Ekspor Tetap Kuat, Sulut Surplus 12,5 Triliun

Ayurahmi Rais • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 19:58 WIB
Ekspor semakin menguat, Neraca Perdagangan Sulut selang Januari hingga Agustus mengalami Surplus sekira Rp12 triliun.
Ekspor semakin menguat, Neraca Perdagangan Sulut selang Januari hingga Agustus mengalami Surplus sekira Rp12 triliun.

 

 

MANADOPOST.ID –Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari hingga Agustus 2026, nilai ekspor Sulut mencapai US$848,70 juta atau setara Rp15,18 triliun.

 Sementara nilai impor berada di angka US$148,83 juta atau Rp2,66 triliun. Artinya, secara kumulatif neraca perdagangan Sulut mencatat surplus US$699,87 juta atau setara sekitar Rp12,52 triliun, berdasarkan asumsi kurs pada Minggu (4/10/2026).

Kepala BPS Sulut Dr Watekhi mengatakan, ekspor merupakan salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi. Peningkatan nilai ekspor menunjukkan ekonomi daerah tetap memiliki kekuatan di tengah ketidakpastian ekonomi global maupun nasional.

Ia menjelaskan, kinerja ekspor tersebut turut ditopang capaian pada Agustus 2026 yang mencapai US$110,69 juta. Nilai ini meningkat 44,93 persen dibandingkan Agustus 2025 yang tercatat US$76,38 juta.

Namun, di tengah penguatan nilai ekspor, struktur perdagangan luar negeri Sulut masih menunjukkan ketergantungan yang cukup tinggi terhadap komoditas tertentu. Watekhi menyebut komoditas lemak dan minyak hewani/nabati (HS-15) masih mendominasi ekspor Sulut dengan kontribusi sekitar 72,32 persen dari total ekspor sepanjang Januari–Agustus 2026.

Karena itu, ia mendorong adanya perluasan komoditas ekspor. Diversifikasi diperlukan agar kinerja ekspor Sulut tidak terlalu bergantung pada satu kelompok komoditas dan semakin banyak potensi produk daerah yang dapat masuk ke pasar internasional.

Watekhi menekankan,  perdagangan luar negeri memiliki ruang yang besar untuk terus didorong sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi Sulut. Karena ekspor tidak hanya berkaitan dengan masuknya devisa, tetapi juga dapat menggerakkan produksi, membuka lapangan kerja dan memperluas aktivitas usaha di berbagai sektor.

Sebelumnya, mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) periode 2011–2014 sekaligus pengusaha, Dahlan Iskan, menilai ekspor menjadi salah satu kunci untuk mendatangkan uang dari luar ke dalam daerah.

Menurut Dahlan, perputaran ekonomi daerah tidak cukup hanya mengandalkan belanja pemerintah melalui APBD maupun APBN. Daerah membutuhkan sumber pemasukan dari luar negeri, terutama melalui ekspor dan kunjungan wisatawan mancanegara. “Di negara atau di daerah itu cuma dua, yaitu ekspor dan turis. Maksudnya duit dari negara lain yang masuk ke sini,” ujar Dahlan.

Ia mengatakan, eksportir memiliki peran penting dalam menarik devisa dari luar negeri masuk ke Indonesia, khususnya Sulut. Semakin banyak produk daerah yang mampu menembus pasar internasional, semakin besar pula potensi uang dari luar negeri masuk dan berputar di daerah. “Nah, mereka yang menarik devisa atau duit dari negara luar masuk ke Indonesia, lebih khusus lagi ke Sulawesi Utara,” katanya.

Namun, Dahlan menyoroti masih adanya persoalan dalam rantai ekspor sejumlah komoditas Sulut. Produk unggulan seperti ikan tuna, sirip tuna, pala dan kelapa, menurut dia, masih harus dikirim melalui daerah lain sebelum diteruskan ke negara tujuan.
Kondisi tersebut membuat manfaat ekonomi dari aktivitas ekspor belum sepenuhnya dapat dinikmati Sulut. Padahal, secara geografis, Sulut memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan kawasan Asia Pasifik.

Karena itu, Dahlan mendorong Bitung diperkuat sebagai pintu gerbang ekspor langsung dari Sulut ke pasar internasional. Dengan konektivitas perdagangan yang lebih baik, produk daerah dapat dikirim langsung ke negara tujuan tanpa terlebih dahulu melalui pelabuhan di daerah lain. “Kalau Bitung itu bisa ekspor langsung jadi pintu gerbang,” tegasnya.

Penguatan ekspor langsung tersebut dinilai penting agar besarnya nilai perdagangan luar negeri tidak hanya tercermin dalam angka surplus, tetapi juga memberikan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian daerah.

Ketika produk Sulut semakin banyak menembus pasar internasional, manfaatnya diharapkan tidak berhenti pada eksportir. Rantai ekonomi di daerah juga dapat ikut bergerak, mulai dari petani dan nelayan sebagai pemasok bahan baku, industri pengolahan, tenaga kerja, hingga sektor transportasi, logistik dan jasa perdagangan.

Dengan begitu, peningkatan ekspor dapat menciptakan efek berganda bagi masyarakat sekaligus memperkuat struktur ekonomi Sulut. Untuk mencapai itu, perluasan komoditas ekspor dan penguatan Bitung sebagai pintu gerbang perdagangan internasional menjadi bagian penting dalam mendorong ekspor Sulut ke depan. (*)

Editor : Ayurahmi Rais
ekspor Sulut mencapai US$848 70 juta Kepala BPS Sulut Dr Watekhi Neraca Perdagangan Ekspor