Pria Maros yang Nekat Jalan Kaki dari Sulsel ke Sulut Sejak 21 September 2024, Ini Kisahnya
Filip Kapantow• Rabu, 29 Januari 2025 | 23:01 WIB
ENJOY: Andi Mohammad alias Daeng Anpes (kacamata hitam), Pria asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, ini sedang viral. Ia memutuskan jalan kaki dari kampung halamannya 21 September 2024 (Ft Istimewa)
MANADOPOST.ID - Namanya Andi Mohammad. Lebih dikenal dengan panggilan Daeng Anpes. Usianya 28 tahun. Sudah menikah dan memiliki satu anak.
Pria asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, ini sedang viral. Ia memutuskan jalan kaki dari kampung halamannya pada 21 September 2024 silam.
Hingga memasuki hari ke-113 pada Selasa 28 Januari 2025, Daeng Anpes sudah berada di Desa Saleo 1 Kecamatan Bolangitan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Sulawesi Utara (Sulut).
Artinya, Daeng Anpes sudah melewati 4 provinsi. Yakni, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Gorontalo dan kini berada di wilayah Sulut.
Seperti yang ia tuturkan kepada temannya di Manado, Baso Affandi, lelaki lulusan SMK Muhammadiyah 4 Tallo, Makassar ini akan menyudahi petualangan jalan kaki dari ujung Selatan ke ujung utara Pulau Sulawesi di Kota Manado.
‘’Ya betul, In Shaa Allah saya akan finish di zero point Manado. Saya perkirakan akan tiba di ibukota Sulut sekira paruh Februari,’’ kata Daeng Anpes melalui video call dengan Baso.
Apabila ia tiba di Manado nanti, Daeng Anpes akan memecahkan rekor Muri pejalan kaki yang masih dipegang Husin asal Palembang, Sumatera Selatan, yang menempuh jarak 1548 km pada 2007 silam.
Husin kelahiran 23 Agutus 1978 menghabiskan waktu 1 bulan dan 23 hari untuk rekor MURI pejalan kaki.
Sekadar pembanding, jarak antara Makassar ke Manado adalah 1.726 kilometer. Di luar hitungan dari Maros.
‘’Saya tidak mengejar berapa hari karena niat saya tidak sekadar jalan tapi juga melihat langsung kehidupan masyarakat Sulawesi sepanjang jalur Trans Sulawesi. Saya harus singgah di beberapa desa dan kota, sekadar bermalam atau istirahat. Baik atas permintaan warga atau karena hendak mencari bekal lanjutan. Soal rekor MURI, itu urusan berikut. Yang penting saya bisa mewujudkan niat jalan kaki dari Sulsel ke Sulut. Tidak peduli berapa ratus kilometer jaraknya dan saya tak terlalu memusingkan berapa hari perjalanan yang saya tempuh. Pokoknya jalan dan in Shaa Allah nanti bisa tiba di Manado,’’ tegas putra dari almarhum Andi Muhammad Yunus Tahir dan Ibu Ibu Dahlia, BA tersebut.
Suami dari Nurjanah dan ayah dari Nureilya ini hanya ingin menikmati setiap jengkal wilayah yang ia lewati.
‘’Tapi, di luar niat jalan kaki ini, saya ingin mengesplore daerah-daerah tujuan wisata sepanjang Trans Sulawesi. Sekaligus ingin membuktikan bahwa sepanjang jalur ini sangat aman. Sudah tiba di wilayah Bolmut, saya belum pernah mendapat halangan apapun. Nyaris tidak pernah bertemu orang jahat bahkan untuk sekedar mengusili pun tidak pernah saya alami. Malah saya dibantu dan mendapat sambutan luar biasa sepanjang perjalanan,’’ urainya.
Dengan bekal pakaian seadanya, yang dipanggul di tas punggung, bersendal jepit dan mendorong argo, Daeng Anpes kini jadi viral.
Setiap memasuki desa-desa dan sejumlah kota, ia disambut layaknya pahlawan.
Bahkan saban hendak meninggalkan desa atau kota yang dilewati, ia diantar ratusan penduduk hingga perbatasan.
Sesekali ia melakukan siaran langsung lewat ponselnya melalui akun media sosialnya. Pun tak sedikit warga yang merekam perjalanan anpes dan juga di-live di medsos.
Salah satu contoh adalah ketika ia tiba di Boroko, Ibukota Kabupaten Bolmut pada Sabtu 25 Januari lalu.
Ratusan warga, baik yang jalan kaki maupun bersepeda motor dan mobil, turut menjemput Daeng Anpes di perbatasan Sulut dan Gorontalo itu.
Pun ketika ia meninggalkan Boroko keesokan harinya, diantar arak-arakkan warga.
Hal serupa juga ia alami ketika bermalam di Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo. Daeng Anpes jadi rebutan warga.
Mereka memberi dukungan moril, diajak berfoto dan lalu diantar ribuan orang saat memasuki wilayah Sulut.
Di Boroko, Daeng Anpes sempat bermalam di salah satu penginapan. Ia difasilitasi oleh Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Bolmut. ‘
"Sebetulnya banyak yang meminta saya mampir bermalam di rumah warga. Kebetulan saja di Bolmut ada KKSS yang memberi fasilitas. Tapi, biasanya saya ditawari nginap di rumah warga. Apabila malam tiba, saya memilih istirahat, karena jika jalan malam menghindari risiko saja. Terbanyak nginap di masjid atau kantor polisi seperti Polres atau Polsek, Koramil atau Kodim,’’ tuturnya.
Di salah satu daerah di Sulbar, Daeng Anpes sempat bermalam di musholah. Dia tempat itu ia sempatkan membersihkan toilet musolah.
Ia merasa bangga dan terharu dengan sambutan warg di sepanjang Trans Sulawesi.
‘’Saya sangat berterima kasih dan memohon doa agar perjalanan saya untuk sampai di Manado dilancarkan. Alhamdulillah sejauh ini, sampai di Desa Saleo 1 di Bolmut, tidak ada hambatan,’’ tutur pria yang sudah menghabiskan tujuh sendal selama 113 hari perjalanannya itu.
Di Gorontalo, Daeng Anpes sempat diminta salah satu pengembang untuk mempromosikan rumah yang sedang mereka bangun.
Melalui akun medsosnya, ia melakukan siaran langsung dan mengendorse perumahan tersebut.
"Salut dengan semangat dan keteguhan Daeng Anpes," kata Asdar Sandawan, salah seorang warga yang hadir dan menyaksikan perjalanan tersebut.
Perjalanan Daeng Anpes melintasi berbagai provinsi ini telah menjadi inspirasi banyak orang.
Daeng Anpes sering menyemangati dirinya dengan kata-kata, “Ada-adaji itu,” yang artinya bahwa rezeki bisa datang dari mana saja, dan bahwa Allah selalu memberi solusi atas setiap tantangan hidup.
"Apapun yang kita mulai, harus kita selesaikan. Tidak ada usaha mengkhianati hasil. Jika kita takut gagal, maka kesuksesan hanya akan menjadi mimpi," tegas Daeng Anpes penuh keyakinan.
Lebih dari itu, perjalanan Daeng Anpes juga membawa pesan damai bagi dunia, bahwa orang Sulawesi, dari suku manapun, memiliki sifat ramah dan bersahabat.
Ia tidak sekadar ngomong tapi membuktikan sendiri hingga tiba di wilayah Bolmut saat ini dalam keadaan sehat walafiat.
‘’Jika ia tiba di Manado, kita akan siapkan penyambutan dan mengawal hingga menyentuh finish di Zero Point. Kita harapkan Daeng Anpes akan membawa pesan damai dan kerukunan dari pengalamannya mengarungi Trans Sulawesi dengan jalan kaki,’’ tutur Hi Salahuddin Ganggong, Owner Primadona Café, yang juga Ketua KKSS Manado.
‘’Kita akan undang seluruh komponen warga Sulut di Manado untuk menyambut Daeng Anpes di Zero Point nanti,’’ tukas Hi Udin, panggilannnya. (hpn).