MANADOPOST.iD— Realisasi investasi di Sulawesi Utara pada triwulan pertama 2026 mengalami penurunan signifikan dibanding periode yang sama dalam dua tahun terakhir.
Pemerintah Kurangi kegiatan tidak penting Harus Lebih Banyak cari investor,
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius terhadap efektivitas strategi Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dalam menjaga momentum pertumbuhan investasi yang sebelumnya sempat mencapai fase ekspansif.
Berdasarkan data perkembangan investasi triwulan pertama selama empat tahun terakhir, capaian investasi Sulut pada Q1 2026 hanya berada di angka sekitar Rp2,13 triliun atau sekitar 17,56 persen dari target tahunan Rp12,13 triliun.
Angka tersebut menjadi yang terendah sejak 2023 dan jauh di bawah capaian pada periode yang sama tahun 2024 maupun 2025.
Pada 2023, investasi Sulut tercatat sekitar Rp2,35 triliun dari target tahunan Rp8,50 triliun atau sekitar 27,6 persen. Saat itu, pertumbuhan investasi masih ditopang sektor tersier dan industri pengolahan kelapa yang relatif stabil.
Memasuki 2024, Sulut justru mencetak lonjakan historis dengan realisasi investasi triwulan pertama mencapai sekitar Rp3,01 triliun atau 33,4 persen dari target Rp9 triliun. Peningkatan tersebut dipicu masuknya investasi besar pada sektor ketenagalistrikan dan industri kertas serta percetakan.
Momentum positif berlanjut pada 2025. Nilai investasi Q1 mencapai Rp3 triliun atau sekitar 31,5 persen dari target tahunan Rp9,5 triliun. Kala itu, sektor manufaktur, pariwisata, dan derasnya Penanaman Modal Asing (PMA) asal Tiongkok menjadi motor penggerak utama ekonomi daerah.
Namun memasuki 2026, tren tersebut berubah drastis. Realisasi Rp2,13 triliun bukan hanya turun dibanding dua tahun sebelumnya, tetapi juga berada di bawah rata-rata historis investasi triwulan pertama Sulut yang berada di kisaran Rp2,44 triliun.
Penurunan ini menjadi sinyal perlambatan yang tidak bisa dianggap biasa. Di tengah target tahunan yang justru meningkat hingga Rp12,13 triliun, capaian awal tahun memperlihatkan adanya ketidakseimbangan antara ambisi target dan kemampuan realisasi di lapangan.
Sejumlah pengamat menilai ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab perlambatan tersebut. Pertama, melambatnya ekspansi sektor industri besar yang sebelumnya menjadi pengungkit utama investasi. Kedua, ketidakpastian ekonomi global yang mulai memengaruhi arus modal asing ke daerah. Ketiga, masih adanya persoalan klasik terkait birokrasi perizinan, kesiapan lahan industri, hingga kepastian infrastruktur pendukung investasi.
Kondisi ini juga menjadi ujian bagi kepemimpinan Pemerintah Provinsi Sulut dalam menjaga iklim investasi tetap kompetitif di kawasan timur Indonesia. Selama beberapa tahun terakhir, Sulut dikenal agresif mempromosikan diri sebagai gerbang Pasifik Indonesia, terutama melalui pengembangan kawasan ekonomi, pariwisata, dan industri hilirisasi.
Akan tetapi, data triwulan pertama 2026 menunjukkan promosi saja tidak cukup. Investor membutuhkan kepastian regulasi, efisiensi layanan, stabilitas pasokan energi, serta kepastian proyek strategis yang benar-benar berjalan.
Jika tren perlambatan ini berlanjut hingga pertengahan tahun, maka target investasi Sulut 2026 berpotensi sulit tercapai. Pemerintah daerah dinilai perlu segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sektor-sektor yang mengalami penurunan minat investasi serta mempercepat realisasi proyek yang selama ini masih tertahan.
Di sisi lain, penurunan investasi pada awal tahun juga harus menjadi momentum introspeksi bahwa ketergantungan pada proyek-proyek besar tertentu membuat struktur investasi Sulut belum sepenuhnya kuat dan berkelanjutan.
Diversifikasi sektor investasi dinilai menjadi langkah penting agar pertumbuhan ekonomi daerah tidak terlalu rentan terhadap perlambatan pada satu sektor tertentu.
Dengan tantangan ekonomi global yang masih dinamis, semester kedua 2026 akan menjadi periode krusial bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara untuk membuktikan apakah perlambatan ini hanya bersifat sementara atau justru awal dari melemahnya daya tarik investasi daerah. (*)
Editor : Nur Fadilah