MANADOPOST.ID — Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara tetap optimistis pertumbuhan ekonomi daerah pada Triwulan II 2026 akan berada di kisaran 5,4 persen hingga 6,3 persen.
Proyeksi ini sejalan dengan perkiraan BI terhadap pertumbuhan ekonomi Sulut hingga akhir tahun 2026.
Kepala Perwakilan BI Sulawesi Utara Joko Supratikto mengatakan, meski pertumbuhan ekonomi Sulut pada Triwulan I 2026 tercatat 5,54 persen atau lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen, pihaknya tetap melihat prospek perekonomian daerah masih berada pada jalur positif.
"Kami tetap optimis sesuai proyeksi kita sampai akhir tahun, ekonomi Sulut akan berkisar di angka 5,4 sampai 6,3 persen," ujar Joko dalam pertemuan bersama jurnalis ekonomi Sulawesi Utara melalui kegiatan SENJA, Selasa (21/7/2026).
Menurut Joko, salah satu faktor yang turut memengaruhi laju pertumbuhan ekonomi daerah adalah belanja pemerintah daerah (government expenditure).
"Belanja pemerintah memiliki peran dalam menggerakkan aktivitas ekonomi melalui belanja barang dan jasa, pembangunan infrastruktur maupun berbagai program pemerintah yang menciptakan perputaran uang di daerah," jelasnya.
Namun, lanjutnya, kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak pada pengurangan Transfer ke Daerah (TKD) turut memberikan tekanan terhadap belanja pemerintah daerah. Kondisi tersebut pada akhirnya berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi dan membuat perputaran uang di daerah tidak seoptimal sebelumnya.
"Kalau kita lihat salah satu yang mendorong ekonomi daerah adalah government expenditure. Ketika ada efisiensi dan TKD berkurang, belanja pemerintah daerah juga ikut berkurang. Itu membuat perputaran uang di daerah tidak optimal, sehingga ekonomi tetap tumbuh tetapi melambat," jelasnya.
Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang membedakan laju pertumbuhan ekonomi Sulut dengan nasional pada Triwulan I 2026. Pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen, menurut Joko, turut ditopang oleh belanja pemerintah pusat melalui kementerian dan lembaga yang tetap berjalan.
Ia menekankan, belanja pemerintah pusat yang relatif tetap memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi nasional, sehingga pertumbuhan ekonomi nasional pada periode tersebut tercatat sedikit lebih tinggi dibandingkan Sulawesi Utara.
Meski demikian, ia menegaskan BI tetap optimistis perekonomian Sulut mampu mempertahankan pertumbuhan di atas 5 persen. Proyeksi pertumbuhan pada kisaran 5,4 hingga 6,3 persen menunjukkan bahwa perekonomian daerah masih memiliki ruang untuk tumbuh di tengah tantangan efisiensi anggaran.
"BI akan terus mencermati perkembangan konsumsi masyarakat, aktivitas investasi, kinerja sektor-sektor utama ekonomi daerah serta belanja pemerintah sebagai faktor yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi Sulut sepanjang 2026," kuncinya.
Editor : Ayurahmi Rais