Bahaya Retinopati Diabetik, Gangguan Penglihatan pada Penyandang Diabetes yang Kerap Diabaikan

ALengkong • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 11:31 WIB
ilustrasi seorang pria yang sedang melakukan pemeriksaan mata di sebuah klinik kesehatan atau optik.
Ilustrasi seorang pria yang sedang melakukan pemeriksaan mata di sebuah klinik kesehatan atau optik.

MANADOPOST.ID - Gangguan penglihatan pada lansia dengan diabetes kerap dianggap sebagai hal yang wajar oleh masyarakat. Padahal, penurunan fungsi penglihatan tersebut bisa menjadi komplikasi diabetes yang berisiko berujung pada kebutaan permanen. Diabetes yang tidak terkontrol dapat memicu kerusakan pembuluh darah di seluruh tubuh, termasuk pada organ penglihatan.

Dalam Forum Jurnalis Kesehatan di Jakarta, Prof. Em Yunir, Sp.PD-KEMD menjelaskan bahwa diabetes tidak datang sendiri saat menyerang tubuh. Penyakit kronis ini kerap disertai kondisi lain seperti kolesterol tinggi, obesitas, dan hipertensi. Berbagai faktor tersebut memperparah kerusakan pembuluh darah, mulai dari memicu retinopati diabetik hingga menyumbang sekitar 20–30 persen kasus pasien cuci darah.

Meski menjadi salah satu komplikasi yang paling sering terjadi, retinopati diabetik justru jarang dibahas secara terbuka. Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Epi, Ph.D., Sp.M. menilai adanya normalisasi yang keliru di masyarakat. Banyak yang menganggap gangguan penglihatan pada usia tua akibat diabetes sebagai hal biasa, padahal ancaman kebutaan sebenarnya dapat dicegah sejak dini.

Prof. Bayu juga menjelaskan bahwa retinopati diabetik pada tahap awal umumnya tidak menunjukkan gejala yang khas. Keluhan baru dirasakan saat kondisi sudah memasuki tahap lanjut. Gejalanya pun muncul secara perlahan, sehingga sering tidak disadari oleh pasien.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain penurunan kualitas penglihatan, warna yang tampak lebih pudar, munculnya bintik hitam, penglihatan berbayang, hingga kesulitan melihat di tempat gelap atau pada malam hari.

Kerusakan pembuluh darah di bagian belakang mata terjadi secara bertahap dan sering tidak disadari, terutama dalam lima tahun pertama sejak diagnosis diabetes. Karena itu, masyarakat—khususnya penyandang diabetes—diimbau untuk tidak menunda skrining mata demi menjaga kesehatan penglihatan.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, menyatakan bahwa pemerintah telah mendorong deteksi dini melalui program cek kesehatan gratis, termasuk pemeriksaan kadar gula darah di fasilitas kesehatan.

Pemerintah juga tengah mengupayakan integrasi layanan agar pasien diabetes dapat melakukan skrining retina langsung di Puskesmas. Langkah ini diharapkan dapat memperluas akses deteksi dini di berbagai daerah.

Namun, upaya tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan jumlah dan distribusi dokter spesialis mata yang belum merata. Selain itu, fasilitas kesehatan tingkat primer juga belum memiliki program skrining retinopati diabetik yang berjalan optimal.

Kendala lain adalah keterbatasan sarana penunjang, seperti kurangnya alat diagnostik berupa kamera retina atau fundus camera. Pemerintah bersama berbagai pihak terus berupaya mengatasi hambatan ini guna menekan angka kebutaan akibat komplikasi diabetes di Indonesia.

Editor : ALengkong
kementerian kesehatan kesehatan mata diabetes