Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Akses Pembiayaan Dorong Pendapatan 89 Persen UMKM Naik Hingga 63 Persen

Amelia Beatrix • Selasa, 21 April 2026 | 16:30 WIB
Suasana PAsar Kranggan, Temanggung Jawa Tengah
Suasana Pasar Kranggan, Temanggung Jawa Tengah

MANADOPOST.ID – Riset terbaru dari Amartha menunjukkan bahwa akses pembiayaan menjadi faktor krusial dalam meningkatkan kinerja usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sebanyak 89 persen UMKM binaan Amartha tercatat mengalami peningkatan pendapatan, dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 63 persen setelah memperoleh akses modal usaha.

Temuan ini menegaskan pentingnya peran pembiayaan inklusif di tengah masih lebarnya kesenjangan pendanaan nasional. Kebutuhan kredit UMKM di Indonesia diproyeksikan mencapai Rp4.300 triliun pada 2026, sementara realisasi pembiayaan baru sekitar Rp1.900 triliun, menyisakan gap hingga Rp2.400 triliun. Kondisi ini menunjukkan masih banyak pelaku usaha yang belum terjangkau layanan keuangan formal.

Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, menyatakan bahwa pembiayaan yang tepat sasaran tidak hanya membuka akses modal, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat akar rumput. Berdasarkan Sustainability Report Amartha 2025, dampak positif pembiayaan telah dirasakan oleh sekitar 2,3 juta UMKM dari total 3,9 juta mitra yang tersebar di lebih dari 50.000 desa di Indonesia.

“Pembiayaan inklusif menjadi katalis bagi pelaku usaha untuk berkembang dan meningkatkan kesejahteraan. Dampaknya tidak hanya pada bisnis, tetapi juga pada kualitas hidup keluarga mereka,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh Nailul Huda dari Center of Economic and Law Studies. Ia menilai bahwa akses pembiayaan memiliki peran strategis dalam meningkatkan mobilitas ekonomi masyarakat. Menurutnya, masih banyak pelaku usaha yang belum terhubung dengan sistem keuangan formal, sehingga kehadiran teknologi finansial menjadi solusi penting.

“Ketika akses terbuka, dampaknya tidak hanya pada peningkatan pendapatan, tetapi juga ketahanan ekonomi rumah tangga. Bahkan, adopsi teknologi finansial terbukti meningkatkan inklusi keuangan hingga 41,5 persen lebih tinggi dibanding negara yang belum mengadopsinya,” jelasnya.

Lebih jauh, dampak pembiayaan juga dirasakan secara nyata oleh pelaku UMKM. Salah satunya Mama Redha, nelayan dari Sumba, yang kini memiliki usaha tambahan berupa warung kelontong setelah mendapatkan modal tanpa agunan dari Amartha. Usaha tersebut menjadi sumber pendapatan utama yang membantu menjaga stabilitas ekonomi keluarganya.

Selain menyalurkan pembiayaan, Amartha juga membangun ekosistem keuangan digital melalui aplikasi AmarthaFin yang menyediakan berbagai layanan, mulai dari modal kerja, pembayaran digital, hingga investasi. Hingga kini, perusahaan telah menyalurkan lebih dari Rp37 triliun kepada 3,7 juta UMKM perempuan di berbagai wilayah Indonesia.

Ke depan, Amartha menegaskan komitmennya untuk terus memperluas akses pembiayaan dan memperkuat daya saing usaha mikro. Langkah ini diharapkan mampu memperkecil kesenjangan pendanaan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di Indonesia.(ame)

Editor : Amelia Beatrix
#Amartha #UMKM