TOKYO, MANADOPOST.ID — Indeks saham utama Jepang, Nikkei 225, ditutup anjlok 2,47% pada perdagangan Kamis waktu setempat ke level 68.732, mengakhiri tren penguatan tiga hari beruntun akibat aksi jual besar-besaran saham teknologi di bursa Wall Street.
Berbeda dengan Nikkei, indeks Topix justru mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,09% ke posisi 4.014. Sementara itu, kontrak berjangka Nikkei untuk periode September 2026 turut melemah 2,52% ke level 68.860.
Pelemahan bursa Tokyo dipicu oleh kekhawatiran investor global atas keberlanjutan reli saham-saham teknologi yang selama ini didorong oleh sentimen kecerdasan buatan (AI). Kekhawatiran tersebut menjalar dari Wall Street, tempat sebagian besar saham teknologi mengalami koreksi tajam menjelang libur panjang Hari Kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli.
Wall Street sendiri ditutup bervariasi (mixed) pada perdagangan sebelumnya. Hanya indeks Dow Jones yang mencatatkan lonjakan signifikan lebih dari 500 poin, didorong oleh respons pasar terhadap rilis data ketenagakerjaan (Non-Farm Payrolls) Amerika Serikat.
Selain sentimen dari Wall Street, pergerakan pasar turut dipengaruhi oleh dinamika harga minyak dunia. Harga minyak mentah jenis WTI tercatat turun sekitar 2% ke level mendekati US$ 67 per barel, seiring meningkatnya kembali volume pasokan maritim yang melintasi Selat Hormuz.
Para analis memperkirakan pasar Asia, termasuk Jepang, masih akan bergerak fluktuatif dalam beberapa hari ke depan seiring investor terus mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.
Editor : ALengkong