Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Anggota DPRD Sulawesi Utara Normans Luntungan ST MEng, Anak Pulau yang Terlahir Bangun Nusa Utara, Perjuangkan Kesehatan, Pendidikan dan Perekonomian

Filip Kapantow • Senin, 28 April 2025 | 09:26 WIB
 
INOVATIF: Wawancara Manado Post (MP) bersama Normans Luntungan (NL, kiri), di Podcast MP Talks, Jumat (25/04/25) di Grha Pena Manado.
INOVATIF: Wawancara Manado Post (MP) bersama Normans Luntungan (NL, kiri), di Podcast MP Talks, Jumat (25/04/25) di Grha Pena Manado.
 
 
MANADOPOST.ID - Anggota DPRD Sulawesi Utara daerah pemilihan Nusa Utara mencakup Kabupaten Sangihe, Sitaro, dan Talaud, Normans Luntungan ST MEng, menceritakan perjalanan hidup sejak masa kecil hingga sukses di dunia usaha dan politik. 
 
Berikut wawancara.Manado Post (MP) bersama Normans Luntungan (NL), di Podcast MP Talks, Jumat (25/04/25) di Grha Pena Manado.
 
MP: Terima atas kehadirannya dan kehadiran bapak di tempat ini dalam podcast MPTalks. Bapak sendiri dari kepulauan yang tentunya kita semua tahu bahwa betapa kerasnya hidup di kepulauan. Mungkin bapak bisa menceritakan terkait masa kecil pak Normans di Sitaro itu seperti apa?
 
NL: Terima kasih atas undangan dari Manado Post kepada saya. Saya Normans Luntungan, Sarjana Teknik Master Engineering. Dari lahir sampai SMA itu saya tinggal di Siau. Waktu dulu masih sama-sama dengan Kabupaten Sangihe. Setelah itu, dari SMA mau masuk ke kuliah S1, kuliah di Surabaya itu jurusan Teknik Sipil ambil di Petra University. Dapat kesempatan oleh Tuhan yang mungkin juga saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa saya bisa mendapatkan kesempatan tersebut. Karena mengingat pada waktu masih kecil dulu, sangat-sangat sulit sekali kehidupan. Bahkan, untuk uang jajan saja pada saat dulu itu kan kalau kita mau beli nasi kuning misalnya, anak SD mau beli nasi kuning itu kisaran 500 rupiah. Kalau saya tidak salah ingat, 500 rupiah per porsi. Untuk membeli itu saja, bahkan orang tua tidak punya uang untuk membelinya. Jadi bersyukur, dapat kesempatan untuk lanjut kuliah ke S2, untuk melihat dunia luar, dunia internasional itu seperti apa, bertemu dengan teman-teman dari beragam negara. Ada dari Australia, Cina, Jepang, Korea, ada Amerika juga di situ ada datang, Jerman, Belanda, itu merupakan kesempatan yang sangat luar biasa dapat kesempatan untuk lanjut kuliah di Sidney. Di University of Technology Sidney. Waktu dulu masih kecil, kehidupan di Siau, Siau ini kan cuma pulau, pulau yang tergolong kecil dan kalau sampai saat ini status dari Kabupaten Sitaro ini desa yang sangat-sangat tertinggal. Jadi begitu ada rekrutmen dokter, misalnya penempatan dokter kalau dilihat statusnya Sitaro ini masih dalam kategori kabupaten yang sangat-sangat tertinggal. Bukan cuma tertinggal lagi, ada sangat-sangat tertinggalnya.
 
MP: Sekolahnya, di SD mana?
 
NL: Di SD Excelsior Siau. Itu sekolah swasta. Waktu itu saya mendaftar ke sekolah negeri tapi tidak diterima. Karena pada saat itu, umur saya masih di bawah 6 tahun. Masih 5 tahun. Kan ada syarat masuk kelas 1 SD itu kan umur 6 tahun. Jadi saya tidak bisa masuk di sekolah negeri. Jadi saya masuk di sekolah swasta SD Excelsior Ulu Siau. Waktu itu, untuk mendapatkan makanan, ketika saya minta uang ke orang tua saya, yang diberikan bukan uang 500 rupiah tapi yang diberikan kepada saya itu permen pak. Saya tanya, ini permen buat apa. Permen satu plastik itu. Dia bilang ini uang jajan kamu. Terus kita tanya lagi, uang jajan apa? Ini gula-gula. Dibilang ini nanti saat sampe sekolah pas istirahat, jual pa teman-teman. Jual dapa doi, dapa doi, depe untung pake makang. Depe modal kalo nda abis, ngana kase pulang ulang pa mama deng papa. Untuk setiap hari esok beli ulang gula-gula. Supaya boleh dapa ulang makang nasi kuning. Segitu sulitnya kehidupan pada saat itu. Jadi untuk bisa membayangkan bisa dapat sekolah di luar negeri pada saat itu tidak pernah membayangkan.
 
MP: Dari SD, ke SMP dan SMA apa?
 
NL: SMP itu SMP Negeri. Lanjut SMA Negeri di Siau. Nah, pada saat dari SD, SMP, SMA saya beberapa kali ditunjuk untuk lomba matematika. SD ditunjuk lomba matematika, SMP ditunjuk tapi tidak mau, SMA ditunjuk lagi terus mau. Sempat ditunjuk waktu SD itu, sudah belajar. Karena sudah ditunjuk sebagai utusan resmi. Waktu itu kan kecamatan, jadi kan mau lomba kabupaten, waktu itu kan masih Kabupaten Sangihe, jadi Siau ini kategorinya masih kecamatan, Kecamatan Siau Timur. Jadi, saya waktu itu dari SD Excelsior ditunjuk sebagai utusan lomba matematika di Kecamatan Siau Timur. Dari tingkat kecamatan naik ke tingkat kabupaten. Siapa pemenang dari tingkat kabupaten baru naik ke tingkat provinsi. Pemenang dari tingkat provinsi baru naik ke tingkat nasional. Perlombaannya seperti itu. Nah, sudah ditunjuk untuk mewakili kecamatan itu masuk ke tingkat kabupaten, sudah belajar dari satu bulan yang lalu. Belajar sangat keras bahkan hampir tidak tidur, karena itu merupakan keinginan saya waktu itu untuk bisa berpartisipasi dan setelah kurang lebih tujuh hari, h-7 sebelum lomba dimulai, tiba-tiba nama saya hilang pak. Nama saya dicoret, digantikan oleh salah satu siswa di SD Negeri yang ada. Terus dari sekolah saya SD Excelsior tidak lagi mengutus pelajaran matematika, tapi diutus pelajaran bahasa Indonesia untuk dilombakan. Jadi digantikan, seharusnya sekolah saya mendapat jatah untuk matematika, tapi matematika tidak jadi, digantikan bahasa Indonesia. Dicoret. Saya waktu itu komplain, keberatan dong, saya sudah belajar itu kurang lebih 3 mingguan, hampir satu bulan saya belajar. Terus tiba-tiba dicoret seperti itu kan, rasa kecewa itu sungguh luar biasa. Jadi ya mau gimana lagi, karena waktu itu juga saya tidak bisa bikin apa-apa. Saya bertanya, penuh kekesalan dan kekecewaan. Tapi tetap guru bilang, ya ini sudah keputusan sekolah seperti itu, nanti berikut saja dia bilang. Sementara ini kita kirim dulu yang bahasa Indonesia sebagai utusan, utusan dari sekolah ini untuk tingkat kabupaten, perlombaan di level kabupaten. 
 
MP: Apa yang menjadi pembelajaran saat kejadian seperti itu. Tidak bisa diutus padahal sudah bersiap sepanjang hampir satu bulan. Apalagi, itu kan mental sebagai anak SD. Apa yang menjadi motivasi masa depan karena dengan kasus seperti itu?
 
NL: Jadi setelah sekolah dasar, begitu SMP ditunjuk lagi. Jadi saya sedikit trauma. Trauma dalam artian ya jangan sampai hal ini terulang kembali. Sudah belajar setengah mati, teman-teman panggil main nda ikut. Karena pikir mau perjuangkan nama baik sekolah. Jadi pada saat ditunjuk SMP saya tolak. Saya bilang saya tidak mau. Kecuali kalau ada kepastian memang betul-betul. Kalau nggak, ya sudah, nggak mau, ngapain. Jadi ada sedikit rasa trauma pada saat itu dan ketika SMA ditunjuk lagi.
 
MP: SMA mana waktu itu?
 
NL: SMA Negeri 1 Siau Timur. Jadi, pengalaman SD yang jadi traumatik sampai SMA kejadian lagi. SMA pada saat itu perlombaan untuk murid kelas dua. Syaratnya kan minimal siswa SMA di kelas dua. Tapi yang menggantikan saya saat itu adalah siswa SMA di kelas satu. Artinya kan ini pelajarannya berbeda. Yang dilombakan ini minimal ada di materi kelas dua. Sebenarnya kan untuk kelas satu ini belum pernah pelajari ini kelas dua punya. Untuk dari kelas satu ke kelas dua, kita butuh waktu satu tahun untuk belajar. Sedangkan ini tinggal waktu dua bulan. Nah setelah dipelajari, ternyata yang menggantikan saya ini orang tuanya juga guru disitu. Guru di SMA Negeri 1 Siau Timur dan diutus lagi disitu, dia adalah guru matematika, orang tuanya adalah guru matematika, untuk menggantikan saya. Mungkin saya menduganya mungkin ini persiapan dia supaya tahun depan dia sudah tahu pasti kalah karena memang belum waktunya dia tampil. Tapi, saya melihat juga disini ada unsur politik yang tidak baik. Ada budaya-budaya politik yang tidak baik yang saya merasa harus ada perubahan. Memang Kabupaten Sitaro adalah kabupaten yang kecil dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten yang lain yang ada di provinsi Sulawesi Utara. Tapi dari kabupaten Sitaro yang kecil ini kita harus berusaha melakukan yang terbaik. Minimal attitudenya ini dibuat sesuai attitude yang benar. Jadi sehingga anak-anak yang mau berpartisipasi mengembangkan daerah ini bisa benar-benar berjuang betul-betul dan tidak ada rasa kekecewaan. Jadi makanya itu juga ketika selesai kuliah. Selesai kuliah saya kerja. Saya memutuskan diri untuk terjun ke dunia politik. Ada beberapa hal yang ingin saya perjuangkan yaitu pertama pendidikan. Karena, saya merasa pendidikan ini sangat-sangat penting meskipun manusia terlahir ini tidak bisa menentukan siapa orang tuanya, dimana dia tinggal, dimana dia dibesarkan. Tapi manusia ketika dia dilahirkan saya percaya punya kesempatan untuk merubah dirinya. Bagaimana caranya? Dengan belajar sungguh-sungguh. Ketika dia punya nilai yang luar biasa. Dia pasti akan dipakai untuk peruntukkan yang bagus yang senilai dengan dia. Jadi makanya ketika prestasi, anak ini berprestasi, berpendidikan, saya percaya dia bisa merubah taraf hidup kehidupannya pribadi maupun kehidupan keluarganya. Jadi meskipun seseorang dilahirkan di keluarga yang tidak mampu, jangan berkecil hati. Kita tetap berusaha, belajarlah dengan rajin. Selama kita bisa mempelajari itu dengan benar, saya yakin dan percaya suatu saat kita pasti bisa merubah taraf hidup kehidupan kita. Jadi, makanya itu salah satu sektor yang saya perjuangkan, pendidikan.
 
MP: Berarti motivasi untuk masuk di dunia politik itu untuk memperjuangkan pendidikan dan kesehatan?
 
NL: Ya pertama pendidikan, yang kedua kesehatan, dan yang ketiga ekonomi. 
 
MP: Jadi motivasi itu juga yang menjadi program ya?
 
NL: Jadi ketika saya masuk sebagai daftar caleg saya harus memperjuangkan, salah satu kesehatan. Karena kesehatan ini merupakan nilai yang sangat luar biasa. Ketika kita sehat, kita bisa berpikir, dan kita juga bisa menghasilkan ketika kita sehat. Jadi saya membuat dua program pada saat itu. Dana Sehat dan Dana Duka. Dana Sehat ini yang saya buat untuk pasien yang betul-betul membutuhkan karena memang kalau misalnya mau pakai Dana Sehat ini untuk rawat jalan, budgetnya itu terlalu besar, untuk pribadi itu tidak mungkin. Kecuali kalau ketika nanti kita anggarkan dalam APBD itu masih bisa.
 
MP: Sudah berapa lama Dana Sehat ini berjalan?
 
NL: Jadi sebelum saya terpilih, setahun sebelum pelantikkan, program itu sudah saya luncurkan. Karena saya melihat BPJS sudah ada pak, tapi BPJS ini juga sangat complicated, bukan berarti tidak mungkin tapi sulit. Sulit untuk pengurusan berkasnya, manajemennya semua ribet, kesana-kemari bolak balik. Dan bahkan ada di beberapa lokasi sampai ada pasien yang keburu meninggal sebelum diobati dengan BPJS itu. Jadi mulai dari situ saya berpikir adanya program Dana Sehat. Dana Sehat pada saat itu sebelum saya menjadi anggota dewan saya sudah buat Dana Sehat sebesar 500.000, Dana Duka sebesar 1.000.000. Itu saya buat kepada siapa saja orang yang mau mendukung saya sebagai anggota dewan provinsi. Nah setelah saya menjadi anggota dewan, Dana Sehat dan Dana Duka ini terus berlanjut. Tapi berlanjutnya hanya untuk teman-teman yang memilih saya pada saat saya sebagai anggota dewan. Kenapa hanya teman-teman atau masyarakat yang memilih saya. Karena memang uang Dana Sehat dan Dana Duka ini diambil murni dari gaji saya sebagai anggota dewan. Saya menjadi anggota dewan, mendapatkan gaji, mendapatkan penghasilan. Uang itu yang akan saya kembalikan lagi ke rakyat. Karena memang inti dari itu demokrasi adalah dari rakyat untuk rakyat. 
 
MP: Setelah Dana Sehat itu sudah jalan, katanya dari partai persatuan Indonesia, ada program mobil kesehatan. Atau seperti apa kira-kira untuk menjangkau lebih luas. Karena sudah terpilih mungkin sebagai anggota DPRD Sulut. Mungkin bisa menjangkau yang lebih luas kepada masyarakat sekitar, baik Sangihe, Sitaro, Talaud khususnya di Sitaro yang sesuai domisili. Kira-kira seperti apa itu?
 
NL: Jadi kurang lebih sebulan yang lalu saya dihubungi DPP. Tapi pembicaraan ini jauh sebelum itu saya sudah sampaikan ke DPP bahwa saya akan membuat program yang namanya Dana Sehat dan Dana Duka. Saya sudah ceritakan bagaimana prosesnya, bagaimana cara kerja program ini, sampai nanti perolehan rencananya lebih bisa meraih berapa suara dengan program seperti ini. Awalnya DPP masih agak sedikit ragu karena mungkin dipikir kurang efektif atau bagaimana. Partai Perindo mendukung kader-kader yang ada, dengan memberikan fasilitas yang dinamakan Pos Pelayanan Kesehatan. Pos Pelayanan Kesehatan ini akan disebarkan ke 38 Provinsi yang ada, yang sekarang ready, yang diberitahukan bulan lalu oleh DPP di bidang kesehatan itu kurang lebih sekarang sudah ada 10 container. Jadi itu nanti akan dipilih siapa. 
 
MP: Apakah Sulut sudah masuk gelombang pertama atau kedua?
 
NL: Jadi Sulut sudah masuk dalam gelombang pertama. Itu sedang dibuatkan SKnya untuk diberikan kepada saya. Karena memang nominal container itu sendiri cukup signifikan. Satu container ini bukan cuma containernya tapi juga di dalamnya ini ada isinya. Program ini disebut Pos Pelayanan Kesehatan. Pos Pelayanan Kesehatan ini rencananya akan dibuka untuk melayani kesehatan masyarakat yang membutuhkan. Yang rawat jalan. Nah nanti saya rencananya kalau container ini sudah datang, Pos Pelayanan Kesehatan ini akan dibuka dari jam 3 sore sampai jam 7. Disitu nanti akan ada 1 dokter umum, dan akan ada 1 perawat, 1 suster untuk mendampingi dokter. Biaya kesehatan, jasa kesehatan dokter ini 100% gratis. Karena ini program untuk membantu masyarakat. Kalau kita kenakan biaya lagi sudah bukan program membantu. Program mencari profit namanya. Jadi program ini untuk membantu masyarakat. Jadi biaya jasa untuk dokternya itu gratis. Tapi memang kalau untuk membeli obat itu tetap harus dibayar. Karena itu juga cukup signifikan untuk membeli obat itu. Jadi kurang lebih seperti itu. 
 
MP: Itu kalau yang soal kesehatan. Kalau yang pendidikan dan ekonomi itu seperti apa sebagai anak pulau yang dari masih kecil sudah hidup di kepulauan, Sitaro khususnya. Seperti apa kalau yang tadi itu kesehatan, kalau yang pendidikan dan ekonomi seperti apa kira-kira yang bisa membantu warga di kepulauan dengan kapasitas sebagai anggota DPRD Sulut?
 
NL: Nah itu yang sudah berjalan. Yang saya ceritakan sudah berjalan. Saya berpikir kedepannya Sitaro, saya tidak mau sekedar rumah sakit yang biasa-biasa saja. Saya merencanakan jika memang dipilih masyarakat nanti untuk kedepannya saya merencanakan rumah sakit internasional. Artinya rumah sakit ini kita akan bentuk seperti Penang. Penang itu hanya pulau kecil. Pulau kecil dibandingkan dengan Malaysia yang daratan aslinya. Sudah banyak pasien yang sembuh dari Penang. Penyakit-penyakit yang kelihatannya impossible tapi bisa sembuh berkat Penang. Jadi, memang kita harus prioritaskan ke situ ke kesehatan. Kita akan ubah itu dia rumah sakit. Tapi memang kapasitas itu bukan lagi kapasitas saya sebagai anggota dewan, tapi itu rencana saya, keinginan saya seperti itu. Kita lihat di 2030 seperti apa. Jadi, ketika nanti rumah sakit itu sudah berfasilitas internasional. Artinya untuk mencapai ke situ rumah sakitnya, bukan hanya gedungnya saja yang diprioritaskan. Terutama harus ada dokternya juga. Dokter yang kompeten di bidangnya. Kedua juga harus ada alat-alat penunjang. Ketika itu sudah ada, baru kita masuk ke promosi, marketing, marketing kita sebarkan ke sana. Otomatis orang-orang dari luar ini akan datang. Akan datang ke Kabupaten Sitaro, karena sudah ada bukti beberapa orang sudah sembuh ketika dirawat di rumah sakit yang ada di Kabupaten Sitaro nanti. Nah itu akan mendatangkan nilai ekonomi. Turis-turis mungkin akan datang ke situ untuk berobat. Itu akan mendatangkan nilai ekonomi. Itu untuk meningkatkan nilai ekonomi yang ada. Baru sektor kedua untuk meningkatkan ekonomi adalah pendidikan. Karena seperti yang saya bilang tadi itul, pendidikan merupakan salah satu faktor utama untuk menentukan nasib hidup dari masyarakat. Apakah dia bisa sejahtera atau dia tidak sejahtera juga tergantung dari level pendidikan yang ada. Memang belum tentu juga seorang sarjana bisa lebih sejahtera dibandingkan dengan orang yang tidak sarjana. Tapi, mayoritas yang saya lihat kebanyakan orang yang punya pendidikan sarjana hidupnya lebih sejahtera dibandingkan dengan masyarakat yang pendidikannya kurang. Jadi, makanya program kedua yang sedang saya perjuangkan itu buat rumah sakit yang kompeten bukan hanya fisiknya saja tetapi program kedua juga pendidikan. Saya membuat kampus university atau SMA disitu SMA dan kampus. Supaya mereka bisa belajar bisa independen. Belajar secara komprehensif di kabupaten Sitaro. Dan ini akan menjadi nilai jual. Jadi ketika universitas ini begitu terkenal, itu juga akan mendatangkan turis ke daerah situ.
 
MP: Jadi selama ini belum ada lembaga pendidikan yang representatif di Sitaro. Baik level SMA atau perguruan tinggi?
 
NL: Ini memang hal yang mengecewakan pak. Saya harus jujur, karena ini yang saya alami. Saya 2007-2008, saya selesai SMA. Saya melanjutkan pendidikan ke Petra University Surabaya. Kota terbesar kedua di Indonesia. Bayangkan saya dari Kepulauan Siau. Saya harus melompat pendidikan ke kota terbesar kedua di Indonesia. Itu jenjang pendidikannya, perbedaan pendidikannya sangat tinggi, sangat jauh. Tapi pada saat itu saya tidak tahu. Saya dengan percaya dirinya, karena saya merasa paling pintar mungkin di Kabupaten Sitaro, di Pulau Siau. Pada saat itu saya merasa paling pintar, oh saya mampu ini. Saya mampu untuk sekolah di universitas yang ternama, Universitas Petra. Disitu semua anak-anaknya luar biasa. Tapi saya tidak tahu kalau ada jenjang pendidikan yang begitu signifikan. Setelah saya kuliah, IP (Indeks Prestasi) saya semester 1 2,5. Sangat jauh di bawah harapan, itu semester 1. Padahal itu, IP 2,5 untuk seorang yang seringkali ditunjuk untuk masuk lomba matematika. Bandingkan untuk orang yang lebih di bawah lagi ketika mau masuk ke sekolah-sekolah yang ternama. Bisa-bisa nggak lulus pak. Karena level pendidikannya sangat luar biasa. Perbedaan level pendidikannya sangat signifikan jauh. Jadi makanya saya berpikir level pendidikan ini harus didekatkan. Baik itu komprehensif tingkat pengajarnya. Fasilitas-fasilitas yang ada juga harus dikembangkan. Meskipun pengajarnya hebat, gurunya hebat. Tapi tidak ada fasilitasnya, nggak ada speaker, nggak ada alat untuk berkomunikasi secara Bahasa Inggris maupun alat-alat penunjang lainnya, program belajar yang baik. Hal itu tidak bisa tercapai. Jadi saya merasa ini sangat dibutuhkan. SD, SMP, SMA ada di Sitaro. Tapi secara pribadi saya merasa itu kurang representatif. Sudah baik, tapi untuk bersaing di tingkat internasional itu jauh dibawah kata standard. Jadi makanya kedepan, 2030-an saya rencananya akan mengembangkan di sektor pendidikan ini. Karena sektor pendidikan ini sangat-sangat urgent sekali dan dibutuhkan untuk menunjang hal-hal seperti itu. 
 
MP: Kalau dari sisi perekonomian untuk nelayan seperti apa? Kira-kira apa yang bisa diperjuangkan?
 
NL: Jadi sekarang ini kan pak dana APBD kabupaten kita kurang lebih 600 miliyar per tahun. Paling tinggi pernah capai 800 miliyar per tahun. Angka ini kalau mau dibilang besar, sangat tidak besar. 600 miliyar per tahun itu pun dibagi dua. Biasanya setengah itu untuk belanja kepegawaian, bayar gaji, belanja kebutuhan-kebutuhan lainnya untuk perkantoran. Dan setengahnya lagi biasanya untuk pengadaan proyek ataupun pengadaan fasilitas yang ada. Nah jadi kurang lebih anggarannya cuma 300 miliar. Saya merasa kalau 300 miliar ini digunakan untuk semua kebutuhan di Kabupaten Sitaro saya sangat yakin 1000% tidak cukup. Sangat tidak cukup. Tentu harus ada yang dikorbankan. Karena uang ini cuma sedikit. Jadi untuk mencapai hal yang besar harus ada pengorbanan. Dan saya fokusnya nanti ke kesehatan, pendidikan, dan perdagangan. Nah perdagangan yang saya kembangkan, komoditi yang ada itu, ada bidang hasil bumi, yang sebagian masyarakatnya itu kurang lebih 40% itu bergantung kehidupannya itu pada hasil bumi. Seperti pala, cengkeh, kopra, fuli. Dan ada juga sebagian masyarakat yang bergantung kehidupannya pada hasil laut. Ikan dan segala macam. Nah itu yang akan saya juga perjuangkan. Mulai dari sekarang dan bahkan sampai 5 tahun kedepan. Nah untuk hasil laut sekarang ini nelayan. Saya sedang memperjuangkan untuk menambah fasilitas-fasilitas yang ada. Seperti mungkin katingting atau perahu-perahu yang ada untuk penangkapan ikan. Alat-alat yang ada yang cukup memadai. Juga saya akan memperjuangkan mengenai VMS Vessel Monitoring System. Jadi VMS ini juga sangat baik. Cuma memang VMS ini bisa disalahartikan oleh oknum-oknum yang tidak baik. Diartikan menjadi hal yang buruk, tapi sebenarnya VMS ini sangat baik karena ketika misalnya nelayan melaut di suatu tempat dan terjadi musibah di tempat itu dari daratan kita bisa tahu lokasi perahunya itu ada dimana. Jadi ketika kita mau menolong sudah tahu pasti ada dimana. Dibandingkan dengan tidak ada itu, tidak ada pelacak di alatnya itu, di daratannya, kita tidak tahu menolong pun mau menolong dimana. Lautan ini besar, lautan ini sangat luas. Jadi makanya VMS ini juga signfikan. Tapi memang ada disalahgunakan oleh beberapa orang. Takutnya itu bisa merugikan finansial mereka. Penghasilan mereka berkurang, karena mereka mungkin melaut di tempat yang bukan lokasinya mereka. Bukan seharusnya mereka berada. Lautan itu kan dibagi beberapa zona. Jadi ada lautan Sitaro, lautan Sangihe, ada lautan Bitung, ada lautan Maluku. ada lautan Halmahera Utara. Itu sudah dibagi zona-zonanya supaya masyarakat yang tinggal di daerah situ bisa menikmati hasil yang ada di daerahnya. Itu yang sedang saya perjuangkan. Saat ini saya sedang perjuangkan untuk menambah kendaraan-kendaraan seperti perahu, pajeko, seperti katingting. Supaya nelayan-nelayan disana memang bisa lebih punya alat yang kompeten pada saat menangkap ikan. Karena saat ini memang kebanyakan masih alat tradisional. 
 
MP: Mungkin pak Normans kasih statement terkait inspirasi dan motivasi pak Normans sebagai anak pulau supaya bisa menginspirasi semua warga Nusa Utara baik Kabupaten Sangihe, Kabupaten Sitaro, dan Kabupaten Talaud supaya bisa minimal mengikuti jejak pak Normans. Sejak masa kecil sampai sekarang masih bisa dikatakan politisi milenial. Sudah bisa sukses di usia 34 tahun itu seperti apa? Karena tidak banyak orang yang bisa mencapai pencapaian seperti saat ini, di bawah usia 40 tahun. Kira-kira seperti apa? Supaya bisa menjadi inspirasi dan motivasi warga Nusa Utara.
 
NL: Buat teman-teman muda yang ada di Nusa Utara, yang ada di Sitaro, Sangihe, Talaud, atau bahkan dimana saja, di Manado, di Minahasa, Tomohon, di Mitra, di Minsel, di Bitung, Minut. Kita semua tidak bisa menentukan dimana kita lahir, siapa orang tua kita, siapa mama kita, siapa papa kita. Tapi yang saya percaya adalah kesuksesan kita ke depan tidak bergantung pada siapa orang tua kita, siapa ayah kita, siapa ibu kita. Memang punya peran untuk menunjang kesuksesan. Tapi terlebih besar kesuksesan kita sendiri itu tergantung pada apa yang kita perjuangkan saat ini. Apa yang ingin kita raih di masa depan. Jangan berkecil hati ketika kita misalnya dilahirkan di pulau terpencil dimana punya banyak-banyak kendala, punya banyak-banyak halangan untuk mencapai cita-cita kita. Teruslah berjuang, jangan menyerah. Tunjukkan yang terbaik yang bisa kita berikan untuk membuktikan bahwa kita pasti bisa sukses. Dan saya percaya Tuhan kita, Tuhan Allah kita tidak tidur. Dia pasti melihat usaha kita. Dan Tuhan kita pasti akan membukakan jalan untuk kita. Sama halnya seperti yang terjadi pada saya. Saya terlahir dari keluarga yang biasa. Orang tua juga saya biasa. Orang tua saya, papa saya sempat menjadi sopir mikro di Kabupaten Sangihe. Karena pada saat itu masih Kabupaten Sangihe. Di Pulau Siau sempat menjadi supir mikro. Jadi saya tidak tahu bahwa Tuhan begitu sangat baik kepada saya. Yang saya tahu pada saat itu hanya saya belajar, saya berusaha yang terbaik untuk menjadi yang terbaik. Tapi Tuhan memberikan kesempatan yang sangat luar biasa, membukakan jalan bagi saya. Dan ketika Tuhan memberikan kesempatan itu. Tapi diri kita sendiri tidak mempunyai kapasitas untuk kesempatan itu maka pintu kesuksesan akan tertutup. Berusahalah sekeras mungkin. Sebisa yang teman-teman bisa lakukan. Belajarlah segiat mungkin. Dan sisanya berharap dan berserah pada Tuhan. Mungkin itu yang bisa saya sampaikan. (mpd)
 
 
Editor : Filip Kapantow