Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

BI Meyakini Nilai Tukar Rupiah akan Kembali Menguat di Bulan Juli

Ayurahmi Rais • Selasa, 19 Mei 2026 | 19:02 WIB

 

Gubernur BI Perry Warjiyo
Gubernur BI Perry Warjiyo

 

MANADOPOST.ID- Juli mendatang, nilai tukar rupiah diproyeksikan akan kembali menguat. Bank Indonesia (BI) menuturkan penguatan ini didorong oleh meredanya tren permintaan valuta asing (valas) musiman.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, kbutuhan dolar Amerika Serikat (AS) meningkat secara musiman pada April-Juni akibat pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen, serta kebutuhan ibadah haji.

"Sekali lagi, kami tegaskan bahwa kami meyakini bahwa rupiah ke depan akan menguat. Sekarang ini dalam tekanan, undervalue, karena faktor global dan faktor seasonal demand pada April, Mei, Juni, dan insya Allah nanti Juli akan menguat," kata Warjiyo. 

Perry meyakini bahwa rerata nilai tukar rupiah sepanjang 2026 berada dalam kisaran asumsi makro APBN, yakni Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp16.500 per dolar AS.

Sementara itu, rerata nilai tukar rupiah secara tahun berjalan (year to date/ytd) berada pada kisaran Rp16.900 per dolar AS. Meski demikian, bank sentral optimistis penguatan rupiah pada Juli dan Agustus akan menurunkan rerata tahunan kembali ke rentang target APBN.

Selain faktor domestik karena tingginya permintaan valas, Perry menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi kondisi global yang memburuk sejak pecahnya perang di Timur Tengah pada Februari yang lalu

Meningkatnya risiko geopolitik global tecermin dari kenaikan credit default swap (CDS), lonjakan harga minyak dunia, serta tingginya inflasi di AS yang membuat peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil.

Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury, baik tenor jangka pendek maupun panjang, sehingga memicu penguatan dolar AS dan arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari sisi arus modal, Perry mengungkapkan bahwa pasar saham mencatat arus keluar (outflow) Rp26,06 triliun pada Januari-Maret 2026, sedangkan pasar Surat Berharga Negara (SBN) mengalami outflow Rp25,1 triliun pada periode yang sama.

Sementara itu, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sempat mencatat inflow pada Januari dan Februari sebelum berbalik mengalami outflow pada Maret seiring meningkatnya tensi geopolitik global.

Untuk menjaga daya tarik aliran modal masuk, jelas Perry, BI meningkatkan suku bunga SRBI sehingga instrumen tersebut kembali mencatat inflow sebesar Rp48,26 triliun pada April dan Rp27,05 triliun pada Mei.

Dengan demikian, total inflow SRBI sepanjang April hingga 8 Mei 2026 mencapai Rp75,31 triliun, sedangkan secara kumulatif sepanjang tahun berjalan (ytd) mencapai Rp105,16 triliun.

Editor : Ayurahmi Rais
#Nilai Tukar Rupiah #Gubernur BI #Perry Warjiyo #bank indonesia