas.

Di sisi akademik, IPB menekankan pentingnya pendekatan berbasis riset dalam merancang kebijakan dan praktik di lapangan. Kolaborasi dengan industri dinilai menjadi kunci untuk memperkuat daya saing komoditas sekaligus memastikan keberlanjutan ekosistem pertanian.

Selain itu, keterlibatan Badan Pengelola Dana Perkebunan turut membuka peluang akses pendanaan bagi petani. Dukungan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi dan menjaga stabilitas rantai pasok dalam jangka panjang.

Melalui sinergi ini, Sasa dan IPB tidak hanya mendorong efisiensi industri, tetapi juga membangun fondasi ekonomi lokal yang lebih kuat. Upaya ini menjadi contoh konkret bahwa kolaborasi lintas sektor dapat menghadirkan solusi berkelanjutan bagi masa depan industri kelapa Indonesia.(ame)

Editor : Amelia Beatrix
Supply Chain IPB University FGD