MANADOPOST.ID—Upaya mendorong sektor health tourism atau wisata kesehatan di Sulawesi Utara terus menunjukkan perkembangan positif. Salah satu rumah sakit yang aktif mengambil peran dalam pengembangan sektor tersebut adalah Sentra Medika Hospital Minahasa Utara (Minut).
Rumah sakit ini menilai pengembangan wisata kesehatan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi antara fasilitas kesehatan, pemerintah, hingga sektor pariwisata.
Direktur Sentra Medika Hospital Minut, dr. Ivan Wijaya Widiatomo, MARS mengatakan, langkah utama yang kini dilakukan pihaknya adalah memperkuat kualitas pelayanan melalui kesiapan infrastruktur dan fasilitas kesehatan yang memadai. Menurutnya, kesiapan sarana menjadi pondasi penting untuk menghadirkan layanan kesehatan yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Ia menjelaskan, salah satu keunggulan utama yang dimiliki Sentra Medika Hospital Minut adalah lokasi rumah sakit yang sangat strategis. Rumah sakit tersebut hanya berjarak sekitar 15 hingga 20 menit dari Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado. Kondisi ini dinilai memberikan kemudahan akses bagi pasien dari luar daerah maupun luar negeri.
“Dari sisi infrastruktur, kami sudah siapkan secara matang. Akses yang dekat dengan bandara menjadi nilai tambah, terutama bagi pasien dari luar daerah,” ujar dr. Ivan.
Tak hanya fokus pada layanan medis, pihak rumah sakit juga mulai mengembangkan konsep pelayanan kesehatan terintegrasi. Salah satunya dengan menghadirkan fasilitas hotel yang terkoneksi langsung dengan rumah sakit dalam satu kawasan bangunan. Konsep ini diharapkan dapat memberikan kenyamanan tambahan bagi pasien dan keluarga yang menjalani pengobatan dalam jangka waktu tertentu.
Menurut dr. Ivan, konsep tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan health tourism modern. Sebab, pasien yang datang dari luar daerah biasanya membutuhkan fasilitas pendukung yang nyaman, aman, dan mudah dijangkau selama menjalani proses pemulihan kesehatan.
Selain memperkuat fasilitas fisik, Sentra Medika Hospital Minut juga menaruh perhatian besar pada pembangunan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan di Indonesia. dr. Ivan menilai masih banyak masyarakat yang memilih berobat ke luar negeri karena faktor kepercayaan dan persepsi kualitas layanan.
Padahal, jika dilihat dari sisi geografis, akses menuju beberapa negara tujuan berobat dinilai tidak selalu lebih mudah dibandingkan datang ke Sulawesi Utara. Karena itu, pihaknya ingin membangun keyakinan bahwa layanan kesehatan di dalam negeri juga mampu memberikan pelayanan berkualitas tinggi.
“Kita ingin orang Indonesia percaya dulu bahwa layanan kesehatan di dalam negeri mampu dan berkualitas. Kalau trust itu sudah terbentuk, maka secara alami akan menarik minat pasien dari luar negeri,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengembangan wisata kesehatan membutuhkan proses jangka panjang dan tidak bisa dilakukan secara instan. Sentra Medika Hospital Minut memilih fokus membangun citra layanan dan kualitas sistem kesehatan terlebih dahulu sebelum melakukan promosi besar-besaran.
Menurutnya, strategi tersebut penting agar masyarakat benar-benar merasa yakin terhadap kemampuan fasilitas kesehatan yang ada di Sulawesi Utara. Termasuk dalam penanganan kondisi medis yang membutuhkan pelayanan cepat dan profesional.
“Kalau kita langsung memasarkan tanpa ada trust, produk sebagus apa pun akan sulit diterima. Maka yang utama adalah menjaminkan bahwa sistem kesehatan kita mampu menangani berbagai kondisi, termasuk situasi yang tidak diharapkan,” tambahnya.
Potensi besar Sulawesi Utara sebagai destinasi wisata juga dinilai menjadi kekuatan tambahan dalam pengembangan health tourism. Keindahan alam, destinasi wisata bahari, hingga keramahan masyarakat menjadi modal penting untuk menarik wisatawan sekaligus pasien dari berbagai daerah.
Karena itu, kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi faktor penentu keberhasilan. Keterlibatan pemerintah, pelaku industri pariwisata, dan fasilitas kesehatan diharapkan mampu menciptakan ekosistem wisata kesehatan yang kuat dan berkelanjutan di Sulawesi Utara.
Editor : Angel Rumeen