Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Tanang Jangan Panik, Dolar Naik bukan Berarti Ekonomi Memburuk, justru Diuntungkan 

Ayurahmi Rais • Minggu, 7 Juni 2026 | 19:53 WIB

 

Dolar Amerika Serikat
Dolar Amerika Serikat

 

 

 

 

MANADOPOST.ID – Nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah menyentuh Rp18.095,70 (kurs Minggu (7/6) Pukul 19.52 WITA. Hampir mendekati level Rp19 ribu.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Tidak sedikit yang menilai penguatan dolar merupakan sinyal bahwa ekonomi Indonesia sedang mengalami tekanan serius. Lantas benarkah demikian? 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, sebelumnya menegaskan, pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar dibandingkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Menurutnya, berbagai isu dan rumor yang berkembang di kalangan pelaku pasar ikut memengaruhi pergerakan mata uang sehingga volatilitas kurs meningkat dalam waktu relatif singkat.

"Pemerintah belum melihat adanya perubahan signifikan pada fondasi ekonomi nasional yang menjadi penyebab utama pelemahan rupiah," tegasnya.

Senada dengan itu, Pengamat Ekonomi Sulawesi Utara (Sulut) Dr Robert Winerungan, meminta masyarakat agar tidak terburu-buru mempercayai narasi yang beredar. Soal kenaikan dolar selalu berdampak buruk terhadap perekonomian.

"Jangan cepat termakan informasi yang beredar. Dalam ekonomi, kita harus melihat dari berbagai sisi. Dolar yang tinggi memang ada dampaknya, tetapi ada juga keuntungan yang bisa diperoleh," katanya.

Menurutnya, salah satu sektor yang memperoleh manfaat dari penguatan dolar adalah kinerja ekspor yang baik.

"Kalau perdagangan luar negeri kita surplus, sebenarnya dolar yang tinggi menguntungkan karena nilai devisa yang masuk menjadi lebih besar. Yang terdampak memang sektor impor karena barang dari luar negeri menjadi lebih mahal. Tapi impor itu kebanyakan barang mewah. Artinya tidak selalu bersentuhan langsung dengan masyarakat ," ujarnya.

Ia menilai dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat saat ini masih relatif terbatas.

"Kita lihat harga beras masih relatif sama, harga BBM juga masih sama. Ada beberapa barang yang mungkin naik, tetapi bukan kebutuhan utama masyarakat sehari-hari. Jadi belum bisa disimpulkan jika ekonomi sedang dalam kondisi krisis," jelasnya.

Doktor lulusan Universitas Hasanuddin itu, meminta masyarakat perlu lebih cermat menyikapi berbagai informasi yang beredar di media sosial. "Kalau ada yang mengatakan ekonomi hancur atau ekonomi krisis hanya karena dolar naik, itu harus dilihat lagi datanya. Ekonomi kita masih cukup baik," katanya optimistis. 

Robert justru melihat penguatan dolar dapat menjadi peluang untuk menarik investasi baru. Menurutnya, investor asing akan memperoleh keuntungan lebih besar ketika menanamkan modalnya pada negara yang mata uangnya melemah terhadap dolar.

"Yang harus dilakukan sekarang adalah menjaga iklim investasi dan memanfaatkan momentum ini untuk menarik investor masuk. Itu yang lebih penting," imbaunnya.

Meski demikian, ia tatap meningkatkan, penguatan dolar juga bukan tanpa risiko. Sejumlah sektor yang masih bergantung pada bahan baku, mesin, maupun produk impor berpotensi menghadapi kenaikan biaya apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu yang lama.

Karena itu, dampak kenaikan dolar tidak dapat digeneralisasi, sebab setiap sektor memiliki tingkat ketergantungan yang berbeda terhadap pasar internasional

Diketahui, kinerja perdagangan Sulut hingga April 2026 masih menunjukkan tren positif. Nilai ekspor secara kumulatif mencapai sekitar US$411,27 juta atau setara Rp7,44 triliun dengan kurs saat ini. Sementara nilai impor tercatat US$55,04 juta atau sekitar Rp995,6 miliar. Dengan demikian, Sulawesi Utara masih membukukan surplus perdagangan sebesar US$356,23 juta atau sekitar Rp6,44 triliun.

Data tersebut menunjukkan bahwa di tengah penguatan dolar, daerah yang memiliki basis ekspor kuat seperti Sulut tetap memiliki ruang untuk memperoleh manfaat ekonomi. 

Editor : Ayurahmi Rais
#Nilai Tukar Rupiah #Nilai Tukar Dolar Amerika Serikat #dolar naik #Ekpor Impor Sulut #Ekonom Sulut Dr Robert Winerungan