MANADOPOST.ID—North Sulawesi Investment Forum (NSIF) 2026North Sulawesi Investment Forum (NSIF) 2026 menjadi panggung bagi Sulawesi Utara (Sulut) untuk menegaskan kesiapan menjadi salah satu tujuan investasi paling prospektif di kawasan timur Indonesia.
Mengusung tema Driving Value Creation: Advancing Downstream and Green Investment in North Sulawesi, forum yang digelar Jumat (7/8) itu mempertemukan pemerintah, investor, pelaku usaha, lembaga keuangan, pemilik proyek, hingga delegasi internasional guna mempercepat realisasi investasi yang berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi, hilirisasi industri, dan penciptaan lapangan kerja.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut Joko Supratikto mengatakan, investasi merupakan motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi. Karena itu, Sulut harus mampu memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga dengan menghadirkan iklim investasi yang semakin kompetitif.
"Sulut tidak hanya memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi juga mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang kuat sebagai modal menarik investasi. NSIF menjadi wadah strategis yang mempertemukan pemerintah, investor, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat masuknya investasi ke daerah," ujarnya.
Menurut Joko, Sulut kini tidak lagi sekadar menawarkan potensi, melainkan kesiapan menerima investasi. Hal itu ditunjukkan melalui pendampingan proyek yang dilakukan BI bersama pemerintah daerah agar setiap proyek memenuhi standar investor dan siap ditawarkan.
Ia menjelaskan, portofolio investasi Sulut semakin beragam, mulai dari sektor perikanan, pariwisata, industri pengolahan, transportasi dan logistik, layanan kesehatan, hingga penyediaan air minum. "Kondisi ini menunjukkan investasi di Sulut tidak lagi bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam, melainkan mulai bergerak ke arah hilirisasi dan penciptaan nilai tambah," tekannya.
Berdasarkan pemaparannya, perekonomian Sulut pada triwulan II 2026 tumbuh 5,42 persen (year on year), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Kinerja ini didorong meningkatnya investasi dan aktivitas pembangunan yang tercermin dari akselerasi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dari 3,25 persen menjadi 7,12 persen (yoy), serta pertumbuhan sektor konstruksi dari 3,35 persen menjadi 7,63 persen (yoy).
Realisasi investasi juga menunjukkan tren positif. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada triwulan II 2026 mencapai Rp1,284 triliun atau 63,15 persen dari total investasi. Sementara Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat Rp749 miliar atau 36,85 persen. Kota Manado menjadi daerah dengan realisasi investasi terbesar sebesar Rp720,54 miliar, disusul Kabupaten Minahasa Utara Rp636,51 miliar, dan Kota Bitung Rp202,26 miliar.
Sehingga, untuk memperkuat pipeline investasi, BI mengembangkan program Regional Investor Relations Unit (RIRU) melalui pendampingan proyek secara menyeluruh atau Investment Ready to Offer (IPRO).
Joko membeber, tahun ini terdapat 17 proyek baru yang didampingi mulai dari identifikasi, kurasi, peningkatan kapasitas pemilik proyek, penyusunan dokumen investasi, hingga penilaian substansi agar memenuhi standar investor.
"Dari proses tersebut, lima proyek masuk tahap kurasi lanjutan dan tiga proyek dipersiapkan untuk dipromosikan kepada investor. BI juga terus mendampingi sembilan proyek investasi eksisting guna memastikan realisasi investasi berjalan optimal sekaligus membuka peluang ekspansi," tukasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Wilayah III Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Abdul Qodir menegaskan hilirisasi menjadi salah satu fokus utama Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Menurutnya, kesiapan daerah menjadi faktor penting dalam menarik investasi. Potensi sumber daya alam harus diikuti proyek yang matang, kepastian berusaha, dan dukungan infrastruktur sehingga investasi mampu menciptakan nilai tambah, menggerakkan ekonomi kerakyatan, serta menyerap lebih banyak tenaga kerja.
Di sisi lain, Wakil Gubernur Sulut Dr. Johannes Victor Mailangkay, S.H., M.H. menyebut Sulut memiliki tiga keunggulan utama. Pertama, posisi strategis sebagai gerbang Indonesia di kawasan Pasifik.
Kedua, pengembangan Sulut sebagai hub logistik yang terintegrasi untuk mendukung arus perdagangan kawasan timur Indonesia. Ketiga, besarnya potensi hilirisasi pada sektor kelautan, perikanan, dan pertanian yang mampu meningkatkan nilai tambah produk daerah.
Selain itu, Sulut juga dinilai memiliki prospek besar dalam pengembangan energi hijau. Menurut Victor, daerah ini menjadi salah satu provinsi paling progresif dalam pembangunan energi baru terbarukan (EBT), sehingga selaras dengan arah investasi global yang semakin berorientasi pada ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan.
Diketahui, NSIF ini turut dihadiri, Deputy Head of Mission Embassy of New Zealand Mr. Hamza Haidon, Consul General of the Republic of the Philippines in Manado Hon Mary Jennifer Domingo Dingal, Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Dr. Sarman Simanjorang, S.E., M.Si, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Utara Robert Sianipar, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara Dr. Watekhi, S.Si., M.Si, Bupati Minahasa Selatan Franky Donny Wongkar, S.H, Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari, S.E., M.M, Plt. Bupati Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) Heronimus Makainas, S.E., M.M, Wakil Wali Kota Manado dr. Richard Henry Marthen Sualang, Bupati Bolaang Mongondow Selatan H. Iskandar Kamaru, S.Pt., M.Si, Bupati Bolaang Mongondow Utara Dr. Sirajudin Lasena, S.E., M.Ec.Dev, Bupati Bolaang Mongondow Timur Oskar Manoppo, S.E., M.M, Bupati Kepulauan Talaud Welly Titah, Wali Kota Bitung Hengky Honandar, S.E, Wali Kota Kotamobagu dr. Weny Gaib, Sp.M, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sulawesi Utara Ir. Hermina Syaloom Dailly Korompis dan tamu undangan lainnya.
Editor : Ayurahmi Rais