MANADOPOST.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, inflasi Sulut pada April 2026 sebesar 0,96 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m). Kenaikan ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala BPS Sulut, Dr Watekhi, menjelaskan secara kumulatif inflasi tahun kalender (year-to-date) hingga April 2026 mencapai 2,93 persen. Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) tercatat sebesar 2,14 persen.
“Inflasi April ini menunjukkan adanya peningkatan tekanan harga, terutama dari kelompok kebutuhan pokok dan beberapa jasa,” ujar Watekhi, Senin (4/5/2026)
Ia menjelaskan, secara bulanan, inflasi terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 2,06 persen dengan andil 0,68 persen. Selain itu, kelompok transportasi juga mengalami kenaikan 1,70 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,65 persen.
Jika dilihat dari komoditas, emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil 0,55 persen. Disusul beras 0,39 persen, angkutan udara 0,32 persen, daun bawang 0,24 persen, dan biaya pendidikan (akademi/perguruan tinggi) sebesar 0,19 persen. “Komoditas-komoditas tersebut mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan pada April,” jelasnya.
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru menahan laju inflasi. Daging babi mencatat andil deflasi terbesar sebesar minus 0,49 persen. Selain itu, cabai rawit menyumbang minus 0,29 persen, tomat dan bawang putih masing-masing minus 0,12 persen, serta cabai merah minus 0,05 persen.
Menurut Watekhi, fluktuasi harga komoditas pangan segar masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan inflasi di daerah.
BPS juga mencatat adanya variasi inflasi antarwilayah di Sulawesi Utara. Kota Manado menjadi daerah dengan inflasi tahunan tertinggi sebesar 2,97 persen. Disusul Kotamobagu 2,05 persen, Minahasa Selatan 1,01 persen, dan terendah di Minahasa Utara sebesar 0,44 persen.
Dari sisi komoditas, emas perhiasan menjadi pendorong utama inflasi di Manado dan Kotamobagu. Sementara di Minahasa Selatan, inflasi didorong oleh kenaikan harga daun bawang. Adapun daging babi menjadi komoditas yang menahan inflasi di sejumlah wilayah.
“Perbedaan ini menunjukkan bahwa tekanan harga di tiap daerah tidak sama, tergantung pada komoditas dominan di wilayah tersebut,” ujar Watekhi.
Meski terjadi kenaikan, ia menekankan inflasi di Sulut masih terkendali.
Editor : Ayurahmi Rais