Studi terbaru yang dilakukan tim peneliti dari University of Queensland, Australia, menemukan bahwa bawang bombai menjadi satu-satunya makanan di antara 140 jenis makanan yang dianalisis, yang secara konsisten menunjukkan keterkaitan dengan tekanan darah lebih rendah. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal BMC Medicine ini juga mengungkap bahwa individu dengan kecenderungan genetik menyukai bawang bombai memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2.
Alih-alih hanya mengamati kebiasaan makan seseorang, tim peneliti memfokuskan analisis pada gen yang berkaitan dengan indera perasa dan penciuman untuk memahami hubungan antara makanan dan penyakit kronis. Pendekatan ini dipilih karena menentukan apakah suatu makanan tertentu benar-benar menyebabkan atau sekadar berkaitan dengan penyakit tertentu selama ini menjadi tantangan besar dalam riset epidemiologi nutrisi.
Metodologi Berbasis Gen Perasa dan Penciuman
Dr. Liang-Dar Hwang dari Institute for Molecular Bioscience, University of Queensland, menjelaskan bahwa timnya mengembangkan kerangka kerja berbasis gen perasa dan penciuman untuk membantu ilmuwan memahami bagaimana pola makan berkontribusi terhadap penyakit kronis. "Determining if a specific food causes or is linked to a disease is a significant challenge in nutrition epidemiology," kata Hwang, sebagaimana dikutip dari pernyataan resminya.
Hwang menambahkan bahwa indera perasa dan penciuman merupakan pendorong biologis utama yang memengaruhi pilihan makanan seseorang. Memahami bagaimana gen tersebut membentuk pilihan makanan dapat membantu peneliti memisahkan hubungan sebab-akibat dari sekadar korelasi semata dalam riset kesehatan.
Analisis Data dari 160.000 Orang Dewasa
Tim peneliti menganalisis data dari lebih dari 160.000 orang dewasa berusia 37 hingga 73 tahun yang terdaftar dalam basis data UK Biobank di Inggris. Mereka memeriksa lebih dari 1.200 varian genetik pada 325 gen terkait indera perasa dan penciuman, kemudian membandingkannya dengan preferensi dan konsumsi terhadap 140 jenis makanan yang berbeda.
Hasil temuan tersebut kemudian diuji kembali pada kelompok usia yang lebih muda dari studi Avon Longitudinal Study of Parents and Children guna memastikan konsistensi pola genetik yang ditemukan di seluruh kelompok usia. Para peneliti turut menggunakan metode statistik bernama Mendelian Randomization, yang memanfaatkan perbedaan genetik alami antarindividu untuk membantu membedakan hubungan sebab-akibat dari sekadar korelasi dalam riset kesehatan.
Pendekatan ini dinilai mampu mengurangi bias dibandingkan studi nutrisi tradisional yang sangat bergantung pada ingatan dan laporan pribadi partisipan mengenai pola makan mereka. Hwang menyebut bahwa metode serupa sebelumnya juga telah digunakan untuk meneliti kopi, anggur, dan susu, sehingga pendekatan berbasis gen ini bukan hal baru dalam riset nutrisi berbasis genetik.
Bawang Bombai Jadi Satu-Satunya Makanan yang Konsisten
Dari 140 jenis makanan yang dianalisis, bawang bombai menjadi satu-satunya makanan yang menunjukkan hasil konsisten di seluruh tahap verifikasi penelitian. Individu dengan kecenderungan genetik menyukai bawang bombai tercatat memiliki tekanan darah sistolik dan diastolik yang lebih rendah, serta risiko lebih kecil terkena diabetes tipe 2 dibandingkan mereka yang tidak memiliki kecenderungan genetik serupa.
Konsistensi hasil ini mencakup replikasi temuan pada kelompok usia yang lebih muda serta keselarasan dengan jumlah konsumsi bawang bombai yang sebenarnya dilaporkan oleh partisipan. Sementara makanan lain juga menunjukkan asosiasi genetik yang kuat, hanya bawang bombai yang berhasil bertahan konsisten di setiap tahap pemeriksaan yang dilakukan tim peneliti.
Bukan Ajakan untuk Konsumsi Berlebihan
Meski demikian, para penulis studi menegaskan bahwa temuan ini bukan berarti masyarakat harus mengonsumsi bawang bombai dalam jumlah besar untuk menurunkan tekanan darah. Rekomendasi pola makan saat ini tetap menganjurkan diet seimbang yang kaya sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta protein rendah lemak, sembari membatasi konsumsi garam tambahan, gula, dan lemak jenuh.
Pola makan Dietary Approaches to Stop Hypertension atau DASH tetap menjadi salah satu pendekatan diet yang paling banyak diteliti untuk menurunkan tekanan darah, dengan menekankan variasi sayuran termasuk bawang bombai sebagai bagian dari pola makan sehat secara keseluruhan. Bagi yang memang sudah menyukai bawang bombai, makanan ini bisa menjadi cara lezat menambah asupan sayuran, namun tidak dapat menggantikan obat tekanan darah maupun kebiasaan hidup sehat yang telah terbukti secara medis.
Hwang menegaskan bahwa penelitian timnya menunjukkan gen perasa dan penciuman merupakan alat yang menjanjikan untuk mempelajari hubungan antara pola makan dan penyakit, sekaligus dapat memperkuat bukti sebab-akibat dalam riset nutrisi. Ia menambahkan bahwa pemahaman lebih baik mengenai bagaimana pola makan memengaruhi penyakit seperti diabetes, penyakit jantung, dan kanker menjadi kebutuhan mendesak dalam dunia kesehatan saat ini.
Para peneliti menegaskan bahwa studi berskala lebih besar dan mencakup populasi yang lebih beragam masih dibutuhkan sebelum kesimpulan definitif dapat ditarik dari temuan awal ini. Meski begitu, hasil penelitian ini menjadi langkah awal yang menjanjikan dalam upaya memahami secara lebih mendalam bagaimana preferensi makanan berbasis genetik dapat memengaruhi risiko penyakit kronis di masa mendatang.
Editor : ALengkong