MANADOPOST.ID- Sejumlah penelitian kardiologi menunjukkan bahwa kondisi emosional seseorang, mulai dari kemarahan hingga rasa syukur, memiliki dampak nyata terhadap kesehatan jantung, menurut dr. Harvey Hahn, Direktur Program Pelatihan Fellowship Kardiovaskular di Kettering Medical Center, Ohio, dalam tulisannya di Life and Health Network.
Menurut Hahn, satu studi besar yang meninjau berbagai faktor risiko kardiak menemukan bahwa kemarahan secara akut dapat meningkatkan risiko serangan jantung hingga 200-300 persen, dengan efek yang bertahan sekitar satu jam setelah ledakan emosi tersebut.
Riset terpisah dari Harvard T.H. Chan School of Public Health pada 2014 turut menemukan risiko serangan jantung meningkat sekitar lima kali lipat dalam dua jam setelah ledakan amarah, sementara studi Columbia University Irving Medical Center yang terbit di Journal of the American Heart Association pada 2024 mengaitkan kemarahan dengan gangguan fungsi pembuluh darah yang dapat memicu risiko jangka panjang.
Hahn turut mengutip studi Universitas Pennsylvania yang dipublikasikan di jurnal Psychological Science, yang melacak pola emosi negatif di platform Twitter dan membandingkannya dengan peta angka kematian dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat.
Studi yang dipimpin peneliti Johannes Eichstaedt tersebut menemukan bahwa semakin banyak cuitan bernada negatif yang berasal dari suatu wilayah, semakin tinggi pula tingkat kematian akibat penyakit jantung di wilayah tersebut, sementara ungkapan emosi positif berkaitan dengan risiko yang lebih rendah.
Di sisi lain, sikap bersyukur disebut Hahn membawa dampak positif bagi kesehatan jantung, merujuk pada riset dr. Paul Mills dari University of California, San Diego, yang menemukan orang-orang dengan rasa syukur tinggi cenderung mengalami depresi dan kecemasan lebih rendah serta kualitas tidur yang lebih baik.
Lebih jauh, penelitian Mills juga menemukan bahwa orang yang bersyukur memiliki kadar penanda peradangan (inflammatory markers) yang lebih rendah dan kondisi kesehatan jantung yang secara keseluruhan lebih baik dibanding mereka yang tidak.
Hahn menyarankan pembaca mempraktikkan rasa syukur secara sederhana, misalnya dengan mengganti pola pikir "saya harus melakukan ini" menjadi ungkapan syukur karena masih bisa melakukan hal tersebut, serta menyarankan kebiasaan menulis jurnal syukur.
Selain syukur, sikap memaafkan juga disebut memberikan manfaat serupa bagi jantung, merujuk pada penelitian Florida State University yang menemukan orang yang secara aktif memaafkan orang lain memiliki detak jantung dan tekanan darah yang lebih rendah, serta fungsi jantung yang lebih baik.
Sebuah studi lain yang membandingkan langsung kelompok perempuan yang menyimpan kepahitan dengan kelompok yang bersikap pemaaf menemukan perbedaan signifikan pada tonus saraf simpatik, detak jantung, tekanan darah, hingga kekakuan arteri di antara keduanya.
Menurut studi tersebut, kelompok yang bersikap pemaaf secara konsisten menunjukkan angka-angka kardiovaskular yang jauh lebih baik dibandingkan kelompok yang menyimpan amarah, menurut paparan Hahn dalam artikelnya.
Hahn menekankan bahwa mengubah kebiasaan emosional seperti bersikap baik, bersyukur, dan memaafkan sebenarnya lebih sulit dilakukan dibandingkan sekadar mengubah pola makan atau memulai rutinitas olahraga, karena menyangkut perubahan cara berpikir secara mendasar.
Tulisan ini merupakan bagian dari seri konten kesehatan emosional dan spiritual yang dipublikasikan Life and Health Network, organisasi nirlaba 501(c)(3) yang berbasis di Lincoln, California.
Editor : ALengkong