MANADOPOST.ID- Saat aku masih kecil, pundakmu menjadi tempat tertinggi yang pernah kujejaki.
Engkau mengangkatku tinggi, bukan hanya secara harfiah, tetapi juga dengan kasihmu yang tak pernah berhenti menopangku hingga aku dewasa.
Hari ini, di usiamu yang ke-61, bukan pelukan hangat yang bisa aku berikan, tapi doa dan ketulusan yang tak henti-henti kuangkat kepada Tuhan. Meski untuk sementara kita tak bisa bersama secara fisik, kami tahu cinta dan doa selalu menyatukan kita.
Ayah bukan manusia sempurna, tapi satu hal yang kami tahu pasti: ayah bukan orang jahat.
Tuduhan yang muncul tidak mencerminkan siapa dirimu yang sesungguhnya. Banyak yang menilai hanya dari potongan-potongan ucapan, tanpa memahami isi hati dan tujuan pelayanan yang tulus.
Kami bertumbuh dalam kasihmu, dalam keteladanan seorang pemimpin yang tegas dan disiplin karena tugas dan tanggung jawab, bukan karena keinginan untuk berkuasa.
Banyak yang tidak mengerti itu, dan kadang menilai sikap tegas sebagai arogansi.
Tapi kami tahu – dan banyak yang mengenalmu tahu – bahwa kasih selalu menjadi dasar dari setiap tindakanmu.
Pernahkah ayah menyimpan dendam pada mereka yang membenci? Tidak pernah.
Justru kami yang menyaksikan bagaimana engkau tetap mengasihi mereka yang mencaci.
“Kakak jangan karue mo ba nilai begitu pa dorang,” ucapmu sering kali, mengingatkan kami untuk tidak mudah menghakimi orang lain.
Kami tahu, menjadi pemimpin bukan hanya soal menerima pujian, tapi juga kesiapan menerima kritik.
Ayah telah menjalani semuanya. Dan dalam masa ini, justru kami semakin mengerti arti iman. Kami memilih untuk memaafkan, karena kami percaya Tuhan tetap memegang kendali atas hidup ini.
Selamat ulang tahun, Ayah.
Apa pun yang Tuhan izinkan terjadi hari ini, kami percaya satu hal: Tuhan itu baik.
Dan selama itu pula, kami akan tetap berdoa, tetap setia, dan tetap mencintaimu dengan segenap hati.
Aku berjanji akan selalu menjaga keluarga kita, seperti yang selama ini Ayah ajarkan kepadaku.
Dengan cinta,
Kristy
(*)
Editor : Gregorius Mokalu