MANADOPOST.ID–Ada momen menarik saat Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus meresmikan Unit Pelayanan Dialisis (Hemodialisis) RS Manembo-nembo (RSMN) Bitung, Senin (6/7).
Di tengah sambutannya, gubernur yang sering disebut YSK itu, tiba-tiba menghentikan pidato. Pandangannya mengarah kepada Direktur RSMN Bitung, Dr. dr. Nicolas Chally Tirayoh, M.Kes., FISQua.
Kalimat yang keluar spontan itu langsung mengundang tepuk tangan tamu undangan.
"Berikut kamu Kadis Kesehatan ya?"
Suasana semakin cair ketika gubernur kembali melanjutkan ucapannya.
"Kamu masih muda. Mau jadi Kadis Kesehatan Provinsi Sulut? Tunggu ibu pensiun dulu ya," kata YSK sembari menunjuk Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulut yang turut hadir.
Ucapan itu memang dibalut canda. Namun bagi banyak orang yang mengikuti perkembangan RS Manembo-nembo beberapa tahun terakhir, pernyataan tersebut dinilai bukan tanpa alasan.
Di bawah kepemimpinan dr Chally Tirayoh, rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara itu berubah cukup signifikan. Berbagai pembenahan dilakukan, mulai dari peningkatan kualitas pelayanan, penguatan sumber daya manusia, digitalisasi sistem, hingga menghadirkan layanan-layanan baru yang sebelumnya belum dimiliki.
Tak heran jika dalam waktu belum genap setahun, Gubernur YSK sudah dua kali mengunjungi RS Manembo-nembo. Kunjungan pertama untuk melihat langsung perkembangan rumah sakit, sedangkan kunjungan kedua meresmikan Unit Pelayanan Dialisis yang menjadi kebutuhan mendesak masyarakat Bitung dan wilayah sekitarnya.
Berangkat dari Puskesmas
Karier Chally tidak dibangun dari ruang birokrasi.
Dokter kelahiran 23 Agustus 1982 itu mengawali pengabdian sebagai kepala Puskesmas Kema, Kabupaten Minahasa Utara. Selama hampir enam tahun, ia dikenal aktif turun ke masyarakat, terutama melayani warga pesisir dan nelayan yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan.
Pengabdian tersebut mengantarkannya meraih penghargaan Tenaga Kesehatan Teladan Tingkat Nasional dari Kementerian Kesehatan.
Pengalaman itulah yang kemudian membentuk karakter kepemimpinannya ketika dipercaya memimpin RS Manembo-nembo sekitar empat tahun lalu.
Mengubah Rumah Sakit dari Pelayanan
Saat pertama menjabat, kondisi rumah sakit masih menghadapi berbagai tantangan. Kepercayaan masyarakat belum maksimal, sejumlah layanan belum tersedia, dan sistem pelayanan masih perlu dibenahi.
Chally memilih memulai perubahan dari budaya kerja.
Digitalisasi melalui Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) diperkuat. Budaya pelayanan dibangun melalui semangat Care and Trust, sementara peningkatan mutu layanan menjadi fokus utama.
Perlahan hasilnya mulai terlihat.
Jumlah pasien terus meningkat. Layanan spesialis bertambah. Pendapatan rumah sakit ikut tumbuh. Kepercayaan masyarakat pun semakin tinggi.
Puncaknya tahun ini, RS Manembo-nembo berhasil menghadirkan Unit Pelayanan Dialisis (Hemodialisis).
Selama bertahun-tahun, pasien gagal ginjal di Bitung harus bolak-balik ke Manado dua hingga tiga kali setiap pekan hanya untuk menjalani cuci darah. Kini pelayanan tersebut sudah tersedia di kota sendiri.
Kepuasan Pasien Jadi Prioritas
Bagi Chally, keberhasilan rumah sakit tidak semata diukur dari besarnya pendapatan.
"Rumah sakit ini bukan dibangun untuk mengejar pendapatan semata. Yang paling penting bagaimana masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang cepat, mudah, aman, dan berkualitas. Kalau pasien puas, kepercayaan masyarakat akan datang dengan sendirinya," ujarnya.
Menurutnya, menghadirkan layanan hemodialisis merupakan salah satu target yang sejak lama ingin diwujudkan.
"Kami melihat sendiri bagaimana beratnya perjuangan pasien gagal ginjal beserta keluarganya. Karena itu, layanan ini bukan sekadar penambahan fasilitas, tetapi jawaban atas kebutuhan masyarakat yang sudah lama dinantikan," katanya.
Ia menegaskan inovasi pelayanan akan terus dilakukan agar masyarakat tidak perlu lagi keluar daerah untuk mendapatkan layanan kesehatan berkualitas.
Tetap Rendah Hati
Meski mendapat apresiasi langsung dari Gubernur Sulut, Chally memilih tetap merendah.
"Saya mengucapkan terima kasih atas apresiasi Bapak Gubernur. Bagi saya, setiap amanah harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Saat ini fokus saya tetap memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat melalui RS Manembo-nembo," katanya.
Di luar aktivitas sebagai direktur rumah sakit, Chally juga aktif melayani di GMIM Yesus Memberkati Citraland sebagai Pelayan Khusus (Pelsus) dan anggota Badan Pekerja Majelis Jemaat (BPMJ).
Ia didampingi sang istri, dr. Anastasya Runtunuwu, Sp.PD, dokter spesialis penyakit dalam. Pasangan ini dikaruniai dua putra, Lucas dan Caleb.
Ucapan spontan YSK boleh jadi hanya candaan. Namun di balik kalimat singkat itu tersirat sebuah pengakuan: transformasi yang dilakukan Chally Tirayoh di RS Manembo-nembo berhasil menarik perhatian gubernur.
Dan itu lahir dari rekam jejak panjang, mulai sebagai dokter puskesmas, peraih penghargaan tenaga kesehatan teladan nasional, hingga sukses membawa rumah sakit daerah terus berkembang.(gnr)
Editor : Grand Regar