MANADOPOST.ID—Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) masih menghadapi berbagai tantangan serius. Mulai dari keterbatasan akses transportasi, distribusi pangan yang belum merata, hingga dukungan operasional di daerah terpencil menjadi hambatan utama dalam menjalankan program pemerintah tersebut secara maksimal.
Kondisi geografis yang sulit dijangkau membuat penerapan program MBG di sejumlah wilayah membutuhkan strategi berbeda dibandingkan daerah perkotaan. Selain persoalan rantai pasok bahan pangan, pengelolaan dapur dan kesiapan sumber daya manusia juga dinilai menjadi faktor penting dalam keberhasilan program pangan bergizi nasional tersebut.
Situasi ini kemudian mendorong lahirnya Asosiasi Pangan Gizi Indonesia Daerah Tertinggal Terluar dan Terdepan atau APGI 3T. Organisasi tersebut dibentuk untuk membantu memperkuat pelaksanaan program MBG, khususnya di wilayah dengan tantangan geografis dan keterbatasan akses distribusi.
Sekretaris Jenderal APGI 3T, Gardian Muhammad, mengatakan pihaknya ingin memastikan program Makan Bergizi Gratis di daerah terpencil tidak hanya berjalan dalam jangka pendek, tetapi juga mampu berkelanjutan dan tepat sasaran.
“Fokus utama kami adalah memastikan Program Makan Bergizi Gratis di wilayah terpencil tidak hanya berjalan, tetapi juga berkelanjutan, tepat sasaran, dan mampu menjangkau masyarakat di wilayah paling sulit sekalipun,” ujar Gardian.
Menurutnya, daerah 3T memiliki tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan wilayah perkotaan. Karena itu, pendekatan pelaksanaan program juga harus disesuaikan dengan kondisi lapangan agar distribusi pangan bergizi dapat berjalan efektif.
Gardian menjelaskan, penguatan dapur MBG akan menjadi salah satu prioritas utama organisasi tersebut. Dapur MBG dinilai memiliki peran penting sebagai pusat distribusi pangan sekaligus sarana pemberdayaan masyarakat lokal.
“Penguatan dapur MBG, peningkatan efisiensi distribusi, serta konsolidasi investor menjadi prioritas utama ke depan,” katanya.
Saat ini, APGI 3T mencatat sekitar 1.200 investor telah terlibat dalam mendukung pelaksanaan program MBG di wilayah terpencil. Meski demikian, pihaknya menilai kolaborasi lintas sektor tetap menjadi kunci agar program dapat berjalan lebih stabil dan berkesinambungan.
Selain memperkuat sistem distribusi pangan, APGI 3T juga berencana meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pengelola dapur MBG serta membangun sistem monitoring berbasis data lapangan. Langkah tersebut diharapkan mampu membantu pemerintah dalam melakukan evaluasi dan pengawasan pelaksanaan program di daerah terpencil.
Gardian menilai keberhasilan program Makan Bergizi Gratis tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari kemampuan pemerintah dan seluruh pihak terkait dalam memastikan distribusi berjalan merata hingga wilayah paling sulit dijangkau.
Ia menegaskan bahwa wilayah 3T harus menjadi perhatian utama dalam penguatan sistem pangan dan gizi nasional. Sebab, masyarakat di daerah terpencil juga memiliki hak yang sama untuk memperoleh akses pangan bergizi dan layanan yang layak.
“Karena itu, wilayah 3T perlu menjadi perhatian dalam penguatan sistem pangan dan gizi nasional,” tegasnya.(*)
Editor : Angel Rumeen