MANADOPOST.ID- Tingkat pemahaman dan kecakapan masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) dalam mengelola akses serta produk keuangan menunjukkan tren yang kian positif. Berdasarkan rilis resmi hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026, Indeks Literasi Keuangan di Bumi Nyiur Melambai sukses menembus angka 69,98 persen, mengungguli capaian rata-rata nasional yang berada di level 69,57 persen.
Capaian ini beberkan langsung Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara, Dr. Watekhi, di sela-sela gelaran Media Update Triwulan III Sulut yang berlangsung di Kantor BPS, Rabu (19/8/2026).
Ia menekankan capaian ini mencerminkan semakin matangnya kesadaran finansial masyarakat daerah. "Pengukuran SNLIK tidak hanya melihat pengetahuan teknis semata, namun mengevaluasi lima parameter utama integratif (well-literate) mulai dari pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), keyakinan (confidence), sikap (attitude), hingga perilaku nyata (behavior) dalam mengambil keputusan keuangan sehari-hari," jelasnya, yang saat itu menjadi narasumber bersama Kepala OJK SulutGo Robert Sianipar,Kepala Biro Perekonomian Pemprov Sulut Reza Dotulung, Direktur Umum BSG Joubert Dondokambey, serta Kepala Tim Implementasi Kebijakan dan Pengawasan SP PUR BI Sulut Ircham Andrianto Taufick
Lanjutnya, secara komparatif menurut wilayah, masyarakat di area perkotaan Sulut memimpin tingkat literasi keuangan dengan angka 73,45 persen.
Sementara itu, kawasan perdesaan mencatatkan indeks sebesar 64,35 persen. Kedua kategori wilayah ini terbukti tampil lebih unggul jika disandingkan dengan rata-rata indeks nasional (Perkotaan Nasional: 72,54%, Perdesaan Nasional: 64,42%).
Di sisi lain, fenomena menarik terlihat dari diferensiasi berbasis gender. Kelompok perempuan lebih adaptif dan cermat dalam urusan literasi keuangan dengan indeks mencapai 72,03 persen.
Angka ini mendominasi bila dibandingkan kelompok laki-laki yang mencatatkan indeks sebesar 68,03 persen. Temuan ini mempertegas peran sentral kaum perempuan sebagai manajer keuangan rumah tangga di Sulawesi Utara yang kian melek terhadap produk instrumen finansial formal.
"Namun demikian, laporan ini turut menyisakan pekerjaan rumah pada segmen keuangan berbasis syariah. Indeks literasi keuangan syariah di Sulawesi Utara tercatat baru menyentuh 23,07 persen, masih tertinggal cukup jauh jika dibandingkan dengan rerata nasional yang telah mencapai 43,07 persen," tegasnya.
Watekhi menegaskan, data riset SNLIK bukan sekadar kompilasi statistik tahunan, melainkan navigasi utama penentu arah kebijakan ekonomi daerah.
Diketahui, penyelenggaraan SNLIK 2026 merupakan kerja sama kolaboratif skala nasional yang melibatkan tiga lembaga kunci: Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS).
Di level lokal Sulut pendataan lapangan dilaksanakan pada periode 26 Januari hingga 18 Februari 2026. BPS mengerahkan 98 petugas lapangan (65 pendata PPL dan 33 pengawas PML) yang menjangkau 183 Satuan Lingkungan Setempat (SLS) atau mencakup 1.798 rumah tangga sampel dengan tingkat respon (response rate) mencapai 98,41 persen. Pendataan ini memanfaatkan metode wawancara digital Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI) melalui aplikasi FASIH Mobile untuk menjamin akurasi data.
Hasil ini Menjadi pijakan OJK, BPS, dan Pemprov Sulut dalam mengevaluasi efektivitas program edukasi keuangan yang tengah berjalan, sekaligus merancang peta jalan (roadmap) inklusi keuangan di tahun-tahun mendatang.
Kemudian, Pengukur Kepercayaan Jasa Keuangan & Penjaminan: Mengukur sejauh mana publik memahami produk perbankan, tingkat kepercayaan terhadap penjaminan simpanan oleh LPS, hingga tingkat pemahaman atas perlindungan polis asuransi.
Benteng Proteksi Kejahatan Keuangan Digital: Tingkat literasi yang tinggi merupakan instrumen paling efektif untuk membentengi masyarakat dari ancaman kejahatan siber perbankan, jebakan pinjaman online (pinjol) ilegal, serta penipuan skema investasi bodong.
Katalisator Kesejahteraan dan Ekonomi Daerah: Masyarakat yang berliterasi tinggi memiliki kecenderungan mengalokasikan finansial secara terencana, produktif, dan aman, yang pada gilirannya memperkuat fondasi ketahanan ekonomi masyarakat di Sulut. (ayu)
Editor : Ayurahmi Rais