Kemarau Panjang Picu Inflasi Sulut, Harga Cabai Rawit Hingga Kangkung Alami Kenaikan

Ayurahmi Rais • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 12:46 WIB

 

Kepala BPS Sulut Watekhi bersama Kepala Biro Perekonomian Reza Dotulung di sela BRS, Selasa (1/8).
Kepala BPS Sulut Watekhi bersama Kepala Biro Perekonomian Reza Dotulung di sela BRS, Selasa (1/8).

 

 

MANADOPOST.ID —Agustus 2026, Sulawesi Utara inflasi 0,29 persen (mtm). Angka ini sedikit naik dibandingkan periode Juli. Sedangkan inflasi tahun kalender sebesar 3,68 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulur Watekhi menjelaskan kenaikan harga pada Agustus dipengaruhi sejumlah kelompok pengeluaran, terutama transportasi, pendidikan, serta makanan, minuman dan tembakau.

“Inflasi Agustus sebesar 0,29 persen,” kata Wateki saat menyampaikan rilis perkembangan inflasi Sulawesi Utara, Selasa (1/9/2026) yang didampingi langsung Kepala Biro Perekonomian Sulut Reza Dotulung.

Ia membeber, dari kelompok makanan, kenaikan harga sejumlah komoditas dipengaruhi kondisi produksi pertanian yang menghadapi tantangan akibat kemarau panjang.

Kondisi tersebut turut berdampak terhadap harga sejumlah komoditas hortikultura. Cabai rawit dan kangkung menjadi beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Agustus.

"Tekanan harga juga datang dari kelompok transportasi. Harga tiket pesawat kembali mengalami kenaikan setelah berakhirnya periode promo yang berlangsung pada momentum libur panjang," katanya. 

Selain transportasi dan pangan, kelompok pendidikan juga menjadi salah satu kelompok pengeluaran yang memberikan tekanan terhadap inflasi. 

Editor : Ayurahmi Rais
Kemarau Picu Inflasi Cabai Rawit dan Kangkung Dorong Inflasi Sulut Inflasi Sulut Agustus Inflasi BPS Sulut