Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Saat Dunia Marvel Takut pada Satu Nama: Doctor Doom

ALengkong • Rabu, 18 Februari 2026 | 08:50 WIB
DR Doom
DR Doom

manadopost.id - Di semesta Marvel, banyak nama besar yang ditakuti: Thanos, Galactus, hingga Kang. Tapi ada satu sosok yang berbeda. Ia bukan sekadar penjahat super. Ia adalah ilmuwan jenius, penguasa sebuah negara, sekaligus penyihir tingkat tinggi. Namanya adalah Doctor Doom.

Bagi banyak pembaca komik, Doom bukan hanya musuh lama Fantastic Four. Ia adalah simbol ambisi tanpa batas.


Dari Anak Romani ke Penguasa Latveria

Doom lahir sebagai Victor von Doom di Latveria, negara kecil di Eropa Timur versi Marvel. Masa kecilnya keras. Ibunya tewas karena perjanjian gelap dengan entitas iblis, sementara ayahnya meninggal dalam pelarian. Tragedi itu membentuk ambisinya: ia ingin menguasai takdir, bahkan jika harus menantang hukum alam.

Sebagai mahasiswa, Victor dikenal sebagai rival utama Reed Richards. Sebuah eksperimen gagal membuat wajahnya terluka—dan sejak itu topeng besi menjadi identitas permanennya. Namun luka fisik hanyalah awal. Doom lalu mempelajari sihir, menggabungkannya dengan kecerdasan ilmiah luar biasa.

Hasilnya? Kombinasi sains dan sihir yang jarang dimiliki karakter lain di Marvel.


Bukan Sekadar Penjahat

Yang membuat Doom berbeda adalah skala kekuasaannya. Ia bukan kriminal bayangan. Ia adalah kepala negara Latveria. Rakyatnya, dalam banyak versi cerita, justru hidup stabil di bawah pemerintahannya.

Armor Doom memberinya kekuatan super, perlindungan energi, senjata canggih, hingga kemampuan terbang. Di sisi lain, ia juga menguasai mantra pelindung, teleportasi, bahkan perjalanan lintas dimensi.

Dalam beberapa alur cerita besar Marvel, Doom pernah:

Di event Secret Wars (2015), misalnya, Doom bahkan sempat membentuk ulang realitas sesuai kehendaknya.


Mengapa Doom Sulit Dikalahkan?

Secara teori, ada kekuatan yang bisa menandingi Doom—manipulasi realitas seperti milik Scarlet Witch, kekuatan kosmik setara Phoenix Force, atau entitas abstrak seperti Living Tribunal.

Namun masalahnya bukan sekadar kekuatan mentah.

Doom selalu selangkah lebih depan. Ia punya rencana cadangan, Doombot sebagai umpan, aliansi rahasia, dan ego yang justru mendorongnya terus berkembang. Bahkan saat ia “jatuh”, bayang-bayangnya tetap menghantui Latveria.

Dalam salah satu cerita terbaru komik Captain America, muncul kekhawatiran akan bangkitnya sosok “Doom kedua” dari puing-puing kekuasaannya. Artinya, Doom bukan hanya individu—ia sudah menjadi warisan ketakutan.


Villain dengan Prinsip

Hal lain yang membuat Doom kompleks adalah keyakinannya bahwa ia benar. Ia tidak melihat dirinya sebagai penjahat. Dalam pandangannya, dunia butuh kendali kuat. Ia percaya hanya dirinya yang cukup cerdas untuk memimpin umat manusia menuju stabilitas.

Ironisnya, dalam beberapa cerita alternatif, ketika Doom benar-benar memerintah dunia, hasilnya justru lebih tertib dibanding ketika para pahlawan memegang kendali.

Itulah yang membuatnya berbahaya. Doom bukan sekadar haus kekuasaan. Ia percaya kekuasaan itu adalah solusi.


Ketika Dunia Marvel Menyebut “Doom”

Di antara para villain Marvel, Doom punya posisi unik. Ia bisa menjadi musuh Fantastic Four, Avengers, X-Men, bahkan entitas kosmik. Ia tidak terikat pada satu konflik.

Setiap kali namanya muncul, para pahlawan tahu satu hal: ini bukan ancaman biasa. Ini permainan strategi, sains, sihir, dan ambisi tingkat tinggi.

Dan mungkin itulah alasan mengapa, di tengah begitu banyak karakter kuat di semesta Marvel, dunia tetap takut pada satu nama.

Doctor Doom.

Editor : ALengkong
#doctor doom #Marvel #avenger