Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Peningkatan Kesadaran HPV pada Laki-Laki Dorong Upaya Edukasi yang Lebih Inklusif

Amelia Beatrix • Rabu, 22 April 2026 | 11:10 WIB
Kelas Jurnalis Memahami HPV pada Anak Laki-laki
Kelas Jurnalis Memahami HPV pada Anak Laki-laki

MANADOPOST.ID — Kesadaran publik terhadap risiko Human Papillomavirus (HPV) pada laki-laki masih tergolong rendah, padahal data global menunjukkan bahwa satu dari tiga pria berusia di atas 15 tahun pernah terinfeksi setidaknya satu jenis virus ini. Kondisi tersebut menjadi sorotan utama dalam program Kelas Jurnalis 2026 yang diselenggarakan oleh MSD Indonesia bersama Kementerian Kesehatan RI sebagai upaya memperluas literasi kesehatan masyarakat secara inklusif.

Selama ini, HPV kerap dikaitkan dengan kanker serviks pada perempuan, yang hampir seluruh kasusnya berhubungan dengan infeksi virus tersebut. Namun, fakta medis menunjukkan bahwa laki-laki juga menghadapi risiko serius, termasuk kanker tenggorokan, anus, dan penis. Bahkan, sekitar 40 persen dari seluruh kasus kanker terkait HPV di dunia terjadi pada laki-laki, menandakan beban kesehatan yang tidak dapat diabaikan.

Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. Andi Saguni, menegaskan bahwa pendekatan pencegahan harus diperluas. Keberhasilan program imunisasi HPV pada anak perempuan yang telah mencapai cakupan 91,1 persen pada 2025 menjadi fondasi penting, namun belum cukup. Edukasi mengenai pentingnya imunisasi bagi anak laki-laki kini menjadi fokus lanjutan pemerintah.

Dari sisi medis, Ketua PERDOSKI, dr. Hanny Nilasari, mengungkap adanya “beban tersembunyi” HPV pada laki-laki. Selain menyebabkan kutil kelamin dan kanker, infeksi HPV pada pria cenderung lebih persisten karena tidak membentuk kekebalan alami yang kuat. Risiko kanker orofaring bahkan tercatat empat kali lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan, sementara metode skrining dini masih terbatas.

Sementara itu, Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Prof. Hartono Gunardi, menekankan pentingnya imunisasi sejak usia dini, khususnya pada rentang usia 9–13 tahun, saat respons imun berada pada titik optimal. Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan pencegahan holistik melalui edukasi, kebersihan, dan pemeriksaan rutin.

Melalui program ini, MSD Indonesia menegaskan komitmennya terhadap prinsip kesetaraan kesehatan, yakni memastikan setiap anak tanpa memandang gender mendapatkan perlindungan optimal dari penyakit yang dapat dicegah. Edukasi yang merata diharapkan mampu memutus rantai penularan HPV sekaligus menurunkan angka kanker terkait di masa depan.(ame)

Editor : Amelia Beatrix
#MSD Indonesia #imunisasi #hpv #kemenkes