Kelapa Minahasa Tembus Pasar Turkiye, Sasa Bidik Ekspor USD 1 Juta

Amelia Beatrix • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 10:18 WIB
Kelapa pilihan dari Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, menjadi bahan baku produk ekspor Sasa ke pasar Turkiye.
Sasa Garap Pasar Turkiye, Kontrak Ekspor Kelapa Kering Tembus USD 1 Juta

MANADOPOST.ID – Kelapa Indonesia punya jalan baru menuju pasar Turkiye. PT Sasa Inti menjalin kemitraan strategis senilai USD 1 juta dengan Zafer Global Gida, perusahaan perdagangan pangan asal Turkiye, untuk memasok produk kelapa parut kering rendah lemak mulai 2027.

Kesepakatan itu ditandai penandatanganan nota kesepahaman di Trade Expo Indonesia 2026, ICE BSD City, pada 15 Oktober. Menteri Perdagangan Budi Santoso turut menyaksikan kerja sama tersebut.

Peluangnya tidak kecil. Indonesia tercatat sebagai eksportir kelapa kering terbesar kedua di dunia pada periode 2019–2023, dengan pangsa 24,90 persen. Sementara itu, Turkiye mengimpor rata-rata 17 ribu ton kelapa parut kering setiap tahun.

Angka tersebut menjadi pintu masuk bagi produk olahan kelapa Nusantara untuk memperluas jangkauan ekspor.

Marketing Director Sasa, Agus Nugraha, mengatakan kemitraan ini menunjukkan kepercayaan terhadap kemampuan perusahaan dalam memasok produk berkualitas ke pasar internasional. Bahan bakunya berasal dari kelapa pilihan di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.

Produk yang dipasok adalah Low-Fat Desiccated Coconut (LFDC), kelapa parut kering rendah lemak yang digunakan sebagai bahan baku industri pangan.

Bagi Sasa, langkah ini bukan ekspansi pertama. Perusahaan yang berdiri sejak 1968 itu telah memasarkan produk ke berbagai kawasan, mulai Asia Tenggara, Timur Tengah, Asia Timur, Australia, Afrika, hingga Amerika Serikat.

Zafer Global Gida menyambut kerja sama tersebut sebagai awal kemitraan jangka panjang. Perusahaan yang berbasis di Istanbul itu menilai pengalaman Sasa di industri makanan menjadi modal penting untuk memperkuat perdagangan kedua negara.

Ekspansi ini juga ditopang standar mutu dan keamanan pangan internasional, termasuk FSSC 22000, ISO 22000, ISO 9001, HACCP, serta sertifikasi halal BPJPH.

Nilai kontrak USD 1 juta mungkin baru langkah awal. Namun, di baliknya ada peluang lebih besar, mengolah potensi kelapa lokal menjadi produk bernilai tambah dan memperluas tempat Indonesia dalam rantai pasok pangan dunia. (AME)

Editor : Amelia Beatrix
kelapa Minahasa Selatan Sasa Inti Turkiye