MANADOPOST.ID—Hilirisasi kelapa dinilai menjadi salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara (Sulut) yang lebih tinggi, inklusif, dan berkelanjutan.
Dengan potensi perkebunan kelapa terbesar kedua di Indonesia, Sulut dinilai memiliki peluang besar meningkatkan nilai tambah, memperkuat ekspor, hingga membuka lapangan kerja apabila pengembangan industri dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara Joko Supratikto dalam kegiatan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Periode Mei 2026 yang dirangkaikan dengan Bincang Ekonomi bertema "Penguatan Hilirisasi Kelapa sebagai Sumber Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Utara", Kamis (30/7).
Joko mengatakan, di tengah proyeksi ekonomi Sulut yang diperkirakan tetap tumbuh pada kisaran 5,4 hingga 6,3 persen sepanjang 2026, penguatan sektor unggulan menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan.
"Kelapa memiliki peran strategis dalam struktur perekonomian Sulawesi Utara. Tanaman perkebunan menyumbang sekitar 38,13 persen terhadap subsektor pertanian dan peternakan, sementara luas perkebunan rakyat kelapa mencapai sekitar 264,60 ribu hektare. Dengan luasan tersebut, Sulawesi Utara menjadi provinsi dengan areal perkebunan kelapa terbesar kedua di Indonesia," ujarnya.
Menurut Joko, potensi tersebut tidak cukup hanya mengandalkan penjualan komoditas mentah. Yang diperlukan adalah penguatan rantai nilai mulai dari peningkatan produktivitas di tingkat petani, pengembangan industri pengolahan, diversifikasi produk hingga perluasan akses pasar ekspor.
Ia menyebut, pengembangan industri tidak hanya dapat menghasilkan minyak kelapa, tetapi juga berbagai produk bernilai tambah seperti virgin coconut oil (VCO), santan, nata de coco, hingga berbagai produk turunan lainnya yang memiliki daya saing tinggi di pasar internasional.
Potensi tersebut, lanjutnya, juga didukung oleh kinerja ekspor produk kelapa dan turunannya (HS-15) yang pada periode Januari-Mei 2026 tumbuh 5,89 persen, dengan pangsa mencapai 73,48 persen dari total ekspor Sulut. Amerika Serikat, Tiongkok dan Filipina masih menjadi tujuan utama ekspor komoditas tersebut.
Meski demikian, penguatan sektor hulu dinilai menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Prof. Dr. A. Faroby Falatehan, menilai Sulawesi Utara sebenarnya memiliki modal besar untuk menjadi pusat industri kelapa nasional. Namun, sejumlah persoalan mendasar masih menghambat optimalisasi nilai ekonomi komoditas tersebut.
Menurutnya, hingga saat ini sebagian besar petani masih bergantung pada penjualan kelapa maupun kopra sebagai produk primer, sehingga nilai tambah yang diterima petani relatif rendah.
Padahal, hampir seluruh bagian kelapa memiliki nilai ekonomi apabila diolah lebih lanjut. Daging kelapa dapat diolah menjadi minyak kelapa maupun berbagai produk pangan, air kelapa menjadi minuman dan nata de coco, tempurung menjadi arang serta activated carbon, sedangkan sabut dapat diolah menjadi coco fiber dan cocopeat.
"Hilirisasi sebenarnya sudah berkembang, tetapi kedalaman dan diversifikasi pengolahannya masih perlu diperkuat. Selain itu, rantai pasok industri juga belum terintegrasi sehingga manfaat ekonomi yang diterima petani maupun daerah belum optimal," katanya.
Faroby mengingatkan, apabila pemerintah daerah bersama pelaku industri tidak segera melakukan pembenahan di sektor hulu, Sulawesi Utara menghadapi sejumlah risiko serius.
Selain berpotensi kehilangan predikat sebagai Bumi Nyiur Melambai dari sisi produksi, industri pengolahan di daerah juga akan semakin bergantung pada pasokan bahan baku dari luar daerah. Kondisi tersebut berisiko meningkatkan biaya logistik dan mengurangi daya saing industri.
Ia mengibaratkan kondisi industri kelapa Sulut saat ini seperti mesin yang sudah bekerja cepat di sektor hilir, namun rantai penggeraknya di sektor hulu mulai mengalami keausan.
"Mesin pertumbuhan di hilir sudah berputar kencang, tetapi rantai penggeraknya di hulu justru terancam aus. Karena itu, kunci keberlanjutan industri kelapa Sulawesi Utara berada pada penataan kembali serta peremajaan sektor hulu," tegasnya.
Faroby menilai penguatan produktivitas kebun rakyat, regenerasi tanaman kelapa, integrasi rantai pasok, hingga peningkatan investasi pada industri pengolahan harus berjalan secara bersamaan agar potensi besar kelapa benar-benar mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Sulawesi Utara sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Editor : Ayurahmi Rais